Lifestyle / Komunitas
Senin, 02 Maret 2026 | 14:27 WIB
Ilustrasi perang di Selat Hormuz. (AI)
Ilustrasi awak kapal induk yang sedang berdinas di selat Hormuz. (Gemini AI)

Pengaruh penutupan Selat Hormuz pada harga minyak

Ketika muncul ancaman penutupan Selat Hormuz, pasar langsung bereaksi. Bahkan sebelum benar-benar ditutup, ketegangan saja sudah cukup membuat harga minyak naik. Hal ini terjadi karena pelaku pasar memperhitungkan risiko gangguan pasokan.

Menurut analisis yang dikutip dari Al Jazeera, sekitar 30 persen perdagangan minyak laut dunia melewati selat ini. Jika jalur ini terganggu, maka sebagian besar pasokan global akan terdampak secara langsung.

Selain itu, dampaknya tidak hanya pada minyak mentah. Produk turunan seperti bahan bakar pesawat, bensin, dan nafta juga ikut terpengaruh. Ketika distribusi terhambat, harga akan terdorong naik karena permintaan tetap tinggi sementara pasokan berkurang.

Saat ini saja, sudah terlihat tanda-tanda gangguan. Ratusan kapal tanker memilih untuk menunggu di luar kawasan selat karena alasan keamanan. Aktivitas militer yang meningkat juga membuat risiko perjalanan semakin tinggi.

Para analis memperkirakan, jika penutupan benar-benar terjadi, harga minyak bisa melonjak tajam dalam waktu singkat. Bahkan bukan sekadar naik bertahap, tetapi bisa langsung melonjak drastis karena kepanikan pasar.

Dampak lanjutan juga tidak bisa dihindari. Kenaikan harga minyak akan mendorong inflasi global. Biaya produksi meningkat, harga barang naik, dan daya beli masyarakat bisa tertekan. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia.

Pengaruh penutupan Selat Hormuz untuk Indonesia

Bagi di Indonesia, dampak penutupan Selat Hormuz mungkin tidak terlihat langsung, tetapi efeknya nyata. Indonesia masih bergantung pada impor minyak untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Ketika harga minyak dunia naik, biaya impor otomatis ikut meningkat.

Baca Juga: Militer AS Gunakan AI Claude Serang Iran, Padahal Trump Sudah Putus Hubungan dengan Pemiliknya

Hal ini akan membebani anggaran negara. Setiap kenaikan harga minyak global berpotensi menambah beban fiskal yang tidak sedikit. Selain itu, biaya logistik juga ikut terdorong naik, mulai dari transportasi hingga distribusi barang.

Dampaknya bisa Anda rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Harga bahan bakar bisa meningkat, ongkos kirim naik, dan harga kebutuhan pokok ikut terdampak. Sektor industri juga akan merasakan tekanan karena biaya produksi yang lebih tinggi.

Tidak hanya itu, sektor pariwisata juga berpotensi terkena imbas. Kenaikan harga bahan bakar pesawat dapat membuat tiket menjadi lebih mahal. Hal ini bisa menurunkan minat wisatawan, baik domestik maupun internasional.

Namun di sisi lain, situasi ini juga bisa menjadi momentum. Pemerintah dan pelaku usaha didorong untuk mempercepat transisi energi, mengurangi ketergantungan pada impor, dan mencari alternatif sumber energi yang lebih stabil.

Pada akhirnya, krisis di Selat Hormuz mengingatkan Anda bahwa jalur sempit di Timur Tengah bisa berdampak luas hingga ke kehidupan sehari-hari di Indonesia. Dalam dunia yang saling terhubung, gangguan di satu titik bisa terasa hingga ribuan kilometer jauhnya.

Kontributor : Hillary Sekar Pawestri

Load More