Lifestyle / Male
Minggu, 01 Maret 2026 | 19:17 WIB
Pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei [Khamenei.ir]
Baca 10 detik
  • Ali Khamenei dilaporkan wafat pada 28 Februari 2026 dalam serangan militer gabungan AS–Israel, memicu kehebohan global.
  • Ia memimpin Iran sejak 1989, menggantikan Ruhollah Khomeini, dan menjadi figur sentral politik Iran selama lebih dari tiga dekade.
  • Publik menyoroti latar belakang keluarga dan klaim garis keturunannya dari Nabi Muhammad SAW.

Suara.com - Kabar wafatnya Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Sabtu, 28 Februari 2026 menggemparkan dunia.

Peristiwa tersebut sekaligus memunculkan banyak pertanyaan tentang siapa sosok pemimpin tertinggi Iran tersebut serta latar belakang keluarganya.

Ali Khamenei dikenal sebagai pemimpin Iran sejak 1989 setelah menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini, dan berkuasa lebih dari tiga dekade hingga tewas pada usia 86 tahun.

Ia menjadi figur sentral dalam politik dalam dan luar negeri Iran serta simbol rezim yang keras terhadap Barat.

Di tengah reaksi global atas kematiannya, publik juga penasaran apakah Khamenei memiliki garis keturunan langsung dari Nabi Muhammad SAW.

Lantas, apakah benar Ali Khamenei keturunan Nabi Muhammad? Berikut penjelasan lengkap mengenai profil Ali Khamenei.

Profil Ali Khamenei, Apakah Keturunan Nabi Muhammad?

Pemimpin Iran Ali Khamenei. (Khamenei.ir)

Merangkum Britannica, Ali Khamenei dikenal tokoh sentral dalam sejarah modern Iran yang menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran sejak 1989 hingga wafatnya pada 28 Februari 2026.

Selama lebih dari tiga dekade, ia menjadi figur paling berkuasa di negara tersebut, mengendalikan urusan politik, militer, hingga kebijakan luar negeri.

Ali Khamenei lahir pada 19 April 1939 di kota suci Masyhad dan tumbuh dalam keluarga religius yang aktif dalam pendidikan Islam.

Baca Juga: Apa Arti Haidar? Akun Resmi Iran Unggah Foto Pedang Legendaris setelah Khamenei Meninggal

Ia kemudian menimba ilmu di Qom, pusat teologi Syiah, dan terlibat dalam gerakan oposisi yang menentang monarki Shah Iran sebelum Revolusi Islam 1979.

Setelah revolusi berhasil menggulingkan Shah, Ali Khamenei menjadi bagian penting pemerintahan baru dan terpilih sebagai Presiden Iran pada 1981, jabatan yang dipegangnya hingga 1989.

Masa kepresidenannya diwarnai keterlibatan dalam konflik regional dan konsolidasi kekuasaan di tubuh Republik Islam.

Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran. [mfa.gov.ir]

Ketika Ayatollah Ruhollah Khomeini wafat pada 1989, Ali Khamenei dipilih sebagai Pemimpin Tertinggi baru melalui perubahan konstitusi yang memungkinkan jabatan itu disandangnya.

Ia kemudian memegang kekuasaan absolut sebagai rahbar, menjadikan posisinya lebih kuat daripada presiden atau parlemen.

Sebagai pemimpin, Ali Khamenei dikenal karena sikap kerasnya terhadap Barat, terutama AS dan Israel, serta dukungannya terhadap jaringan kelompok pro-Iran di kawasan seperti Hezbollah dan milisi di Irak atau Yaman.

Kebijakannya ini memperkuat posisi Iran sebagai kekuatan regional yang kontroversial dan sering berkonfrontasi dengan musuhnya.

Di dalam negeri, rezim yang dipimpin Khamenei menghadapi protes besar dan kritik terhadap pembatasan kebebasan sipil serta penindasan terhadap lawan politik.

Demonstrasi besar seperti gerakan "Woman, Life, Freedom" pada 2022 menunjukkan tekanan sosial dan keinginan reformasi yang menantang kepemimpinannya.

Lalu, apakah Ali Khamenei keturunan Nabi Muhammad SAW? Mengutip The Guardian dan Britannica, umat Islam aliran Syiah meyakini Ali Khamenei sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW.

Ali Khamenei diyakini secara luas merupakan seorang sayyid, keturunan Nabi Muhammad SAW yang memiliki garis nasab melalui putri Rasulullah, Fatimah Az-Zahra.

Menurut silsilah yang diyakini sejumlah kelompok, garis keturunan Ali Khamenei ditelusuri melalui cucu Nabi, Husain as., kemudian berlanjut ke Ali Zainal Abidin serta sejumlah tokoh Ahlul Bait (keluarga Muhammad) lainnya.

Sementara itu, wafatnya Ali Khamenei akibat serangan militer gabungan AS dan Israel menandai titik balik dalam sejarah politik Iran, menciptakan kekosongan kepemimpinan dan ketidakpastian masa depan rezim teokratis.

Pemerintah Iran menyatakan masa berkabung nasional selama 40 hari dan tantangan besar kini menanti dalam proses suksesi selanjutnya.

Warisan Ali Khamenei tetap menjadi topik perdebatan tajam di berbagai penjuru dunia, dengan pendukung melihatnya sebagai pembela kedaulatan Iran dan kritikus menyebutnya biang otoritarianisme dan represi.

Bagaimanapun, pengaruhnya terhadap politik dalam negeri dan geopolitik Timur Tengah selama hampir empat dekade tidak bisa diabaikan.

Load More