Suara.com - Di sudut kota Jakarta Timur, Balekambang menjadi salah satu kelurahan yang tumbuh di area bantaran sungai. Yap, Sungai Ciliwung. Aliran Sungai Ciliwung bukan sekadar pemandangan, melainkan urat nadi kehidupan.
Namun bagi anak-anak di sana, lingkungan ini kerap diwarnai rutinitas kurang produktif. Praktik judi yang berulang seolah dinormalisasi, dan terus disaksikan oleh anak-anak.
Kegelisahan itu mendorong Syahiq Harpi membangun gerakan akar rumput River Ranger Jakarta.
Berawal dari Bimbingan Belajar
Awalnya, gerakan ini tidak langsung menyentuh isu lingkungan. Bersama Andriana (Nana), yang sebelumnya mengelola taman baca, mereka membuka kelas bahasa Inggris, Fotografi, hingga Matematika dan bahasa Indonesia.
Namun, seiring berjalannya waktu, mereka menyadari ada masalah yang lebih mendesak. Masyarakat pinggiran sungai tidak lagi hidup selaras dengan alamnya.
Fokus River Ranger bergeser menjadi pendidikan gaya hidup berkelanjutan (sustainable living). Uniknya, komunitas ini tidak seakan-akan kaku dalam menjalankan setiap programnya.
Mereka membawa anak-anak pergi ke kebun untuk belajar di pinggiran sungai
“Jadi ngelihat sendiri, ini loh tanaman-tanaman yang cuma ada di sini, endemik Condet, bahkan yang nggak ada di luar. Seperti Buni asli Condet, Salak, Gandaria, Menteng, Kuweni, Kedoya, Bintaro, semua yang ada di nama-nama jalanan yang mereka cuma tahu itu sebagai nama jalanan, padahal buahnya masih ada di Condet,” ujar Nana.
Tidak berhenti di situ, pengenalan pun dimulai dari yang paling dasar agar anak-anak memahami bagaimana kerusakan yang kini terjadi dan apa yang menyebabkan kerusakan itu.
Baca Juga: Tak Sekadar Bank Sampah, Ini Kisah Kertabumi Beri Nyawa Kedua pada Limbah
“Kita kenalkan mereka sama sungai. Ini loh sungai kalian tuh yang tadinya berbatu-batu, bersih, bisa mandi di dalamnya, sekarang warnanya keruh, coklat, banyak sampah, dan kita coba untuk ajak mereka mengenali sampah di sekitar situ,” tambah Nana.
Anak-anak akhirnya melihat bahwa sampah plastik yang ada, tidak terurai walaupun sudah bertahun-tahun lamanya. Mereka juga mengajak publik untuk ikut terlibat membersihkan sampah. Kegiatan itu diberi nama “bebersih bareng”.
Menjadi Komunitas yang Adaptif
Sekarang, Syahiq dan Nana secara organik dan adaptif menyesuaikan kebutuhan masyarakat setempat.
"Kita nggak bisa memaksakan program kita berjalan di masyarakat," tegas Nana.
Fleksibilitas ini membawa mereka terbang jauh hingga ke pelosok Indonesia, mulai dari membantu petani di Sulawesi dengan pelatihan eco-enzyme untuk membasmi hama, hingga mengajarkan komputer bagi guru-guru di Papua.
Di Jakarta sendiri, tantangan yang dihadapi jauh lebih kompleks, mulai dari sampah hingga krisis sanitasi. Bersama PLN, River Ranger Jakarta menginisiasi pembangunan 12 titik septic tank komunal untuk memutus rantai pencemaran air. Selain infrastruktur fisik, edukasi masih selalu menjadi senjata utama mereka.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
Terkini
-
4 Rekomendasi Sabun Cuci Muka dari Brand Lokal untuk Pudarkan Flek Hitam
-
Masih Bolak-balik Bisnis ke Indonesia, Segini Kekayaan Shin Tae-yong
-
3 Jenis Kanker yang Paling Banyak Menyerang Anak Muda di Singapura
-
Lirik Lagu Erika oleh OSD HMT ITB yang Berisi Pelecehan Seksual
-
7 Rekomendasi Parfum Heaven Scent Best Seller, Wangi Mewah Tak Harus Mahal!
-
5 Sepeda Lipat Ukuran 20 yang Nyaman dan Praktis, Mulai Rp800 Ribuan
-
Kontroversi Dikidoy, Akun yang Live TikTok Sidang Pelecehan Seksual Mahasiswa FH UI
-
Apa itu Objektifikasi Perempuan? Berkaca pada Kasus Pelecehan Seksual 16 Mahasiswa FH UI
-
Apa Beda Whistleblower dan Justice Collaborator di Kasus Pelecehan FH UI?
-
Kreatif Saja Tak Cukup, UMK Kuliner Perlu Bimtek untuk Tembus Pasar Lebih Luas