Suara.com - Krisis air global ternyata tidak hanya soal lingkungan, tetapi juga berdampak langsung pada akses pendidikan, terutama bagi perempuan. Di balik sulitnya akses air bersih, perempuan dan anak perempuan menjadi kelompok yang paling terdampak.
Setiap hari, perempuan dan anak perempuan di seluruh dunia menghabiskan total 250 juta jam hanya untuk mengambil air. Aktivitas ini menyita waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk belajar atau bersekolah, sehingga secara signifikan mengurangi peluang perempuan untuk mengakses pendidikan, selain juga membatasi akses terhadap rekreasi dan kegiatan yang dapat menghasilkan pendapatan.
Data menunjukkan bahwa anak perempuan di bawah usia 15 tahun memiliki kecenderungan lebih tinggi (7%) untuk memikul tanggung jawab mengambil air dibandingkan anak laki-laki di kelompok usia yang sama (4%). Ketimpangan ini membuat beban sejak dini lebih banyak ditanggung oleh anak perempuan, termasuk dalam hal kehilangan waktu belajar.
Laporan Pengembangan Air Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang dirilis oleh UNESCO atas nama UN-Water, menggarisbawahi bahwa krisis air global saat ini diperparah oleh ketidaksetaraan gender. Kondisi ini memperlihatkan bagaimana akses terhadap sumber daya dasar seperti air juga berkaitan erat dengan kesempatan pendidikan.
Meskipun terdapat kemajuan dalam beberapa dekade terakhir, perempuan tetap dianggap sebagai sosok utama yang bertanggung jawab untuk mengambil air di lebih dari 70 persen rumah tangga pedesaan yang belum terlayani. Namun ironisnya, perempuan sering dikecualikan dari peran pengelolaan dan kepemimpinan di sektor ini, sehingga kebutuhan dan dampak yang mereka alami, termasuk terhadap pendidikan, kerap tidak menjadi prioritas.
Dampak Kurangnya Fasilitas Sanitasi dan Keamanan
Ketidaktersediaan fasilitas sanitasi yang memadai memberikan dampak yang tidak proporsional bagi perempuan, terutama mereka yang tinggal di pemukiman kumuh perkotaan dan daerah pedesaan terpencil. Ketiadaan toilet dan akses air untuk kebersihan menstruasi menyebabkan rasa malu dan berdampak langsung pada tingkat kehadiran di ranah publik.
Berdasarkan data dari 41 negara antara tahun 2016 hingga 2022, diperkirakan sebanyak 10 juta remaja putri berusia 15–19 tahun terpaksa absen dari sekolah, pekerjaan, atau aktivitas sosial akibat kendala tersebut. Selain itu, proses pengambilan air di layanan yang tidak aman atau tidak terandalkan juga meningkatkan kerentanan perempuan terhadap risiko kesehatan, tekanan fisik, hingga ancaman kekerasan berbasis gender.
Kesenjangan dalam Kepemilikan Lahan dan Tata Kelola
Baca Juga: Rekaman Menegangkan Detik-Detik Tabrakan Pesawat Air Canada dengan Truk Pemadam di New York
Akses terhadap air sering kali memiliki keterkaitan hukum dengan hak atas tanah. Ketidaksetaraan gender dalam kepemilikan properti secara langsung memengaruhi ketersediaan air untuk kebutuhan produktif, seperti pertanian. Di beberapa negara, luas lahan yang dimiliki laki-laki mencapai dua kali lipat lebih banyak dibandingkan perempuan. Hukum yang diskriminatif terkait kepemilikan tanah ini menempatkan perempuan pada posisi yang kurang menguntungkan secara sosial maupun ekonomi.
Di sisi lain, representasi perempuan dalam pengambilan keputusan sektor air masih rendah. Data dari 64 perusahaan penyedia air di 28 negara berpenghasilan rendah dan menengah menunjukkan bahwa kurang dari satu per lima pekerja di sektor air adalah perempuan.
Berdasarkan Bank Dunia 2019, selain jumlahya sedikit, perempuan juga menerima upah yang lebih rendah dibandingkan laki-laki yang bekerja di sektor ini. Di tingkat pemerintahan pada tahun 2021/2022, perempuan hanya menduduki kurang dari setengah posisi di bidang Air, Sanitasi, dan Kebersihan pada mayoritas negara yang disurvei (79 dari 109 negara yang memberikan tanggapan dan kurang dari 10% di hampir seperempat negara yang memberikan tanggapan (WHO, 2022).
Kerentanan terhadap Perubahan Iklim
Fenomena perubahan iklim dan kelangkaan air turut memperluas jurang ketidaksetaraan. Gender menjadi faktor yang memengaruhi tingkat kerentanan seseorang terhadap risiko bencana maupun akses terhadap sistem peringatan dini.
Data menunjukkan bahwa kenaikan suhu sebesar 1 derajat Celsius dapat mengurangi pendapatan rumah tangga yang dikepalai perempuan hingga 34 persen lebih besar dibandingkan rumah tangga yang dikepalai laki-laki. Di saat yang sama, beban kerja mingguan perempuan juga meningkat rata-rata 55 menit akibat tekanan lingkungan tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
- 5 Pilihan HP Samsung RAM 12 GB Agustus 2026, Performa Ngebut Anti Lag
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Bintang-bintang Legendaris Liga Inggris akan Saling Berhadapan di GBK, Catat Waktunya
-
Yenti Garnasih Bongkar Indikasi TPPU Febrie dan Luruskan Istilah Kriminalisasi
-
Polisi Temukan Bukti Permulaan, Kasus Kematian Sutrimo Naik ke Tahap Penyidikan Pidana
-
Kita Cari! Bahar bin Smith Geruduk The Sounds Project Buru Pelaku Hafalan Quran Hadiah Miras
-
Konvoi Usai Menang Futsal Berujung Petaka, 9 Pelajar Diamankan Polisi di Solo
-
Polresta Cirebon Sita 6.964 Butir Obat Keras Ilegal, Tiga Pengedar Ditangkap
-
Kolaborasi Kampus dan Industri Dinilai Penting untuk Bangun Kota Berkelanjutan
-
Mahasiswa Tersangka Tabrak Lari di Bandung Mengemudi dalam Kondisi Mabuk
-
Kasus Hafalan Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Sound Project Dilimpahkan ke Polda Metro Jaya
-
Pelaku Pemerkosaan dan Pembunuhan di Tangerang Beraksi Saat Mabuk, Pintu Rumah Korban Tak Terkunci