- DAS Bodri melintasi empat kabupaten di Jawa Tengah dan merupakan sumber air penting bagi irigasi serta waduk.
- Workshop di Semarang pada 16 Desember 2025 menguatkan Fordas Bodri untuk melanjutkan pelestarian pascaprogram GEF SGP.
- Pengelolaan DAS Bodri berfokus pada tiga pilar utama: tata kelola, rencana kerja strategis wilayah, dan kemandirian ekonomi komunitas.
Suara.com - Daerah Aliran Sungai (DAS) Bodri bukan sekadar aliran air yang membelah wilayah Jawa Tengah. Wilayah tersebut merupakan urat nadi kehidupan yang menyimpan kekayaan ekologis dan sejarah peradaban yang panjang. Tak hanya itu, wilayah DAS Bodri juga merupakan lumbung penghidupan bagi masyarakat di sekitarnya.
Ya, Sungai Bodri melintasi empat wilayah kabupaten: Wonosobo, Temanggung, Kendal, dan Semarang. Dengan luas sekitar 652 kilometer persegi, airnya mengalir dari lereng Gunung Prau sampai ke Laut Jawa. Sungai ini sangat penting bagi warga, terutama untuk pengairan sawah dan kebutuhan air waduk di wilayah Kendal.
Potensi besar ini dikupas dalam Workshop Closing Program Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia Fase 7 di Quest Hotel Simpang Lima, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (16/12/2025). Momen itu bersamaan dengan penyepakatan langkah strategis untuk menjamin keberlanjutan melalui Forum Komunikasi DAS Bodri (Fordas Bodri).
Nah bicara soal potensi wilayah, ternyata terkuak bahwa DAS Bodri memiliki bentang alam yang cukup unik. Keunikan itu terbentang mulai dari kawasan hulu di pegunungan Wonosobo dan Temanggung hingga wilayah hilir di pesisir Kendal. Hal tersebut terkuak dalam pemaparan teknis dari Ketua Fordas Bodri, Hernowo.
Berdasarkan penuturan Hernowo, studi terbaru menunjukkan adanya jejak peradaban lama di sepanjang aliran sungai ini. Ternyata, sejak dahulu kala, DAS Bodri telah menjadi pusat pemukiman dan sumber penghidupan masyarakat.
Secara ekologis, wilayah tersebut merupakan penyangga bagi ketersediaan air dan stabilitas lahan di empat kabupaten. Dari potensi kopi dan agroforestri di bagian hulu hingga ekosistem mangrove yang menjadi benteng pesisir di hilir, DAS Bodri menyimpan modal sosial dan alam yang sangat tinggi.
Sadar bahwa program pendanaan memiliki batas waktu, pelestarian alam harus berjalan selamanya. Workshop ini memfokuskan diri pada penguatan Fordas Bodri sebagai wadah kolaborasi pascaprogram melalui penandatanganan Berita Acara Kesepakatan Bersama rencana kerja tahun 2026.
Hernowo menekankan pentingnya komitmen kolektif ini sebagai jembatan masa depan. Kendati pendanaan selesai, bukan berarti akhir dari segalanya. Menurut Hernowo, pelestarian ekosistem DAS Bodri tidak boleh berhenti. Inilah yang menjadi komitmen bersama dari Fordas Bodri seperti ditegaskan kembali dalam diskusi tersebut.
"Meskipun pendanaan dari GEF SGP telah berakhir, kerja-kerja pelestarian di DAS Bodri tidak boleh berhenti. Fordas Bodri berkomitmen untuk menjadi wadah yang menyatukan seluruh elemen—mulai dari komunitas di tingkat tapak hingga pemerintah daerah—agar praktik baik yang sudah berjalan dapat terus dilanjutkan secara mandiri dan berkelanjutan."
Senada dengan hal tersebut, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Tretep, Kristiyadi, memberikan perspektif dari para pelaku di lapangan. Seperti diketahui, para pelaku di lapangan tersebut merupakan pihak yang bersentuhan langsung dengan lahan. Dia mengaku mendapatkan manfaat yang konkret.
"Kami di tingkat lapangan, khususnya para petani di wilayah hulu, merasakan manfaat nyata dari program ini, mulai dari teknis konservasi hingga penguatan kelembagaan. Bagi kami, kesepakatan keberlanjutan ini adalah janji untuk terus menjaga tanah dan air kami.”
“Kami berharap sinergi dengan Fordas Bodri terus kuat agar petani tidak berjalan sendirian dalam menjaga kelestarian DAS Bodri."
