- Mahkamah Pidana Internasional menerbitkan surat penangkapan terhadap Benjamin Netanyahu pada 2024 atas tuduhan melakukan genosida di Gaza.
- Pejuang Palestina Therese Halasa pernah menembak bahu Netanyahu saat operasi pembajakan pesawat Sabena di Israel tahun 1972.
- Setelah dibebaskan dari penjara Israel tahun 1983, Therese Halasa menjalani masa pengasingan dan wafat di Yordania tahun 2020.
Dalam sebuah wawancara bersejarah, ia menegaskan motivasinya bergabung dengan revolusi bukan semata-mata karena kesengsaraan pribadi.
"Saya bergabung tak hanya karena penderitaan, tetapi karena rasa patriotisme yang diilhami oleh Abdel Nasser dan ayah saya," kata Therese Halasa kepada media Samidoun, dikutip hari Senin (6/4/2026).
Konfrontasi Sabena: Momen Sejarah yang Melukai Netanyahu
Puncak aksi Therese Halasa terjadi pada Mei 1972, dalam operasi pembajakan pesawat Sabena Flight 571.
Bersama rekan-rekannya—Rima Tannous, Ali Taha Abu Sneineh, dan Abdel-Aziz al-Atrash—Therese mengambil alih pesawat tersebut dengan tuntutan pembebasan ratusan tahanan Palestina.
Pesawat tersebut mendarat di Bandara Lod, kini dinamakan Israel sebagai Bandara Ben Gurion.
Dalam upaya penyelamatan, pasukan khusus Israel melakukan penyergapan dengan menyamar sebagai teknisi pesawat dan petugas Palang Merah.
Di antara pasukan komando Israel yang melakukan serangan tersebut terdapat dua sosok yang nantinya menjadi pemimpin besar Israel: Ehud Barak dan Benjamin Netanyahu.
Pertempuran sengit meletus di dalam kabin pesawat. Ali Taha dan Abdel-Aziz gugur dalam baku tembak tersebut.
Baca Juga: 6 Anak-anak Meninggal Dunia Akibat Serangan AS-Israel di Teheran Iran
Namun, dalam kekacauan itu, Therese Halasa sempat melepaskan tembakan yang mengenai bahu Benjamin Netanyahu.
Insiden ini menjadi salah satu catatan sejarah yang paling sering dibicarakan, di mana seorang pejuang perempuan Palestina berhasil melukai sosok yang kelak menjadi tokoh sentral dalam politik Israel.
Therese sendiri mengalami luka parah dalam serangan itu sebelum akhirnya ditangkap.
Perlawanan di Balik Jeruji Besi
Setelah aksi tersebut, Therese Halasa dan rekannya, Rima Tannous, diseret ke pengadilan militer Israel.
Keduanya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Namun, tembok penjara tidak memadamkan semangatnya.
Selama bertahun-tahun di dalam sel, Therese terus mendidik dirinya sendiri dan memimpin aksi-aksi protes sesama tahanan.
Penderitaan di dalam penjara Israel bukanlah rahasia. Rima Tannous, dalam catatan yang diterbitkan setelah pembebasannya, menceritakan detail penyiksaan luar biasa yang mereka alami selama interogasi.
Meski demikian, Therese tetap teguh. Ia baru menghirup udara bebas pada tahun 1983 melalui proses pertukaran tawanan antara perlawanan Palestina dan Israel.
Pada saat pembebasannya, Therese dilaporkan sedang terlibat dalam aksi mogok makan massal bersama tahanan lainnya sebagai bentuk protes atas kondisi penjara yang tidak manusiawi.
Pengasingan dan Dedikasi Kemanusiaan di Yordania
Setelah dibebaskan, Israel melarang Therese untuk kembali ke tanah kelahirannya di Akka. Ia akhirnya dideportasi dan menghabiskan sisa hidupnya di Yordania.
Di sana, ia kembali ke akar profesinya sebagai perawat. Namun, ia memilih jalan yang sulit dengan mendedikasikan dirinya untuk merawat pasien dengan disabilitas.
Kehidupan di pengasingan tidak membuatnya berhenti menyuarakan isu Palestina. Therese menjadi narasumber penting bagi para pembuat film dokumenter dan sejarawan, yang meneliti tentang revolusi Palestina dan sejarah pembajakan Sabena.
Di Yordania, kehadirannya selalu dinanti dalam berbagai aksi demonstrasi dan pertemuan solidaritas untuk Palestina.
Bahkan, ketika tubuhnya digerogoti oleh kanker paru-paru, semangat Therese tidak pernah pudar. Ia tetap hadir di barisan terdepan dalam aksi-aksi unjuk rasa, menunjukkan bahwa perjuangan belum usai meski fisiknya telah melemah.
Kematiannya di Amman pada tahun 2020 menandai berakhirnya perjalanan fisik sang revolusioner, namun warisan keberaniannya tetap hidup di hati generasi muda Palestina.
Kisah Therese Halasa adalah pengingat akan peran krusial perempuan dalam perjuangan kemerdekaan. Dari seorang perawat yang memegang senjata demi tanah air, hingga kembali menjadi perawat bagi mereka yang membutuhkan di masa senjanya.
Therese menunjukkan esensi dari revolusi adalah kemanusiaan dan cinta terhadap tanah kelahiran yang mendalam.
Berita Terkait
-
6 Anak-anak Meninggal Dunia Akibat Serangan AS-Israel di Teheran Iran
-
Trump Singgung 'Hari Pemusnahan' Iran: Ancam Ekonomi Global, Harga Minyak Terbang!
-
Ya Allah, Gaza Diserang Lagi saat Iran Masih Digempur Israel
-
Jeritan Warga Iran Setelah Satu Bulan Digempur Amerika dan Israel
-
Perang Dunia di Depan Mata, China Turun Gunung Tekan Amerika - Israel soal Selat Hormuz
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 3 Pimpinan BGN Dilaporkan ke Ombudsman, Diduga Rangkap Jabatan di BUMN
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
Pilihan
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
Terkini
-
Empat Siswa dari Wolo Raih Beasiswa ke Sekolah Unggulan, Potret Pentingnya Pemerataan Pendidikan
-
Mencukur atau Mencabut Bulu Ketiak, Mana yang Lebih Aman?
-
Seni Komunikasi di Dunia Kerja: Mengubah Obrolan Biasa Jadi Pelayanan yang Bikin Pelanggan Nyaman
-
Bukan Sekadar Tren, Ini Bukti Kuliner Nusantara Kini Jadi 'Raja' di Negeri Sendiri
-
4 Cara Atasi Aliran Air yang Kecil setelah Pasang Filter Air, Kembali Deras dan Jernih
-
Sunblock Marina Berapa Harganya? Ini Kandungan, Manfaat, dan Review Pengguna
-
Lampu untuk Kamar Tidur Berapa Watt? Begini Cara Menghitungnya agar Pas
-
Apakah Covering Cream Viva Mengandung SPF? Cek Fakta dan Cara Pakai yang Benar
-
5 Dispenser Galon Bawah Low Watt untuk Rumah Daya Listrik 450 Watt
-
Nelayan di Toli-Toli Sulit Jangkau Ikan Bernilai Tinggi, Bisakah Rumpon Portabel Jadi Solusi?