Suara.com - Bau harum tercium begitu masuk Gedung Pertemuan Desa Macang Sakti, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Meja berjejeran sejajar berhadapan di ruangan besar itu. Di atas meja ada kompor gas, penggorengan dan berbagai peralatan masak.
Desa itu tengah menggelar kontes memasak yang diikuti 12 kelompok. Masing-masing kelompok berjumlah 4 orang ibu-ibu dan perempuan muda. Syaratnya, bahan baku masakan harus berbahan dasar singkong.
Ketua Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Noni mengatakan acara itu digelar untuk kampanye pemanfaatan umbi-umbian seperti singkong untuk dijadikan bahan baku masakan. Sebab Desa Macag Sakti salah satu penghasil singkong terbesar.
"Di sini, ibu-ibunya hanya membuat singkong itu digoreng dan direbus, lainnya dibuat keripik. Singkong masih dilihat sebagai makanan tambahan," kata Cik Noni yang juga istri dari kepala desa tersebut. Acara itu digelar oleh Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) bekerjasama dengan desa setempat.
Sore itu, sudah masuk ke penjurian. Ke-12 perseta tampak memasang muka tegang berkerut. Jajaran makanan dikumpulkan dalam beberapa meja kayu panjang yang disusun berjejeran.
Tampak di sana disajikan makanan 'tak lazim' seperti 'umbi panggang setoyul', 'brownis singkong', 'bolu singkong', 'ice cream ubi kayu setoyul', dan sebagainya. Minuman dan makanan yang terbuat dari umbi-umbian itu meriah disajikan di atas piring dan gelas.
Kontes memasak resep baru itu dimenangkan kelompok 9. Mereka embuat brownies singkong dan puding singkong. Salah satu anggota kelompok itu, Heni cerita resep itu hasil kreasi sediri. Idenya membbaca dari buku resep.
"Kami latihan dulu ini. Gagal beberapa kali. Sempat kuenya jadi keras karena singkong yang sudah digiling tidak benar-benar kering. Tidak diperas," cerita Heni.
Heni senang bisa menang. Dia berniat untuk membuat kue ini karena dia mengklaim banyak yang suka.
"Boleh juga kalau ini dijual. Lumayan," tutupnya.
Noni mengatakan inovasi kuliner di desanya sangat minim. Warga hanya bisa membuat makanan sederhana tanpa menggunakan bahan-bahan 'modern'. Misalnya singkong, warga hanya memasaknya dengan cara digoreng atau direbut tanpa mengolahnya lebih rumit. Menurutnya, itu semua karena akses dan fasilitas desa tidak memadai.
"Di sini ada yang jual tepung, tapi nggak ada yang memanfaatkan untuk membuat makanan lebih bervariasi," kata Noni.
Noni mengatakan warganya butuh pelaihan untuk menambah keterampilan. "Biar suami lebih betah dan makan di rumah kan," katanya sambil tertawa.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas yang Nyaman untuk Lansia, Legroom Lega dan Irit BBM
- 7 Mobil Bekas untuk Grab, Mulai Rp50 Jutaan: Nyaman, Irit dan Tahan Lama!
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
Pilihan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
-
Purbaya Merasa "Tertampar" Usai Kena Sindir Prabowo
-
Darurat Judi Online! OJK Blokir 31.382 Rekening Bank, Angka Terus Meroket di Awal 2026
Terkini
-
Kapan Idul Fitri 2026? Cek Jadwal Versi Muhammadiyah, Pemerintah, dan NU
-
Jadi Tren Lebaran 2026, Baju Teal Blue dan Ash Blue Cocok dengan Warna Apa?
-
5 Rekomendasi Baju Lebaran 2026 Couple, Apa Warna Terbaik?
-
Siapa Nama Asli Aura Kasih? Bikin Kepo Tiba-Tiba Ganti Bio Instagram Jadi 'Febria'
-
7 Minyak Kemiri untuk Rambut Kering dan Kusut, Ampuh Hempaskan Ketombe
-
Ramalan Shio Paling Hoki Besok 10 Januari 2026, Cek Keberutunganmu di Akhir Pekan!
-
Sunscreen Apa yang Bagus untuk Atasi Flek Hitam di Usia 50-an? Cek 7 Pilihan Terbaiknya
-
5 Semir Rambut Tanpa Bleaching untuk Tutupi Uban, Aman Buat Lansia
-
Rahasia Rambut Sehat ala Jepang: Ritual Onsen Kini Hadir di Klinik Estetika Jakarta!
-
5 Sunscreen yang Cocok untuk Kulit Kering Usia 50 Tahun, Bantu Kurangi Penuaan