Suara.com - Di tengah tekanan krisis iklim dan keterbatasan infrastruktur ekonomi, gula lontar atau gula sabu menjadi ‘harta karun’ terpendam di Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur. Sayang, komoditas unggulan ini belum digarap maksimal. Padahal, ada peluang besar gula lontar untuk bisa menembus pasar ekonomi global.
Viringga Kusuma dari Amati Indonesia merasa optimistis atas masa depan gula lontar khas sabu. Apalagi, jika dipadukan dengan strategi pemasaran modern, diyakini gula lontar bisa menembus pasar global. Ditambah lagi, ada narasi baik di balik gula dari tanaman lontar ini yang dihasilkan oleh mayoritas masyarakat Sabu yang merupakan petani gula.
"Gula sabu punya potensi besar karena memiliki narasi baik oleh mayoritas masyarakat sabu yang merupakan pengolah dan penghasil gula aren,” kata Viringga dalam diskusi yang digagas GEF SGP Indonesia bertajuk “Membangun Ketahanan Iklim dan Ekonomi Lokal Pulau Sabu & Raijua melalui Pemanfaatan Sumber Daya Alam Berkelanjutan” yang dihelat di Gedung Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua, Kamis (24/7/2025).
Karena itu pula, menurut Viringga, perlu adanya sebuah promosi clean label di ambang tingginya potensi dari pohon lontar tersebut. Konsep clean label ini diharapkan bisa membuat olahan gula sabu dalam dilirik dan dihargai. Terlebih, gula sabu ini menjadi salah satu komoditas yang dipamerkan di Indonesian House of Amsterdam, Belanda.
Pasar gula alami di India, Vietnam, dan Belanda menunjukkan permintaan tinggi akan produk gula yang sehat dan transparan. Karena itulah, penerapan clean label ini dibutuhan untuk memastikan kualitas bahan baku dari pohon lontar yang sehat, proses produksi yang higienis, dan penggunaan wadah yang bersih tanpa bahan tambahan kimia.
Langkah ini bukan semata soal branding, tapi juga soal market trust. Gula lontar Sabu yang selama ini diproduksi tradisional sebenarnya memiliki cerita kuat, nilai budaya, hingga manfaat kesehatan. Dengan penyesuaian standar mutu, sertifikasi organik dan halal, serta pengemasan yang menarik, produk ini bisa menjadi primadona baru Indonesia.
Dalam makalah di jurnal International Review of Humanities Studies, Daniel Hariman Jacob, dosen Universitas Indonesia, menuliskan pohon lontar dan masyarakat Sabu merupakan bagian yang tak terpisahkan. Bahkan, warga setempat bersyukur dengan adanya pohon lontar yang memberikan sumber makanan pokok mereka: gula sabu.
Daniel menyebutkan mata pencarian utama masyarakat Sabu adalah bertani ladang dan menyadap lontar. Mereka mengolahnya menjadi gula. Meski sesekali bertanam kacang hijau maupun padi, masyarakat Pulau Sabu menyadap lontar dan memasak gula merupakan kegiatan penduduk Sabu sepanjang tahun.
Untuk mengubah potensi menjadi kekuatan ekonomi nyata, usaha mikro kecil (UMK) lokal juga membutuhkan strategi menyeluruh dan dukungan lintas sektor. Hal ini diafirmasi Radityo Putro Handrito, Sekretaris Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, yang turut hadir dalam forum diskusi tersebut.
“Seharusnya proses bisnis berkelanjutan tidak berarti antara proses bisnis berkelanjutan dalam bidang ekonomi. Maksudnya, ekonomi dan lingkungannya harusnya berjalan secara beriringan. Ekonomi tumbuh, tapi kemudian lingkungannya tidak kelihatan. Lingkungannya kelihatan, tapi kemudian ekonominya juga tidak kelihatan sehingga harus beriringan,” katanya.
Radityo menyoroti pentingnya produksi berkelanjutan. Artinya, UMK harus menjaga kelestarian pohon lontar, sebagai sumber utama bahan baku gula sekaligus mengoptimalkan proses pengolahan, mulai dari panen nira hingga distribusi produk jadi. Kapasitas pengusaha juga harus diperkuat lewat pelatihan, pendampingan usaha, serta akses ke teknologi.
Nah, salah satu teknologi yang digagas dalam forum ini adalah alat pemasak gula lontar bertenaga surya, yang dikembangkan oleh Yayasan Cemara. Selain lebih ramah lingkungan, alat ini juga mampu meningkatkan efisiensi dan higienitas produksi.
"Alat ini adalah alat masak gula. Alat masak gula Sabu yang kita combine dengan teknik kita yang bersumber matahari," ujar salah satu pengembang dari Yayasan Cemara.
Menurutnya, alat ini mampu menghasilkan gula berkualitas tinggi, lebih higienis dibanding metode tradisional yang masih mengandalkan kayu bakar. Ini membuka peluang peningkatan daya saing di pasar sekaligus menekan deforestasi.
Tak kalah penting adalah strategi pemasaran. Banyak produk UMK lokal gagal bukan gara-gara kualitas rendah, melainkan tidak memiliki narasi dan platform promosi memadai. Karena itu, digitalisasi dan pemanfaatan media sosial menjadi kunci untuk memperluas jangkauan pasar.
Berita Terkait
-
Memasuki Fase 8, GEF SGP Indonesia Serukan Komitmen untuk Komunitas Lokal
-
Festival Raksha Loka, Buktikan Solusi Komunitas Sebagai Kunci Hadapi Krisis Iklim Global
-
Perempuan Sabu Raijua, Penjaga Tradisi dan Motor Ekonomi Gula Semut
-
Elegi Gula Semut, Asa Baru Ekonomi Hijau di Jantung Sabu Raijua
-
Lontar dan Filosofi Kecukupan, Memahami Orang Sabu Lewat Sebatang Pohon
Terpopuler
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- 5 Sepatu Lari Terbaik Harga Rp200 Ribuan, Nyaman Dipakai untuk Daily hingga Trail Run
- Sempat Nganggur Gegara Timnas Indonesia, Roberto Mancini Resmi Latih Italia
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Prabowo Sebut Arab Saudi hingga Mesir Ingin jadi Pemilik Senjata Nuklir, Ada Apa?
-
Sumbang 27 Persen Luas Karhutla Nasional, Kalimantan Barat Jadi Percontohan Peta Risiko Baru
-
18 Orang Tewas Tenggelam Berenang dari Maroko ke Ceuta Spanyol, Terobos Perbatasan dengan Ilegal
-
Viral Calon Pegawai BPJS Jalan di Atas Bara Api, DPR Minta Penjelasan Resmi
-
Jumanji Open World Hadirkan Dunia Gim ke Realitas dalam Petualangan Baru
-
4 Sepatu Lari Hoka Terbaik untuk Daily Run, Empuk dan Stabil di Setiap Langkah
-
Rekam Jejak Wasit Asal Korsel Laga Timnas Indonesia vs Timor Leste, Pernah Buat Malu Shin Tae-yong
-
Jesslyn Wijaya Masih Tak Bisa Dihubungi, Calon Suami Lapor ke Komnas Perempuan
-
Dari Titik Terendah hingga Dipercaya Kelola Uang Rp 3 Miliar, Inspirasi dari Jafar Tri Maulana
-
Seteru dengan Pramoedya hingga Si Oyen: Sisi Lain Buya Hamka dalam Ayah