-
- Kasus Kekerasan Tinggi: 330.097 kasus kekerasan berbasis gender tercatat pada 2024, mayoritas korban perempuan muda.
- SAPA 129 Jadi Saluran Utama: Layanan pengaduan terintegrasi nasional, menangani ribuan kasus dan terhubung dengan Simfoni PPA.
- Pemerintah Bergerak: Perluasan layanan, pelaporan anonim, edukasi, dan kampanye “Berani Lapor, Negara Lindungi” untuk perlindungan korban.
Suara.com - Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Laporan yang masuk ke kanal resmi negara menunjukkan bahwa kelompok rentan ini masih menghadapi ancaman di rumah, sekolah, tempat kerja, hingga ruang publik.
Catatan Tahunan (Catahu) Komnas Perempuan 2025 (data 2024) mencatat 330.097 kasus kekerasan berbasis gender terhadap perempuan. Angka ini meningkat 14,17% dari tahun sebelumnya, dengan mayoritas korban berusia 18–24 tahun.
Sementara itu, para pelaku banyak berasal dari kelompok usia produktif hingga lansia. Data ini menunjukkan bahwa kekerasan masih terjadi secara meluas dan sering menimpa perempuan muda yang berada pada fase rentan dalam hidup mereka.
Dalam setahun terakhir, pemerintah mempercepat penguatan layanan SAPA 129 (Sahabat Perempuan dan Anak) sebagai pusat pelaporan nasional.
Langkah ini merupakan komitmen untuk memastikan negara hadir secara nyata bagi perempuan dan anak, terutama dalam konteks pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan perlindungan kelompok rentan sebagai salah satu prioritas utama.
Diluncurkan pada 8 Maret 2021, SAPA 129 kini berkembang menjadi sistem pelaporan dan pendampingan yang terintegrasi secara nasional. Melalui nomor 129 atau WhatsApp 08111-129-129, masyarakat dapat mengadukan berbagai bentuk kekerasan.
Layanan ini menjadi elemen penting dalam membangun pelayanan publik yang cepat, aman, dan berorientasi pada pemulihan korban.
Sepanjang Januari–Oktober 2025, terdapat 1.986 kasus kekerasan terhadap anak yang ditangani melalui SAPA 129. Dari jumlah tersebut, 1.386 korban adalah perempuan dan 887 adalah laki-laki. Sebanyak 1.540 laporan diterima melalui saluran WhatsApp, menandakan bahwa kanal digital menjadi jalur utama masyarakat untuk mencari pertolongan.
Provinsi Jawa Barat menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yaitu 470 kasus dalam sepuluh bulan terakhir—angka yang ikut mencerminkan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk melapor dan kepercayaan terhadap sistem layanan negara (sumber: Media Talk KemenPPPA, 15 November 2025).
Baca Juga: Remaja Perempuan Usia 15-24 Tahun Paling Rentan Jadi Korban Kekerasan Digital, Kenapa?
Pemerintah memastikan setiap laporan yang diterima ditangani secara cepat dan terkoordinasi. Saat ini SAPA 129 telah terhubung dengan Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA), yang memungkinkan pelacakan kasus secara real-time di seluruh Indonesia.
Integrasi ini mengurangi risiko laporan terlewat serta memperkuat basis data nasional untuk perumusan kebijakan yang lebih efektif.
Jangkauan layanan juga terus diperluas. Hingga Oktober 2025, SAPA 129 aktif di 34 provinsi, dilengkapi dengan operator tambahan di UPTD PPA sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan dekat dengan korban. Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah mempercepat desentralisasi layanan perlindungan sosial.
Pada Agustus 2025, KemenPPPA bersama Save the Children Indonesia meluncurkan versi terbaru website SAPA 129 yang lebih ramah bagi perempuan dan anak.
Portal ini menyediakan panduan pelaporan, peta layanan, hingga opsi pelaporan anonim bagi mereka yang membutuhkan kerahasiaan penuh. Pembaruan ini menjadi bagian penting dari upaya negara memperkuat ekosistem digital perlindungan dari kekerasan berbasis gender dan anak.
Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan KemenPPPA, Ratna Susianawati, menjelaskan bahwa fungsi SAPA kini diperluas menjadi pusat koordinasi nasional, termasuk untuk kasus yang memerlukan rujukan lintas provinsi hingga lintas negara.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 HP Helio G99 Termurah di Awal Tahun 2026, Anti Lemot
- 6 Rekomendasi HP OPPO Murah dengan Performa Cepat, RAM 8 GB Mulai Rp2 Jutaan
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
Pilihan
-
Cek Fakta: Yaqut Cholil Qoumas Minta KPK Periksa Jokowi karena Uang Kuota Haji, Ini Faktanya
-
Hasil Akhir: Kalahkan Persija, Persib Bandung Juara Paruh Musim
-
Babak Pertama: Beckham Putra Bawa Persib Bandung Unggul atas Persija
-
Untuk Pengingat! Ini Daftar Korban Tewas Persib vs Persija: Tak Ada Bola Seharga Nyawa
-
Kriminalisasi Rasa Tersinggung: Mengadili Komedi 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono
Terkini
-
Detektif Jubun Bongkar Rahasia Gelap Money Game Syariah: Waspada Riba Berkedok Surga
-
5 Water Heater Low Watt Harga Rp1 Jutaan, Cocok untuk Keluarga Minimalis
-
5 Cushion Anti Keringat untuk Pekerja Kantoran, Makeup Tetap Fresh dan Tak Luntur
-
Rekam Jejak Roby Tremonti, Aktor yang Terseret Isu Child Grooming di Buku Aurelie Moeremans
-
Daftar Wilayah DIY yang Berpotensi Diguyur Hujan Petir hingga Pukul 15.00 WIB Hari Ini
-
5 Hair Tonic untuk Menumbuhkan Rambut, Ampuh Atasi Kerontokan dan Kebotakan
-
4 Sepatu Sneakers Wanita Mulai Rp100 Ribuan, Empuk dan Anti Lecet Dipakai Jalan
-
Kenapa Korban Grooming Seperti Aurelie Moeremans Cenderung Diam? Waspadai Ciri-cirinya!
-
5 Moisturizer Terbaik Harga Pelajar untuk Mencerahkan Wajah, Mulai Rp20 Ribuan
-
Alasan Aurelie Moeremans Terbitkan Buku Broken Strings secara Gratis