Suara.com - Surabaya memang dikenal dengan segudang kulinernya yang begitu menggugah selera. Jadi rasa-rasanya rugi jika Anda berlibur ke Surabaya tanpa menikmati kuliner khasnya.
Nah, berikut ini ada satu kuliner Surabaya yang unik dan hanya bisa Anda temui di Kota Pahlawan. Inilah dia lontong kupang khas Surabaya.
Berbeda dari kupat sayur, kuliner berkuah ini berisi kerang kecil atau warga Surabaya biasa menyebutnya dengan kupang.
Kupang ini umumnya sangat mudah ditemukan di wilayah pesisir Jawa Timur.
Setelah dikumpulkan dan dimasak, kupang tadi dicampurkan dengan potongan lontong serta sate kerang kemudian disiram dengan bumbu petis.
Rasa pedas manis lontong kupang ini begitu menggugah selera dan membuat banyak orang ketagihan.
Tidak sedikit pula warung makan yang menawarkan lontong kupang beserta lauk pauk lainnya seperti salah satunya yakni lento.
Bagi Anda yang belum tahu, lento merupakan gorengan berbahan baku singkong. Rasa lontong kupang ini akan semakin terasa mantap jika Anda menyantapnya selagi hangat.
Lontong kupang ini biasanya paling pas jika ditemani segelas es kelapa muda dan disantap pada siang hari.
Baca Juga: Festival Kuliner Indomaret Sajikan Ragam Makanan ala Toserba, Cobain Yuk!
Karena porsinya terbilang cukup banyak dan mengenyangkan, tak heran jika banyak yang menjadikan lontong kupang ini sebagai menu makan siang.
Setidaknya ada lebih dari 5 warung makan yang menjual lontong kupang ini di Surabaya. Masing-masing warung makan punya rasa berbeda yang menjadi ciri khas mereka.
Satu porsi lontong kupang ini biasanya dibanderol mulai dari harga Rp 10 ribu sampai dengan Rp 20 ribuan belum termasuk sate dan gorengan.
Beberapa warung makan lontong kupang yang selalu ramai disambangi warga lokal dan wisatawan di antaranya ada Lontong Kupang Bu Wito, Lontong Kupang Lestari 87, Lontong Kupang Artomoro, dan Lontong Kupang Bu Siti.
Berita Terkait
-
Nikmatnya Sambal Pencit: Kuliner 'Survival' Low Budget yang Kini Jadi Menu Populer Restoran
-
Menjaga Bahasa hingga Kuliner, Bagaimana Upaya Perempuan Lampung Merawat Identitas Budaya?
-
Tumbangkan Persib Bandung, Persebaya Surabaya Juara Piala Presiden 2026
-
Mencicipi Nasi Telur Mang One Jambi: Telur Garing, Nasi Daun Jeruk, dan Sensasi Paru Mercon
-
Berawal dari Bakery, Pengusaha Perempuan Surabaya Kembangkan Empat Gerai Mixue dalam 3 Tahun
Terpopuler
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
- 3 Sepatu Jalan untuk Lansia Paling Nyaman, Hands Free Tak Perlu Membungkuk
- Spanduk Polwan saat Adang Aksi BEMI UI Kena Rujak Netizen: Bu Polwan Salah Bawa Spanduk?
- Kulkas Sharp 2 Pintu Berapa Harganya? Ini 3 Pilihan yang Dingin dan Hemat Listrik Sesuai Review
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Gempa M3,5 Guncang Bantul, Getaran Terasa hingga Solo dan Magelang
-
Gempuran AI & Medsos, Local Media Community Surabaya Ungkap Jurus Media Lokal Bertahan
-
Bikin Bobotoh Harap-Harap Cemas, Kok Bisa Akun IG 3,1 Juta Follower Thom Haye Hilang?
-
Heboh Jadi Sayembara, Pakar Sebut Besarnya Hadiah Tak Mengubah Standar Hukum Ijazah Gibran
-
Viva Perfect Matte vs Perfect Shine Lip Color, Mana yang Tahan Lama?
-
Desain Estetik tapi Bikin Gerah, Pramono Janji Benahi Halte Rasuna Said
-
InJourney Semarakkan ASTINDO Travel Fair 2026 dengan Deretan Promo Eksklusif
-
Warna Earth Tone untuk Rumah Bawa Keberuntungan, Ini Cara Menerapkannya sesuai Feng Shui
-
Review Film A New Dawn: Potret Puitis Perubahan Zaman dan Kenangan Manusia
-
Indonesia Tak Baik-baik Saja, Guru Besar UGM Soroti Ketimpangan dan Dominasi Oligarki