- Masyarakat adat Jingitiu di Kabupaten Sabu Raijua menggunakan rasi bintang sebagai astronomi tradisional untuk menentukan waktu tanam dan musim hujan.
- Mereka memberlakukan pembatasan aktivitas ketat selama Januari hingga Maret, ditandai ritual Katikurai, demi menjaga keseimbangan ekologis.
- Kearifan lokal mencakup aturan penanaman pohon lontar dan sistem pangan berbasis sorgum, kini didukung panel surya sejak 2024.
Suara.com - Masyarakat adat Jingitiu di Kampung Adat Gopo, Kecamatan Sabu Liae, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur, menjalin kesepakatan rahasia dengan alam dalam menapaki jejak kehidupan. Pemeluk kepercayaan asli Sabu tersebut telah mewarisi kearifan yang membuat mereka tetap tegak kendati diimpit iklim nan keras.
Pulau Sabu Raijua dikenal memiliki iklim semi-arid alias separuh kering. Curah hujannya rendah. Tidak banyak vegetasi yang dapat hidup di iklim ini. Yang ada hanya semak-semak dan pepohonan berduri. Untuk menentukan turunnya hujan, masyarakat adat Jingitiu memiliki cara yang terbilang cukup unik: melihat rasi bintang.
Ya, bagi masyarakat adat Jingitiu, waktu memang tidak diukur dengan jam digital. Mereka menggunakan rasi bintang. Nah, uniknya astronomi tradisional ini menjadi kompas bagi mereka untuk menentukan kapan hujan akan menyapa tanah yang gersang. Terlebih, kemarau di Sabu Raijua cukup panjang, yakni bisa berlangsung 8 hingga 9 bulan per tahun.
Terkait cara unik ini, Lomi Mone selaku Deo Rai atau pemimpin adat di wilayah Adat Gopo mengatakan, ketika penentuan musim, masyarakat Jingitiu memang membaca rasi bintang dari tempat khusus. Pengetahuan astronomi tradisional ini membantu mereka merencanakan waktu tanam dengan sangat tepat.
“Di bulan tertentu, saya lihat. Ada posisi tertentu yang bisa menjadi petunjuk musim hujan datang cepat atau lambat,” ujar Lomi Mone saat ditemui tim Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia di kediamannya di Kampung Adat Gopo, Kecamatan Sabu Liae, Senin (19/1/2026).
Pun masyarakat Jingtiu memiliki kalender adat sendiri berdasarkan rasi bintang. Sistem penanggalan ini menetapkan bulan tertentu sebagai masa jeda bagi alam. Antara Januari hingga Maret, Sabu memasuki periode ‘bulan keramat’. Saat itu, aktivitas manusia dibatasi dengan ketat demi menjaga keseimbangan ekologis.
Lomi Mone pun menekankan pentingnya larangan ini. “Tidak boleh bunuh hewan-hewan, tidak boleh menebang pohon. Orang Jingitiu tidak akan bangun rumah dari September sampai Maret atau satu musim.”
Kepercayaan ini, menurut Lomi Mone, memegang prinsip darah yang jatuh ke tanah selama periode ini bisa berubah menjadi hama yang akan merusak tanaman mereka di masa depan. Segala aktivitas baru boleh berjalan normal setelah ritual Katikurai dilaksanakan.
Adapun ritual Katikurai bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk penghormatan dan syukur kepada pencipta dan para leluhur. Fokus utama ritual antara lain memohon kesuburan tanah sekaligus keberhasilan panen, menjaga keharmonisan sosial serta spiritual masyarakat agar terhindar dari marabahaya atau penyakit dan mempererat ikatan antarklan.
Baca Juga: Menjemput Air di Jantung Kebun, Ikhtiar Desa Lobohede Sabu Raijua Lawan Krisis Iklim
Lontar, Pohon Kehidupan dan Aturan Penanamannya
Pohon lontar adalah napas bagi orang Sabu. Dari pohon ini, mereka mendapatkan makanan, minuman, bahan anyaman, hingga material bangunan. Tapi, imbuh Lomi Mone, penanaman ‘pohon hayat’ ini tidak bisa sembarangan. Ada aturan pamali (larangan adat) dalam proses penanaman. Tujuannya, demi keselamatan kerja.
“Kalau tanam pohon lontar, dalam kepercayaan Jingitiu, tidak boleh pakai tangan. Itu menjadi pamali. Jika pakai tangan nanti bisa menyebabkan kecelakaan kerja, misalnya jatuh,” ujar Lomi Mone.
Kesucian ini tidak cuma berlaku untuk lontar. Air pun dipandang sebagai sumber kehidupan yang harus dihormati lewat ritual Ketakorai, sebuah doa meminta hujan dan berkah pada mata air. Tempat-tempat ritual leluhur dilarang keras untuk disentuh oleh pembangunan rumah atau aktivitas pertanian lainnya.
Ritual Kelimpahan dan Pangan Lokal
Ketahanan pangan masyarakat Jingitiu bersandar pada keragaman tanaman lokal seperti sorgum, kacang hijau, dan jagung. Sorgum memiliki tempat istimewa; bibitnya diyakini berasal dari laut yang ditemukan di dalam kerang raksasa (kima). Untuk memastikan persediaan pangan tidak habis sebelum panen berikutnya, mereka memiliki ritual unik menggunakan buah nitas.
Berita Terkait
Terpopuler
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- 5 Sepatu Lari Terbaik Harga Rp200 Ribuan, Nyaman Dipakai untuk Daily hingga Trail Run
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Pelatih Indonesia All Stars Minta Pemain Jangan Minder Saat Tantang Aston Villa
-
Promo RI: Belanja Kebutuhan Harian di Farmers Market dan Pasarina Dapet Diskon Besar!
-
Raih Opini WTP BPK, Purbaya Klaim Jadi Bukti Fiskal Sehat
-
Mendiktisaintek Didesak Tindak Lanjuti Rekomendasi Irjen soal Dugaan Plagiasi Guru Besar Unsoed
-
Bayar Cicilan Kendaraan Pakai BRImo Bisa Dapat Cashback 10 Persen, Cek Syaratnya!
-
Bea Cukai Ungkap Penerimaan Negara dari Ekspor Sawit Pangkalan Bun Tembus Rp 1,74 Triliun
-
Sempat Sulitkan Timnas Indonesia, John Herdman Angkat Topi Buat Timor Leste
-
Investasi Rp1 Triliun, Jakarta Kembangkan Kawasan Peternakan Sapi Terintegrasi di Banten
-
Di Balik Kemenangan Gugatan MBG, Putusan MK Dinilai Sarat Kompromi Politik
-
Mahasiswa UGM Terangi Jalan Gelap Banyuwangi, Hadirkan Energi Bersih dan Ekonomi Sirkular