- Masyarakat adat Jingitiu di Kabupaten Sabu Raijua menggunakan rasi bintang sebagai astronomi tradisional untuk menentukan waktu tanam dan musim hujan.
- Mereka memberlakukan pembatasan aktivitas ketat selama Januari hingga Maret, ditandai ritual Katikurai, demi menjaga keseimbangan ekologis.
- Kearifan lokal mencakup aturan penanaman pohon lontar dan sistem pangan berbasis sorgum, kini didukung panel surya sejak 2024.
“Ada buah nitas, salah satu untuk ritual. Supaya persediaan makanan terjaga terus. Orangnya bisa kenyang terus,” jelas Bapak Lomi Mone.
Selain itu, terdapat makanan adat bernama Woperaggu yang tidak hanya menjadi asupan fisik bagi yang hidup, tetapi juga dipercayai sebagai bekal bagi arwah dalam perjalanan panjang menuju sang pencipta.
Berdasarkan pemetaan pangan lokal pada 2013 oleh Yayasan Pikul, Kabupaten Sabu Raijua memang memiliki tumbuhan pangan lokal. Beberapa tanaman ini masih ditanam sebagai sumber karbohidrat, seperti sorgum dan kacang hijau.
Integrasi Teknologi dan Ketangguhan Mental
Masyarakat jingitiu memang sangat memegang teguh tradisi. Tapi, hal itu tidak membuat mereka menutup diri dari kemajuan zaman. Sejak 2024, lewat sokongan GEF SGP Indonesia, panel surya telah menerangi rumah-rumah mereka.
Kehadiran listrik ini memberikan dampak sosial-ekonomi yang nyata bagi kaum perempuan.Dengan lampu tenaga surya, aktivitas menenun kain tenun ikat tradisional yang menjadi salah satu pilar ekonomi keluarga dapat dilakukan lebih fleksibel.
Menanggapi pengadaan lampu tenaga surya ini, Lomi Mane mengatakan, “Solarnya bermanfaat (bagi para kaum perempuan–RED) ketika menenun pada tenun malam hari.”
Pada akhirnya, kehidupan di Sabu Liae adalah tentang kekuatan karakter yang ditempa oleh alam. Bapak Lomi Mone menutup kisahnya dengan merefleksikan bagaimana leluhur mereka bertahan hidup dengan tangan kosong.
“Zaman dulu memang harus bekerja seperti itu. Harus jadi orang kuat tanpa bantuan teknologi. Mereka dipaksa untuk hidup seperti itu.”
Baca Juga: Menjemput Air di Jantung Kebun, Ikhtiar Desa Lobohede Sabu Raijua Lawan Krisis Iklim
Filosofi ini tetap hidup hingga kiwari. Dengan kombinasi antara diversifikasi mata pencaharian—mulai dari menyadap lontar, beternak, hingga menenun—dan sistem gotong royong yang kuat, masyarakat Jingitiu membuktikan kearifan lokal adalah teknologi terbaik untuk menghadapi ketidakpastian iklim global.
Masyarakat adat Jingitiu adalah komunitas masyarakat Sabu yang menjaga alam melalui kepercayaan leluhur, hukum adat, dan pengetahuan ekologis, yang telah terbukti tangguh di lingkungan gersang selama berabad-abad.
Sekadar informasi, berdasarkan jurnal Universitas Padjadjaran, masyarakat adat Jingitiu merupakan salah satu penganut kepercayaan di Kabupaten Sabu Raijua. Mereka mempercayai adanya Deo Ama, yaitu Sang Pencipta yang berada jauh dari kehidupan sehari-hari dan tokoh tertinggi yang penuh misteri, paling dihormati dan paling ditakuti.
Selain itu, dalam kepercayaan Jingitiu dipercayai adanya makhluk halus yang tingkatannya di bawah Deo Ama, yaitu Rai Balla yang dipercayai menjaga bumi, Dahi Balla yang menjaga laut, dan Riru Balla yang menjaga langit.
Berita Terkait
Terpopuler
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- 5 Sepatu Lari Terbaik Harga Rp200 Ribuan, Nyaman Dipakai untuk Daily hingga Trail Run
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Raih Opini WTP BPK, Purbaya Klaim Jadi Bukti Fiskal Sehat
-
Mendiktisaintek Didesak Tindak Lanjuti Rekomendasi Irjen soal Dugaan Plagiasi Guru Besar Unsoed
-
Bayar Cicilan Kendaraan Pakai BRImo Bisa Dapat Cashback 10 Persen, Cek Syaratnya!
-
Bea Cukai Ungkap Penerimaan Negara dari Ekspor Sawit Pangkalan Bun Tembus Rp 1,74 Triliun
-
Sempat Sulitkan Timnas Indonesia, John Herdman Angkat Topi Buat Timor Leste
-
Investasi Rp1 Triliun, Jakarta Kembangkan Kawasan Peternakan Sapi Terintegrasi di Banten
-
Di Balik Kemenangan Gugatan MBG, Putusan MK Dinilai Sarat Kompromi Politik
-
Mahasiswa UGM Terangi Jalan Gelap Banyuwangi, Hadirkan Energi Bersih dan Ekonomi Sirkular
-
Sudaryono Geram MBG Disebut Habiskan Uang Negara: Tanpa Program Ini Sekolah Rusak Tetap Banyak
-
Unai Emery Senang Kembali ke Indonesia, Aston Villa Siap Suguhkan Permainan Terbaik di GBK