-
Psikolog Anas Satriyo ungkap alasan remaja korban child grooming sulit melawan pelaku.
-
Bagian otak remaja untuk menilai risiko belum berkembang sempurna secara biologis.
-
Manipulasi halus, relasi kuasa, dan respons trauma membeku menjadi faktor utama.
Remaja yang tumbuh di lingkungan rumah otoriter dan minim ruang dialog cenderung memiliki pola patuh demi aman.
Sebab, mereka terbiasa takut pada konsekuensi dan sering menyalahkan diri sendiri.
"Saat terancam, yang muncul bukan melawan, tapi di otaknya adalah diam, menuruti, dan bertahan," tambahnya.
4. Tekanan Ekonomi Bikin Tak Berdaya
Latar belakang kemiskinan juga salah satu yang membuat ancaman pelaku terasa sangat nyata.
Bagi remaja yang sejak kecil hidup terbatas dan terbiasa bersyukur meski tidak nyaman, ancaman kehilangan fasilitas atau keamanan dari pelaku terasa seperti kiamat kecil.
Rasa tidak punya pilihan inilah yang memperkuat posisi pelaku melakukan grooming.
5. Pernah Menjadi Korban Bullying
Riwayat pernah dirundung juga merusak harga diri anak dan menciptakan rasa haus akan penerimaan.
Baca Juga: 5 Rekomendasi HP Infinix RAM 8 GB Paling Murah, Terbaru Januari 2026
Ketika pelaku grooming datang dan terkesan memilih mereka, otak remaja menangkapnya sebagai kesempatan hidup kedua.
Mereka merasa berharga karena ada yang memperhatikan, sehingga sulit untuk melepaskan diri.
6. Relasi Kuasa yang Timpang di Fase Meniti Karier
Kondisi ini sering terjadi pada remaja yang baru masuk ke dunia hiburan atau karier profesional, seperti yang dialami Aurelie Moeremans sewaktu usia 15 tahun.
Sebagai artis pendatang baru yang belum punya kuasa atau perlindungan, kondisi ini bisa membuat korban sangat bergantung pada figur dewasa.
Ketakutan akan kehilangan karier dan kebingungan membedakan relasi personal dengan eksploitasi membuat mereka terjebak.
"Ini bukan pilihan bebas, tapi kondisi terjebak," tegas Anas.
7. Respons Biologis Tubuh
Dalam kondisi trauma atau bahaya, tubuh manusia memiliki tiga respons alami: fight (melawan), flight (kabur), atau freeze (membeku).
Sayangnya, banyak korban grooming masuk ke mode freeze ketika dalam kondisi trauma atau bahaya.
Mereka memilih pasrah atau mengikuti perintah pelaku demi selamat.
Anas menekankan bahwa ini adalah reaksi biologis tubuh dan otak, bukan tanda kelemahan karakter atau tanda bahwa korban menikmati perlakuan tersebut.
Sebagai penutup, Anas Satriyo mengingatkan masyarakat untuk berhenti menyalahkan korban dengan logika orang dewasa.
"Pertanyaan 'Kenapa tidak melawan?' adalah pertanyaan dari otak usia dewasa yang merasa aman. Korban saat itu hidup dalam otak remaja, trauma, relasi kuasa, dan ancaman. Yang dialami korban bukan ketidakberanian, tapi manipulasi sistematis dan kondisi hidup yang membuat pilihan terasa tidak ada," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Masih 16 Tahun, Adegan Ranjang Richelle Skornicki dengan Aliando di Pernikahan Dini Gen Z Dikecam
-
Siapa Kelly, Milo, Tom dan Zane di Broken Strings Aurelie Moeremans, Ada yang Kena Karma?
-
Rekam Jejak Kak Seto yang Ikut Terseret Isu Child Grooming Aurelie Moeremans
-
KPAI Soal Kisah Aurelie Moeremans: Child Grooming Kerap Tak Terdeteksi karena Minim Pengetahuan
-
Apa Pekerjaan Roby Tremonti? Diduga Ingin Sewa Buzzer Tapi Bayarnya Pakai 'Take and Give'
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
Terkini
-
Berapa Harga Serum Viva untuk Flek Hitam? Ini Cara Pakai yang Benar agar Hasil Maksimal
-
BAF Lanjutkan Gerakan Hijau, 20 Ribu Mangrove Ditanam di Jawa Tengah
-
5 Koleksi Jam Tangan Dokter Tirta Harga Jutaan, Ngaku Ada yang Beli Second
-
3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
-
Sering Ngantuk saat Kerja? Coba 9 Tips Ini agar Tetap Fokus tanpa Harus Minum Kopi
-
6 Sepatu Jalan Terbaik yang Nyaman Dipakai Lari dari Brand Luar dan Lokal
-
BPOM Temukan 11 Kosmetik Lokal Berbahaya, Cek Daftar Lengkapnya
-
5 Zodiak dengan Horoskop Terbaik pada 15 Juli 2026, Apakah Kamu Termasuk?
-
Mandy CJ Gelar Pameran Tunggal The Way Back, Jadikan Seni sebagai Jembatan Toleransi
-
Ivan Gunawan hingga Ruben Onsu Bicara Soal Reset Hidup: Bukan Sekadar Mengejar Kesuksesan