Lifestyle / Komunitas
Senin, 11 November 2019 | 23:20 WIB
Ilustrasi sampah bekas pakai. (Shutterstock)

Suara.com - Tantangan Indonesia dalam Mengelola Kemasan Bekas Pakai

Sampah plastik masih menjadi masalah di Indonesia. Padahal, jika dikelola dengan baik, kemasan plastik pasca pakai memiliki nilai ekonomi tinggi.

Dalam The 3rd Indonesia Circular Economy Forum (ICEF) 2019, yang dihadiri Suara.com, Senin (11/11/2019), PRAISE mendorong terciptanya pengelolaan kemasan paska konsumsi di Indonesia yang holistik, terintegrasi dan berkesinambungan. Dalam diskusi tersebut juga dipaparkan tantangan Indonesia dalam mengelola sampah atau kemasan pasca pakai.

Ketidakpedulian masyarakat

Berdasarkan indeks Perilaku Ketidakpedulian Lingkungan Hidup yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) 2018 menyebut, 72 persen orang Indonesia tidak peduli akan sampah. Sementara pertumbuhan infrastruktur dan industri daur ulang tidak sepadan dengan pertumbuhan konsumsi dan pembangunan ekonomi.

"Sehingga diperlukan kerjasama dari semua pihak dalam Extended Stakeholder Responsibility; masyarakat, industri dan pemerintah untuk berkolaborasi dalam pengolahan kemasan paska konsumsi," ujar Sinta Kaniawati, Ketua Umum PRAISE.

Pemilahan dan pengeloaan yang buruk

Di Indonesia, tantangan pengelolaan kemasan pasca konsumsi dimulai dari pengumpulan serta pemilahan/ segregrasi di rumah tangga. Sayangnya, langkah itu tidak dilakukan serempak dari hulu ke hilir.

"Pemilahan adalah kunci untuk melihat kemasan pasca konsumsi sebagai bahan bernilai. Jadi tolong untuk diperlakukan dengan baik. Sejauh ini masyarakat kota sudah mulai melakukan, tetapi di daerah lain sulit," sambungnya.

Baca Juga: Sukses Kelola Sampah, Warga Kelapa Gading Timur Dapat Miliki Tabungan Emas

Lebih jauh Sinta menyampaikan, salah satu model penanganan kemasan paska konsumsi yang diusulkan oleh Priase dalam diskusi paralel di Indonesia Circular Economy Forum 2019 adalah PRO (Packaging Recovery Organization).

“Model PRO akan memungkinkan industri (consumer goods) bersama sektor lainnya untuk bergabung dalam koalisi, membangun kerjasama berkelanjutan dengan industri daur ulang yang melibatkan sektor informal, difasilitasi dan dibimbing oleh pemerintah, sehingga dapat terbentuk ekonomi sirkular dalam pengelolaan kemasan paska konsumsi," katanya.

Konsep PRO telah berhasil dilakukan di beberapa negara, antara lain Eropa, Meksiko, dan Afrika Selatan. Negara-negara ini mampu menghubungkan rantai value chain dalam ekonomi sirkular dengan efektif.

"Seperti misalnya industri manufaktur akan memikirkan design kemasan dan proses produksi yang lebih ramah lingkungan, mempermudah untuk menghitung perkiraan jumlah kemasan paska konsumsi yang dilepas oleh perusahaan consumer goods ke pasar, bukan hanya itu, konsumen juga bertanggung jawab untuk mengembalikan kemasan paska konsumsi di tempat-tempat pemungutan sampah yang telah tersedia," papar Sinta.

Inisiatif akan konsep PRO oleh PRAISE, yang merupakan gabungan enam perusahaan yaitu Coca-Cola Indonesia, Danone Indonesia, PT Indofood Sukses Makmur Tbk, PT Nestle Indonesia, Tetra Pak, dan PT Unilever Indonesia Tbk, memperlihatkan bahwa sektor industri juga memiliki komitmen yang sama dengan pemerintah dalam penanganan dan pengurangan sampah di Indonesia melalui ekonomi sirkular.

Namun, diperlukan kerjasama semua pihak agar ekonomi sirkular dapat berjalan baik sehingga dapat menjadi katalisator perubahan dalam ekonomi, sosial dan lingkungan.

Load More