Suara.com - Lahan kosong seluas hampir 100 meter persegi, di tengah permukiman elit Casa Goya di kawasan Kebon Jeruk Jakarta Barat itu tampak hijau oleh berbagai tanaman sayuran. Sejumlah rumah yang belum selesai dibangun, mengapit kebun mungil itu.
Ditingkahi angin sepoi, belasan orang tampak tekun merawat tanaman terung, jeruk santang, jeruk bali, jeruk limau, cabai, pakcoy. Ada yang sedang mencabuti rumput, menyiram atau menggemburkan tanah. Salah satunya asyik memanen pakcoy.
Itulah kegiatan rutin mingguan para pecinta tanaman di Ibukota, yang bergabung dalam Komunitas Jakarta Berkebun! Komunitas Jakarta Berkebun merupakan naungan dari Komunitas Indonesia Berkebun yang sudah merambah ke sekitar 27 kota dan empat kampus di Indonesia.
Komunitas ini terkenal dengan gerakan kepedulian lingkungan perkotaan melalui program urban farming. Urban farming menurut Erin Cita Rahayu, salah satu penggiat Komunitas Jakarta Berkebun, adalah upaya untuk memanfaatkan lahan tidur di kawasan perkotaan menjadi lahan pertanian atau perkebunan produktif. Dan ini dapat dilakukan oleh masyarakat sekitar.
"Kami menggunakan lahan nonproduktif atau lahan kosong yang belum dimanfaatkan. Untuk di Jakarta sendiri, kami sudah dua kali memanfaatkan lahan kosong. Yang pertama di daerah Kemayoran, dan sekarang yang sedang kami urus adalah di daerah Casa Goya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat," ujar Erin pada suara.com beberapa waktu lalu.
Erin mengakui, cukup sulit mencari lahan untuk bercocok tanam di Jakarta. Belum lagi kondisi cuaca yang tak menentu dan polusi yang harus diatasi ketika ingin bercocok tanam di Jakarta. Tapi semua ini tak menyurutkan semangat anggota Komunitas ini untuk menyalurkan hobinya. Setiap minggu, anggota komunitas yang jumlahnya kurang lebih 40 orang ini, secara bergiliran meluangkan waktu untuk merawat kebun mereka.
Erin bercerita, banyak "aktivitas-aktivitas hijau" yang dibagi di sini. Mulai dari berbagi ilmu bercocok tanam, menanam bibit, menyiram tanaman hingga menangani hasil panen.
Menurutnya ada keasyikan tersendiri ketika merawat semua tanaman ini. Bagaimana melihatnya tumbuh besar dan secara berangsur berbunga dan berbuah, dan siap dipanen. "Puas rasanya ketika melihat tanaman kita berbuah," ujar Erin sambil menyiram tanaman terung.
"Biasanya kalau sudah musim panen, kami berkumpul dan masak-masak bareng di sini. Selain itu, kita juga bisa membawa pulang hasil kebunnya. Kalau lagi banyak, kami jual atau kami bagikan ke warga sekitar juga," cerita Erin.
Tak hanya di lahan perkebunan, ternyata beberapa anggota Komunitas Jakarta Berkebun juga memiliki kebun pribadi di rumah mereka seperti Erin. Bahkan ada anggota Jakarta Berkebun yang bercocok tanam di kost-kostan mereka.
Erin mengaku, selain menyenangkan bisa melepaskan penat dari kegiatan rutin hari-hari, memiliki kebun di rumah juga bisa menghemat uang belanja dapur. Karena hampir semua tanaman yang ia tanam, bisa dimanfaatkan untuk masakan. Seperti pak coy, terong, cabai, kangkung, hingga daun singkong.
Menurut Erin, siapapun bisa berkebun di rumah masing-masing, meski lahan yang tersedia sangat terbatas. "Kalau tidak memiliki lahan luas di rumah, bisa pakai pot, poly bag, kaleng bekas, plastik yang dilubangi. Bahkan beberapa anggota Komunitas Jakarta Berkebun yang tinggal di kost-kostan saja bisa kok bertanam," katanya.
Sebagai permulaan, lanjut Erin, tanaman kangkung adalah tanaman yang tepat untuk mencoba kegiatan bercocok tanam. "Karena kangkung itu mudah perawatannya. tidak memerlukan perawatan ektra. 20 hari sudah bisa panen. Nanti kalau sudah berhasil, bisa lanjut yang lain. Untuk tips-tips bertanam dan tanya jawab, kami biasanya berbagi melalui twitter @JktBerkebun juga," ujar Erin. Jadi mari kita kembali berkebun.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Roy Suryo Ditangkap di Bintaro Terkait Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Sempat Diancam Borgol
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Beda Sepatu Lari dan Sepatu Jalan Kaki, Jangan Sampai Keliru Memilihnya
-
Concealer untuk Mata Panda Warna Apa? Ini Tips Memilih dan 5 Rekomendasinya
-
5 Jenis Pompa Air Sesuai Kedalaman Sumur, Ketahui agar Tidak Salah Beli
-
Apakah Pompa Air Boleh Nyala Terus? Ini Cara Merawat yang Benar agar Awet
-
4 Kipas Angin Hemat Listrik yang Sejuk dan Ramah Tagihan Bulanan, Andalan saat Cuaca Panas
-
7 Jersey Original Murah Piala Dunia 2026: Mulai Rp300 Ribuan, Asli Adidas dan Nike!
-
4 Rekomendasi Sepatu Lari Lokal Cushion Empuk, Melindungi Lutut Pelari Big Size
-
3 Sunscreen di Bawah Rp20 Ribu dengan SPF Tinggi, Anti-Kantong Kering In This Economy
-
Daftar Pertanyaan Sensus Ekonomi 2026: Petugas BPS Datangi Rumah, Tanya Gaji dan Usaha
-
3 Pilihan Sepatu Lari Brodo: Kualitas Jempolan, Cocok untuk Pemula hingga Profesional