Lifestyle / Komunitas
Sabtu, 21 Maret 2026 | 21:00 WIB
Ilustrasi puncak arus balik Lebaran. (Pexels)

Pertimbangan berangkat malam hari

Memilih untuk berangkat pada malam hari sering kali menjadi taktik untuk menghindari cuaca panas dan kemacetan ekstrem yang biasanya terjadi di siang hari.

Suhu udara yang dingin di malam hari memang membuat perjalanan terasa lebih santai bagi mesin kendaraan maupun penumpang di dalam kabin.

Selain itu, kondisi jalanan pada tengah malam hingga dini hari cenderung lebih lengang, sehingga waktu tempuh bisa menjadi lebih singkat.

Bagi pengemudi yang sudah terbiasa menempuh jarak jauh, ketenangan suasana malam dapat membantu fokus dalam menjaga kecepatan yang stabil tanpa banyak gangguan dari kendaraan lokal di jalur arteri.

Namun, risiko terbesar berangkat malam adalah faktor kelelahan biologis dan rasa kantuk yang sangat berbahaya.

Tubuh manusia secara alami diprogram untuk beristirahat di malam hari, sehingga memaksakan diri berkendara dapat menurunkan tingkat respons terhadap situasi darurat secara drastis.

Selain itu, jarak pandang yang hanya mengandalkan lampu kendaraan sangat membatasi antisipasi terhadap rintangan di jalan.

Jika terjadi kendala teknis seperti ban bocor atau mesin mogok, mencari bantuan bengkel atau fasilitas umum di malam hari akan jauh lebih sulit dan berisiko dari segi keamanan.

Baca Juga: Arus Mudik 2026, Lalu Lintas Tol SurabayaMojokerto Naik 25,3 Persen

Kurangnya penerangan di beberapa ruas jalan tol atau jalur lintas provinsi juga menambah beban mental bagi pengemudi selama perjalanan.

Kesimpulan: pagi atau malam?

Berangkat pada pagi hari tetap menjadi pilihan yang lebih bijak dan sangat disarankan.

Faktor utama yang mendasarinya adalah kebugaran fisik pengemudi serta visibilitas jalan yang maksimal di bawah cahaya alami.

Berangkat pagi memungkinkan perjalanan selesai atau mencapai titik aman sebelum tubuh mencapai batas kelelahan di malam hari.

Meskipun malam hari menawarkan suhu yang lebih sejuk dan jalanan yang lebih sepi.

Load More