Lifestyle / Food & Travel
Senin, 13 Oktober 2025 | 17:41 WIB
Kawah Ijen [suara.com/ eliza gusmeri]

Peraturan dan Persyaratan Masuk

Mulai Februari 2025, kunjungan ke Kawah Ijen harus mengikuti peraturan khusus untuk menjamin keselamatan dan pelestarian lingkungan. Berikut adalah persyaratan dan panduan utama untuk masuk:

1. Pemesanan Tiket Online: Semua pengunjung harus membeli tiket terlebih dahulu melalui portal resmi di tiket.bbksdajatim.org.

2. Surat Keterangan Sehat: Pengunjung diwajibkan memiliki surat keterangan sehat yang sah dari fasilitas medis yang diakui, yang menyatakan bahwa mereka dalam kondisi fisik dan mental yang baik untuk mendaki.

Disarankan agar surat ini diperoleh sehari sebelum kunjungan, karena beberapa sumber menyebutkan bahwa berlaku hanya selama satu hari.

3. Senter: Pengunjung disarankan untuk membawa senter.

4. Masker: Disarankan untuk digunakan sebagai pelindung dari gas sulfur.

5. Pakaian Hangat: Pengunjung harus mengenakan pakaian hangat yang sesuai untuk menghadapi suhu dingin.

6. Peralatan Keselamatan: Pengunjung diharuskan membawa perlengkapan keselamatan yang penting.

Baca Juga: Minim Penerangan, Ragunan Janji Evaluasi Wisata Malam Tanpa Ganggu Satwa

Dengan mematuhi aturan ini, diharapkan pengalaman di Kawah Ijen dapat berlangsung dengan aman dan nyaman.

Barang-barang ini penting mengingat medan yang menantang dan banyaknya gas sulfur di daerah tersebut

Pengunjung Kawah Ijen harus memperhatikan beberapa peringatan kesehatan. Individu dengan masalah pernapasan, kondisi jantung, atau tekanan darah tinggi disarankan untuk tidak mengunjungi kawah, mengingat pendakian yang berat dan paparan gas vulkanik.

Ibu hamil, terutama yang berusia antara 6 hingga 9 bulan, juga perlu berhati-hati. Selain itu, disarankan untuk memiliki asuransi perjalanan pribadi, karena tiket masuk tidak mencakup bentuk asuransi apa pun. 

Kawah Ijen dapat diakses mulai pukul 02.00 hingga 12.00, dan bagi mereka yang ingin menyaksikan api biru yang terkenal, sebaiknya mulai mendaki di pagi hari.

Semua pengunjung diwajibkan untuk mengikuti Prosedur Operasi Standar (SOP) dan protokol kesehatan yang ditetapkan demi keselamatan dan pelestarian lingkungan.

Pengembangan Budaya dan Komunitas Lokal

Kawah Ijen Banyuwangi. (Red Doorz)

Para penambang belerang di Kawah Ijen tetap menjadi bagian penting dari pengalaman tersebut. Berbagai inisiatif baru telah diperkenalkan untuk mendukung pekerja ini dengan cara meningkatkan kondisi kerja mereka dan mempromosikan sumber pendapatan alternatif melalui kegiatan pariwisata, seperti memandu dan menjual kerajinan lokal.

Panduan Perjalanan untuk Pengunjung Tahun 2025

1. Waktu Terbaik untuk Berkunjung

Waktu terbaik untuk mengunjungi Kawah Ijen adalah selama musim kemarau, antara bulan April hingga Oktober, ketika cuaca lebih mendukung.

Pendakian malam hari yang dimulai sekitar pukul 1 dini hari adalah cara terbaik untuk melihat api biru sebelum matahari terbit.

2. Apa yang Harus Dibawa dan Dikenakan

Untuk memaksimalkan petualangan Anda di Kawah Ijen, pastikan untuk membawa perlengkapan penting berikut: masker gas (yang sering disediakan oleh pemandu) untuk melindungi dari asap belerang; pakaian hangat, karena suhu dapat menurun drastis di malam hari; sepatu trekking dengan cengkeraman yang baik untuk menghadapi medan berbatu; serta lampu kepala untuk penerangan saat perjalanan malam hari.

3. Tips Perjalanan Ramah Lingkungan

Lestarikan keindahan Kawah Ijen dengan menerapkan praktik ramah lingkungan. Pastikan untuk tidak meninggalkan jejak, yaitu dengan menghindari membuang sampah sembarangan dan selalu membawa pulang sampah Anda. 

Hormati juga adat istiadat dan peraturan yang berlaku di daerah tersebut. Selain itu, dukung masyarakat setempat dengan mempekerjakan pemandu lokal dan membeli produk-produk buatan mereka.

Dengan berbagai inovasi dan peningkatan yang direncanakan, Kawah Ijen siap menyambut para pengunjung dengan pengalaman yang lebih menarik dan berkesan. Destinasi ini tetap menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi bagi para pecinta alam dan petualangan.

Kontributor : Laili Nur Fajar Firdayanti

Load More