Suara.com - Banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, mulai dari Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat, menyerakkan duka mendalam.
Data BNPB per Jumat (28/11/2025) sore mencatat 174 orang meninggal dunia dan lebih dari 12.500 kepala keluarga terpaksa mengungsi.
Meski dampaknya besar, pemerintah tidak menetapkan peristiwa ini sebagai bencana nasional.
Karena itu, warga pun juga bertanya-tanya kenapa banjir Sumatera tidak ditetapkan sebagai bencana nasional?
Melalui siaran pers resmi BNPB, Kepala BNPB, Letnan Jenderal TNI Suharyanto, menjawab pertanyaan tersebut.
Kenapa Banjir Sumatera Tidak Ditetapkan sebagai Bencana Nasional?
Kepala BNPB, Letnan Jenderal TNI Suharyanto menjelaskan bahwa penetapan status bencana nasional tidak hanya melihat jumlah korban atau luas wilayah terdampak.
Ada sejumlah parameter struktural yang menjadi acuan, antara lain:
- Skala kerusakan absolut di wilayah terdampak
- Lumpuhnya sistem pemerintahan daerah
- Terhentinya layanan publik secara menyeluruh
- Hilangnya kendali koordinasi antara pemerintah daerah dan pusat
Menurutnya, situasi banjir di Sumatera saat ini belum mencapai ambang tersebut.
Pemerintah daerah di tiga provinsi tersebut masih dapat menjalankan fungsi pemerintahan, mengoordinasikan penanganan darurat, dan mempertahankan akses layanan publik, meski dengan banyak kendala di lapangan.
Baca Juga: Mengenal Taman Nasional Tesso Nilo, Rumah Terakhir Gajah Sumatera yang Direbut Kebun Sawit Ilegal
Suharyanto juga menyoroti maraknya unggahan media sosial yang memperlihatkan kondisi mencekam, warga terisolasi, hingga putusnya jaringan komunikasi di beberapa titik.
Menurutnya, narasi tersebut memperkuat persepsi bahwa bencana berada di luar kendali.
Namun setelah tim gabungan turun ke lokasi, kondisi sebagian besar wilayah ternyata lebih terkendali dibanding gambaran awal yang beredar secara viral.
Banyak daerah yang sebelumnya dilaporkan terisolasi kini sudah dapat dijangkau setelah cuaca mulai cerah dan debit air menurun.
Meski mayoritas wilayah sudah menunjukkan pemulihan, Suharyanto menegaskan bahwa Tapanuli Tengah (Tapteng) masih menjadi area dengan kondisi paling kritis.
Tim BNPB menyebutkan bahwa daerah ini mengalami kerusakan terparah, baik dari sisi jumlah korban jiwa maupun kesulitan akses menuju lokasi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
Terkini
-
Daftar Harga Mesin Cuci LG Front Loading 8 Kg Terbaru, Mulai dari Rp4 Jutaan
-
Munif Taufik Dijuluki Justice Collaborator Kasus FH UI, Apa Ancaman Hukumannya?
-
Hari Kartini 21 April 2026 Apakah Libur? Cek Ketentuan Resmi Menurut SKB 3 Menteri
-
6 Mesin Cuci 2 Tabung Harga Rp1 Jutaan yang Hemat Listrik, Cocok untuk Rumah Tangga
-
7 Rekomendasi Kacamata Anti Sinar UV 400, Lindungi Mata dari Sengatan Godzilla El Nino
-
4 Ancaman Hukuman Berat Menanti 16 Mahasiswa UI Terduga Pelaku Pelecehan Seksual di Grup Chat
-
7 Parfum Wanita yang Tercium dari Jarak Jauh, Murah Cuma Rp30 Ribuan
-
Front Loading vs Top Loading, Ini Kelebihan dan Kekurangan Mesin Cuci 1 Tabung
-
Bukan Whistleblower, Munif Taufik Dicap Netizen Justice Collaborator di Kasus FH UI, Apa Bedanya?
-
5 Rekomendasi Primer yang Tahan Lama, Bikin Makeup Menempel Seharian