Tiga pilar utama pengelolaan DAS Bodri
Dalam upaya menjamin keberlanjutan ekosistem di sepanjang aliran sungai, disepakati tiga pilar utama yang menjadi pondasi penguatan Fordas Bodri. Tiga pilar utama tersebut disampaikan dalam workshop tersebut sebagai komitmen untuk terus melestarikan ekosistem masyarakat dan lingkungan di DAS Bodri.
Adapun pilar pertama menitikberatkan pada penguatan tata kelola, di mana forum ini didorong untuk memiliki legalitas yang kuat dan kemandirian lembaga. Langkah ini krusial agar setiap aspirasi masyarakat nggak cuma usulan belaka, tapi bisa terintegrasi secara formal ke dalam dokumen perencanaan daerah.
Pilar kedua diwujudkan lewat rencana kerja strategis spesifik per wilayah. Strategi ini mencakup pemulihan lahan kritis di kawasan hulu, penerapan sabuk hijau di wilayah tengah, hingga restorasi mangrove dan perlindungan pesisir di area hilir. Dengan pendekatan ini, setiap zona mendapatkan penanganan yang sesuai dengan karakteristik ekologisnya.
Nah, keberlanjutan ini semakin paripurna dengan pilar kemandirian ekonomi komunitas. Melalui hilirisasi produk lokal, seperti komoditas kopi dari Tretep, masyarakat dikasih akses meningkatkan nilai tambah ekonomi mereka. Insentif ekonomi diharapkan bisa mendorong masyarakat menjaga dan merawat lingkungan sumber penghidupan mereka.
Melalui kesepakatan ini, Fordas Bodri kini memegang peran sebagai dirigen kolaborasi yang memastikan sinergi antara komunitas, pemerintah, dan sektor swasta. Dengan semangat "Salam Lestari", para pemangku kepentingan berkomitmen agar keberhasilan di Fase 7 ini menjadi fondasi kokoh bagi pengelolaan DAS Bodri yang lebih tangguh di masa depan.
Berita Terkait
-
Program Dokter Spesialis Keliling Kawal Sukses CKG di Jateng
-
Pemprov Jateng Raih WTP 15 Kali Beruntun, Bukti Nyata Akuntabilitas Anggaran
-
12 Sekolah Rakyat Masuk Zona Hijau, Ditargetkan Rampung Juni 2026
-
Ahmad Luthfi Antarkan Jawa Tengah Raih Penghargaan Pengendalian Inflasi dari Kemendagri
-
Gubernur Ahmad Luthfi Ingin Pemerataan Pendidikan di Lereng Gunung Sumbing dan Merbabu
Terpopuler
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Beda Cushion Wardah Colorfit Hijau dan Krem: Intip Harga, Kandungan, dan Manfaatnya
Pilihan
-
Haji Bolot Dikabarkan Terkena Serangan Jantung, Posisi Masih di Rumah Sakit
-
Derita Masyarakat RI Bertambah Kini Harga Pertamax Naik, Apa yang Harus Dilakukan?
-
Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
-
Namanya Terseret Isu Dugaan Korupsi BGN, Yahya Golkar: Semua Anggota Komisi IX DPR Tak Terlibat!
-
Perhatian! Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250/Liter
Terkini
-
5 Warna Dapur Terbaik Menurut Feng Shui yang Bisa Mendatangkan Rezeki dan Kemakmuran
-
Terpopuler: Apa Saja Weton Tulang Wangi, Rekomendasi Sunscreen SPF 30 untuk Indoor
-
Naik Kereta Bukan Sekadar Perjalanan, Kini Stasiun Jadi Lifestyle Space Baru
-
Apa Itu Tapa Bisu? Tradisi yang Dilakukan Setiap Malam 1 Suro
-
Perlukah Pakai Bedak Tabur usai Pakai Cushion? Ini Saran MUA agar Makeup Tahan Lama
-
5 Lip Serum untuk Atasi Bibir Kering dan Pecah-pecah, Bisa Melembapkan dan Mencerahkan
-
Rekam Jejak Said Iqbal, Sang Tokoh Buruh yang Dilantik Jadi Penasihat Khusus Presiden
-
Handbody Apa yang Mengandung Kolagen? Ini 5 Pilihan Murah yang Dapat Review Bagus
-
5 Skincare Andalan Asha Assuncao "Terikat Janji" untuk Kulit Sensitif dan Berjerawat
-
Kurangi Emisi Tak Selalu Butuh Teknologi Baru: Pelajaran dari Arsitektur Vernakular di Indonesia