- Perempuan modern menjalankan banyak peran, sehingga membutuhkan ruang emosional dan sosial untuk merasa aman.
- Di balik semua tuntutan tersebut, ada satu hal yang kerap terlupakan: perempuan juga butuh ruang untuk berhenti sejenak, menjadi diri sendiri, dan merasa aman.
- Komunitas ini menekankan kolaborasi antar perempuan untuk menumbuhkan kepercayaan diri dan kemandirian bersama.
Suara.com - Di tengah ritme hidup yang makin cepat, perempuan Indonesia menjalani banyak peran sekaligus. Di satu sisi ia adalah individu dengan mimpi dan kebutuhan pribadi. Di sisi lain, ia bisa menjadi profesional, ibu, pasangan, hingga penggerak komunitas. Semua peran itu berjalan beriringan—sering kali tanpa jeda.
Namun di balik semua tuntutan tersebut, ada satu hal yang kerap terlupakan: perempuan juga butuh ruang untuk berhenti sejenak, menjadi diri sendiri, dan merasa aman.
Bukan sekadar ruang fisik, tapi ruang emosional dan sosial. Ruang di mana perempuan bisa bercerita tanpa takut dihakimi, belajar tanpa merasa tertinggal, dan berbagi pengalaman tanpa rasa malu. Ruang seperti inilah yang sering menjadi titik awal lahirnya kembali rasa percaya diri dan kesadaran akan potensi diri.
Ketika “Ruang Aman” Jadi Kebutuhan, Bukan Sekadar Konsep
Belakangan, kesadaran tentang pentingnya safe space atau ruang aman bagi perempuan makin terasa relevan. Banyak perempuan menyimpan cerita, tekanan, bahkan mimpi yang sulit mereka ungkapkan di ruang publik yang serba cepat dan penuh tuntutan.
Di ruang yang aman dan suportif, perempuan bisa saling menguatkan lewat pengalaman nyata—tentang membagi waktu antara rumah dan kerja, mencoba hal baru di usia yang tak lagi muda, atau memulai langkah kecil untuk lebih mandiri secara finansial. Dari percakapan sederhana seperti ini, sering kali tumbuh keberanian besar.
Melihat kebutuhan tersebut, brand pakaian dalam wanita Felancy menghadirkan sebuah inisiatif komunitas bernama “Felancy Percaya Wanita”. Komunitas ini dirancang sebagai ruang aman bagi perempuan untuk terhubung, belajar, dan berkembang bersama.
Belajar, Berbagi, dan Bertumbuh Bersama
Lewat komunitas ini, perempuan diajak tidak hanya untuk saling berbagi cerita, tapi juga membekali diri dengan keterampilan praktis yang relevan dengan kehidupan masa kini. Salah satu kegiatannya adalah kelas pengembangan diri yang membahas hal-hal dekat dengan keseharian perempuan modern: membuat konten untuk berjualan, memaksimalkan ponsel untuk berkarya, mengatur waktu, hingga membangun personal branding.
Kelas yang digelar akhir Januari lalu menghadirkan influencer Zata Ligouw sebagai pembicara. Ia menilai keterampilan seperti ini bukan sekadar tren digital, tetapi bisa menjadi pintu bagi perempuan untuk lebih mandiri dan percaya diri.
Baca Juga: Ketahanan Pangan Berbasis Komunitas, Strategi PNM Perkuat Gizi Masyarakat
Ketika perempuan merasa punya kemampuan, peluang, dan komunitas yang mendukung, rasa berdaya itu tumbuh secara alami. Dari yang awalnya hanya ingin coba-coba, bisa berkembang menjadi sumber penghasilan, jejaring baru, bahkan rasa bangga pada diri sendiri.
Dari Kompetisi ke Kolaborasi
Menariknya, konsep ruang aman yang dibawa komunitas ini juga menekankan kolaborasi, bukan persaingan. Perempuan didorong untuk saling membuka peluang, berbagi jaringan, dan tumbuh bersama.
Pendekatan seperti ini penting, karena selama ini tak sedikit perempuan merasa harus “kuat sendiri”. Padahal, dengan dukungan komunitas yang sehat, perjalanan menjadi lebih ringan. Ada tempat untuk bertanya, belajar dari pengalaman orang lain, sekaligus merayakan pencapaian sekecil apa pun.
Pada akhirnya, menghadirkan ruang aman bagi perempuan bukan lagi sekadar wacana. Ini adalah kebutuhan nyata di tengah tekanan hidup modern. Dari ruang yang aman, lahir perempuan yang lebih percaya diri, lebih berani mengambil peluang, dan lebih siap menentukan arah hidupnya sendiri.
Dan ketika perempuan bertumbuh bersama, dampaknya tak hanya terasa bagi diri mereka, tapi juga bagi keluarga, lingkungan, dan masa depan yang lebih setara.
Berita Terkait
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Sepeda Murah Kelas Premium, Fleksibel dan Awet Buat Goweser
- 5 City Car Bekas yang Kuat Nanjak, Ada Toyota hingga Hyundai
- 5 HP Murah RAM Besar di Bawah Rp1 Juta, Cocok untuk Multitasking
- Link Epstein File PDF, Dokumen hingga Foto Kasus Kejahatan Seksual Anak Rilis, Indonesia Terseret
Pilihan
-
Bukan Ragnar Oratmangoen! Persib Rekrut Striker Asal Spanyol, Siapa Dia?
-
Obsesi Epstein Bangun 'Pabrik Bayi' dengan Menghamili Banyak Perempuan
-
5 HP Baterai Jumbo untuk Driver Ojol agar Narik Seharian, Harga mulai dari Rp2 Jutaan
-
Bom Molotov Meledak di SMPN 3 Sungai Raya, Polisi Ungkap Terduga Pelaku Siswa Kelas IX
-
KPK Benarkan Lakukan OTT di Jakarta Hari Ini, Siapa Targetnya?
Terkini
-
BPJS Kesehatan PBI Mendadak Nonaktif? Begini Cara Mengaktifkannya Kembali
-
Siapa Ghislaine Maxwell? Tak Sekadar Kawan Dekat Jeffrey Epstein, Ini Perannya
-
5 Lulur di Indomaret untuk Mencerahkan Badan, Ampuh Angkat Sel Kulit Mati
-
Siapa yang Pertama Lapor? Begini Awal Mula Terbongkarnya Skandal Jeffrey Epstein
-
5 Bantal Empuk Ala Hotel Versi Low Budget, Bikin Tidur Nyenyak Berkualitas
-
Cara Jeffrey Epstein Masuk ke Lingkaran Kaum Elit Dunia, Berawal dari Guru Matematika
-
Apakah Sepatu Running Bisa untuk Gym? Cek 5 Rekomendasi Sepatu Ngegym Low Budget yang Nyaman
-
Bukan Cuma Jokowi dan Sri Mulyani! Ini Daftar Nama Tokoh RI yang Disebut di Epstein Files
-
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
-
Pulau Pribadi Jeffrey Epstein Ada di Mana? Diduga Jadi 'Saksi Bisu' Skandal Elite Dunia