Suara.com - Investigasi baru-baru ini mengungkapkan bahwa dua rumah mode mewah paling terkemuka di Italia, Dior dan Giorgio Armani, mengeluarkan biaya yang sangat rendah untuk memproduksi tas tangan yang dijual seharga ribuan dolar.
Penemuan ini terjadi sebagai bagian dari penyelidikan menyeluruh terhadap subkontraktor yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan tersebut.
Jaksa Italia di Milan telah menyelidiki penggunaan pemasok pihak ketiga oleh anak perusahaan LVMH, Dior, selama beberapa bulan terakhir. Menurut Reuters, perusahaan-perusahaan ini diketahui mengeksploitasi pekerjanya, memproduksi tas dengan harga yang jauh lebih rendah dari harga ecerannya.
Dokumen yang diperiksa oleh pihak berwenang menunjukkan bahwa Dior hanya membayar pemasok sekitar Rp 855 ribu untuk membuat tas yang dijual dengan harga sekitar Rp 41 juta. Biaya-biaya ini tidak termasuk bahan mentah seperti kulit.
Penuntut mencatat bahwa Dior tidak menerapkan "langkah-langkah yang tepat untuk memeriksa kondisi kerja aktual atau kemampuan teknis perusahaan kontraktor."
Selama investigasi yang dilakukan pada bulan Maret dan April, muncul bukti bahwa para pekerja tidur di fasilitas produksi untuk memenuhi permintaan manufaktur sepanjang waktu. Data konsumsi listrik juga menunjukkan bahwa pekerjaan dilakukan pada malam hari dan hari libur.
Subkontraktor yang dimaksud adalah perusahaan milik Tiongkok, dan sebagian besar pekerjanya berasal dari Tiongkok. Investigasi menemukan bahwa dua pekerja adalah imigran ilegal, dan tujuh lainnya tidak memiliki dokumentasi yang diperlukan. Yang mengkhawatirkan, perangkat keselamatan pada mesin dilepas untuk mempercepat produksi.
Investigasi juga menyelidiki kontraktor Giorgio Armani. Seperti Dior, Armani dituding gagal mengawasi pemasoknya dengan baik.
Armani membayar kontraktor sekitar Rp 1,5 juta per tas untuk produk yang dijual dengan harga lebih dari Rp 27 juta di toko.
Hakim di Milan telah menempatkan unit Dior dan Armani di bawah administrasi peradilan selama satu tahun sebagai tanggapan terhadap temuan ini. Meskipun diawasi ketat, mereka diperbolehkan melanjutkan operasinya selama periode ini.
Baca Juga: Hadir di Acara Kaesang, Sarwendah Enteng Taruh Tas Hermes di Lantai: Seharga Rumah?
Jaksa menyoroti bahwa pelanggaran ketenagakerjaan seperti ini umum terjadi di industri fesyen mewah untuk meningkatkan keuntungan. Dokumen pengadilan menggambarkan praktik ini sebagai "metode manufaktur yang digeneralisasi dan dikonsolidasikan".
Ketua Pengadilan Milan, Fabio Roia, menganggap masalah ini serius, mencatat bahwa praktik ini tidak hanya merugikan pekerja tetapi juga merugikan perusahaan yang taat hukum.
Dalam memo terpisah, Dior, anak perusahaan LVMH, mengumumkan upaya perbaikan pada rantai pasokannya. Tahun lalu, LVMH melakukan 1,725 audit pada 2,062 pemasok dan subkontraktornya, menurut laporan tanggung jawab lingkungan dan sosial tahun 2023.
CEO LVMH, Bernard Arnault, yang juga orang terkaya ketiga di dunia, memimpin perusahaan ini, sementara putrinya Delphine saat ini menjabat sebagai CEO Dior.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Demi Ketenangan Almarhum, Orang Tua Affan Kurniawan Mohon Tak Ada Peringatan Setahun Kematian
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- 12 Ikan Hias Pembawa Keberuntungan Menurut Feng Shui, Cocok untuk Akuarium di Rumah
- Jelang FIFA ASEAN Cup 2026, Kevin Diks Tegas Sistem Empat Bek Lebih Cocok
- Mau Terlihat Lebih Muda? Ini 5 Pilihan Warna Lipstik yang Bisa Dicoba
Pilihan
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
-
Info Terbaru Gempa NTT: 15 Warga Manggarai Tewas, 280 Bangunan Jadi Puing
-
5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
Terkini
-
Parigi Moutong Diguncang Gempa M 6,2 Tengah Malam, BMKG Minta Warga Waspada
-
Pengibaran Bendera Bulan Bintang Picu Bentrok di Masjid Raya Baiturrahman
-
Air Laut Surut Lalu Masuk Permukiman, Warga Pasimarannu Panik Mengungsi Mandiri
-
Soroti Manuver Politik di Kasus Eks Jampidsus, Sejumlah Akademisi Minta Prabowo Turun Tangan
-
Dua Pidato di DPR Tunjukkan Arah Ekonomi Prabowo Semakin Jelas
-
Gempa NTT, Selly Gantina Minta Pemerintah Segera Tembus Daerah Berdampak
-
PTBA Kembali Hadirkan BIDIKSIBA, Buka Jalan Generasi Muda Menuju Pendidikan Tinggi
-
Spot 17-an Kekinian di Blok M: Dari Secret Gig sampai Tantangan Senyum!
-
Beras Fortifikasi Jadi Pelarian Produsen Akibat Melonjaknya Harga Gabah
-
Hendardi Singgung Manuver Hukum Eks Jampidsus, Dinilai Kelabui Publik Soal Substansi Perkara