3. Bikin konten positif yang seru
Menyadari bahwa bumi ini perlu dijaga bareng-bareng, Ira pun mengajak anak muda untuk mulai peduli dan bergerak dengan cara membuat konten yang seru.
“Kalau sudah mengakses media sosial lebih dari tiga jam sehari, sudah saatnya kita berperan jadi creator. Tidak perlu pakai gadget yang canggih, kok. Yang penting, konsep kontennya harus dipikirkan dengan matang. Pastikan konten itu bermanfaat, bukan demi mengejar jumlah follower atau view. Nanti malah stres sendiri,” kata Ira, yang mendapatkan data bahwa mahasiswanya scroll di media sosial antara enam hingga delapan jam sehari.
Menurut Tian, isu lingkungan hidup cenderung masih lebih banyak dibahas oleh para aktivis atau pegiat lingkungan saja. Padahal lingkungan menjadi tempat tinggal kita semua.
“Karena itu, kreativitas dalam membuat konten menjadi sangat penting. Selama ini HII berusaha mengaitkan isu lingkungan dengan keseharian anak muda, salah satunya lewat makanan. Paling tidak, konten itu membukakan mata mereka. Setelah tahu, diharapkan mereka jadi sadar dan kemudian melakukan aksi,” kata Tian.
Di platform TikTok, konten Ira sudah berkali-kali menunjukkan performa yang bagus dengan masuk dalam FYP (For Your Page). Apa rahasianya?
“Jangan takut punya ide yang berbeda. Konten yang datar-datar saja tidak akan dilirik orang. Gunakan hashtag yang sedang trending, karena sangat berpengaruh di TikTok dan Instagram, contohnya #UntukmuBumiku. Ikuti pula momen peringatan hari besar, misalnya Hari Bumi, karena media sosial juga punya concern tentang hari-hari besar seperti itu. Jika memuat topik yang berkaitan dengan hari besar, ada kemungkinan konten kita dimunculkan di timeline orang-orang,” kata Ira, yang menggunakan lagu-lagu yang sedang viral dalam konten TikTok-nya.
#UntukmuBumiku akan digemakan pada Hari Bumi, 22 April 2021 secara serentak oleh banyak influencer berpengaruh, termasuk blogger, Youtuber, dan Tiktoker. Penggunaan hashtag pada hari tersebut juga bisa dimanfaatkan oleh para content creator untuk membuat konten mereka berperforma bagus.
4. Memanfaatkan hasil hutan yang diperoleh dengan cara ramah lingkungan
Hutan Indonesia menyimpan banyak bahan makanan dan bahan alami untuk keseharian kita.
“Misalnya, gula aren dan buah tengkawang yang bisa dijadikan body lotion. Saat membeli hasil hutan, kita membantu meningkatkan kesejahteraan produsen, yang merupakan masyarakat di sekitar hutan. Selain itu, para produsen yang peduli akan hutannya sebagai tempat untuk mencari bahan baku produk akan menjaga hutan dengan cara tidak menebang pohon atau mengalihfungsikan hutan. HII mencoba mengumpulkannya di website kami https://hutanitu.id/pesonahutan, silakan dicek dan ada lebih dari 50 produk dan jasa ekowisata hasil hutan lestari seluruh Indonesia,” kata Tian.
Baca Juga: Mampukah Perjanjian Escazu Akhiri Pembunuhan Pegiat Lingkungan di AS?
Ira kecil, karena rumahnya bertetangga dengan hutan, kerap mencari berbagai hasil hutan, seperti daun pakis dan rebung untuk dijadikan sayur. Ira juga sangat terbiasa bertemu binatang-binatang hutan, seperti monyet, biawak, kijang, kancil, burung hantu, ataupun ular.
5. Jalan kaki ketika lokasi tujuan terbilang dekat
Untuk menjangkau tempat yang jaraknya dekat, Ira lebih suka berjalan kaki, misalnya ke minimarket atau warung. Di antara rekan kerjanya pun ada budaya nebeng, agar tidak setiap orang membawa kendaraan. Ia kerap geregetan melihat orang yang sedikit-sedikit mengeluarkan motor, padahal jarak yang dijangkaunya dekat saja.
“Mahasiswa saya juga lebih memilih naik ojek atau odong-odong (sebutan untuk angkot yang beroperasi di sekitar kampus). Padahal, kalau jalan kaki hanya 10 menit dari gerbang utama. Saya dulu juga selalu jalan kaki ke kampus. Selain mengurangi polusi udara, bisa hemat juga, kan?” kata Ira, yang senang naik gunung, tapi kini tak lagi punya waktu.
Tian menambahkan, “Kendaraan umum merupakan opsi yang lebih ramah lingkungan daripada kendaraan pribadi. Sebab, bahan bakar kita masih dibuat dari fosil. Permintaan akan fosil memungkinkan terjadinya alih fungsi lahan. Hutan belantara bisa dijadikan tambang batubara. Selain itu, ketika kita mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, udara jadi lebih bersih dan udara bersih itu sangat dibutuhkan oleh kita. Dan, hutan merupakan ekosistem yang sangat mendukung terciptanya udara bersih karena bisa menyerap karbon.”
Berita Terkait
Terpopuler
- Lipstik Warna Apa yang Cocok di Usia 50-an? Ini 5 Pilihan agar Terlihat Fresh dan Lebih Muda
- 5 Rekomendasi Sampo Kemiri Penghitam Rambut dan Penghilang Uban, Mulai Rp10 Ribuan
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 5 Cat Rambut yang Tahan Lama untuk Tutupi Uban, Harga Mulai Rp17 Ribuan
Pilihan
-
Duduk Perkara Ribut Diego Simeone dengan Vinicius Jr di Laga Derby Madrid
-
5 HP Xiaomi RAM 8GB Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
Terkini
-
5 Rekomendasi Sandal Empuk untuk Kesehatan Lansia, Harga Mulai Rp20 Ribuan
-
7 Vitamin Wajib untuk Lansia, Atasi Badan Lemas Tubuh Auto Bertenaga
-
5 Rekomendasi Parfum Mobil Terbaik yang Tidak Bikin Pusing dan Mual
-
5 Rekomendasi Sepatu Safety Krisbow Terbaik untuk Kerja, Aman dan Nyaman
-
Skincare Apa Saja yang Sebaiknya Dipakai di Usia 50-an? Simak Anjuran Dokter Kulit
-
5 Sepatu Velcro Lokal Tanpa Tali, Solusi Anti Repot Buat Orang Tua
-
5 Sabun Cuci Muka Pilihan Paling Aman untuk Lansia, Ampuh Rawat Kulit Menipis
-
5 Parfum Murah Pria Tahan Lama Mirip Bleu de Chanel, Mulai Rp200 Ribuan
-
Begini Cara Warga Kertabumi Ubah Plastik Bekas Jadi Penghasilan Jutaan
-
5 Lip Balm Rp50 Ribuan untuk Lembapkan Bibir Kering dan Keriput di Usia 50 Tahun