Lifestyle / Komunitas
Selasa, 20 Januari 2026 | 14:19 WIB
Ilustrasi furnitur. (Freepik)
Baca 10 detik
  • Empat pameran dagang industri furnitur Indonesia akan terintegrasi menjadi platform terpadu bernama Indonesia Materials, Manufacturing & Furniture Connect pada September 2026 di Jakarta.
  • Platform terpadu ini mempertemukan seluruh rantai nilai industri, mulai material hulu hingga produk jadi, untuk mendukung pendekatan yang lebih berkelanjutan.
  • Integrasi ekosistem ini bertujuan memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat regional sekaligus mendorong furnitur memiliki nilai tambah berbasis proses dan dampak lingkungan.

Suara.com - Gaya hidup berkelanjutan kini tak lagi berhenti pada pilihan tas belanja atau sedotan stainless. Perlahan tapi pasti, kesadaran itu merambah ruang yang lebih intim: rumah kita sendiri.

Dari kursi yang kita duduki setiap hari, meja makan tempat keluarga berkumpul, hingga lemari yang menyimpan barang-barang personal, furnitur kini mulai dipandang bukan sekadar soal estetika, melainkan juga soal asal-usul, proses, dan dampaknya bagi lingkungan.

Kesadaran inilah yang mendorong perubahan besar di industri furnitur Indonesia. Mulai 2026, empat pameran dagang terkemuka yang mencakup sektor material, manufaktur, furnitur, dan interior akan disatukan dalam satu platform industri terpadu bertajuk Indonesia Materials, Manufacturing & Furniture Connect. Diselenggarakan pada 23–27 September 2026 di Jakarta, ekosistem ini menjadi cerminan bagaimana industri furnitur bergerak menuju pendekatan yang lebih terintegrasi—dan lebih berkelanjutan.

Furnitur Tak Lagi Berdiri Sendiri

Selama ini, konsumen kerap hanya berinteraksi dengan produk jadi: sofa yang nyaman, meja dengan desain minimalis, atau rak kayu bergaya modern. Namun di balik itu, ada rantai panjang yang menentukan apakah sebuah furnitur ramah lingkungan atau justru meninggalkan jejak ekologis besar.

Melalui platform terpadu ini, seluruh rantai nilai industri furnitur—mulai dari material hulu, teknologi produksi, hingga desain dan produk siap pakai—dipertemukan dalam satu ekosistem.

Di sisi hulu, interzum jakarta menghadirkan material, komponen, permukaan, dan solusi produksi interior. Di tahap manufaktur, IFMAC WOODMAC menampilkan mesin dan teknologi produksi furnitur skala industri. Sementara di hilir, IFFINA+ menjadi ruang bagi furnitur jadi, desain, dan produk gaya hidup yang siap masuk ke rumah konsumen.

Pendekatan ini penting karena keberlanjutan tak bisa dibangun secara parsial. Furnitur yang disebut “eco-friendly” tak cukup hanya cantik di etalase; ia harus lahir dari material yang bertanggung jawab dan proses produksi yang efisien serta sadar lingkungan.

Ketika Keberlanjutan Jadi Bagian dari Gaya Hidup

Baca Juga: MIND ID Perkuat Komunikasi Keberlanjutan demi Dukung Pembangunan Peradaban Masa Depan

Bagi konsumen urban, terutama generasi muda, keberlanjutan kini menjadi bagian dari identitas gaya hidup. Mereka ingin tahu: kayu dari mana furnitur itu berasal? Bagaimana proses produksinya? Apakah desainnya tahan lama atau hanya mengikuti tren sesaat?

Menurut Ketua ASMINDO, Dedy Rochimat, penyelarasan platform industri ini mendukung pengembangan bisnis sekaligus membuka akses ke pasar internasional melalui sistem yang menyeluruh dari hulu ke hilir.

Artinya, keberlanjutan tidak lagi diposisikan sebagai beban, melainkan sebagai nilai tambah—baik bagi produsen maupun konsumen.

Indonesia Materials, Manufacturing & Furniture Connect. (Dok. Ist)

Dari perspektif desain, ekosistem ini juga membuka ruang kolaborasi lintas disiplin. Ketua HDII periode 2024–2027, Adi Surya Triwibowo, menilai bahwa menghubungkan desain, material, dan produksi dalam satu pekan industri terkoordinasi akan mendorong kolaborasi yang lebih efektif di sepanjang rantai nilai. Bagi desainer, ini berarti peluang untuk menciptakan karya yang tidak hanya estetis, tetapi juga bertanggung jawab.

Rumah yang Lebih Sadar Lingkungan

Integrasi strategis yang digagas Amara Group dan Koelnmesse GmbH ini juga memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat manufaktur dan sumber produksi regional. Namun lebih dari itu, ia memberi sinyal perubahan arah: industri furnitur Indonesia tak hanya mengejar skala dan pasar, tetapi juga kualitas proses dan dampaknya terhadap lingkungan.

Load More