Lifestyle / Food & Travel
Kamis, 16 April 2026 | 10:27 WIB
Cerita Edu-Ekowisata Lembur Mangrove Patikang, Saat Warga Jaga Alam Sekaligus Buka Peluang Ekonomi
Baca 10 detik
  • Program Edu-Ekowisata Lembur Mangrove Patikang memberdayakan masyarakat lokal untuk mengelola lingkungan sekaligus meningkatkan kapasitas ekonomi melalui praktik wisata berkelanjutan.
  • Chandra Asri Group menginisiasi program Rangkai Asri untuk memulihkan ekosistem mangrove yang terdegradasi di wilayah pesisir Pandeglang, Indonesia.
  • Kolaborasi antara pihak swasta dan masyarakat ini berhasil memulihkan kawasan pesisir sekaligus meraih penghargaan PROPER Hijau dari pemerintah.

Suara.com - Kerusakan ekosistem pesisir masih menjadi tantangan nyata di berbagai wilayah Indonesia. Kawasan mangrove yang seharusnya menjadi benteng alami dari abrasi dan perubahan iklim, perlahan terdegradasi akibat aktivitas manusia dan pengelolaan lingkungan yang belum optimal.

Di saat yang sama, masyarakat pesisir kerap dihadapkan pada keterbatasan akses ekonomi dan minimnya kapasitas untuk mengelola potensi alam di sekitarnya.

Di tengah kondisi tersebut, muncul inisiatif berbasis masyarakat melalui Edu-Ekowisata Lembur Mangrove Patikang di Pandeglang.

Program ini mendorong pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pelestarian lingkungan, tetapi juga penguatan peran warga dalam mengelola kawasan mangrove secara berkelanjutan.

Program ini menjadi bagian dari upaya yang turut didorong oleh Chandra Asri Group melalui inisiatif “Rangkai Asri” (Rangkaian Aksi Sirkular dan Inovatif untuk Lingkungan Asri).

Pendekatan yang digunakan menekankan pada peningkatan kapasitas masyarakat, mulai dari pengelolaan ekowisata hingga praktik pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan.

Kawasan ini kemudian berkembang tidak hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga ruang belajar. Warga dan pengunjung diajak memahami pentingnya ekosistem mangrove, sekaligus melihat bagaimana pelestarian lingkungan bisa berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan.

Direktur Legal, Hubungan Eksternal dan Ekonomi Sirkular Chandra Asri Group, Edi Rivai, menyebut bahwa keterlibatan masyarakat menjadi kunci utama dalam menciptakan dampak yang berkelanjutan.

“Melalui berbagai inisiatif pemberdayaan, kami berupaya meningkatkan kapasitas dan kemandirian masyarakat, sekaligus menciptakan dampak yang berkelanjutan bagi lingkungan,” ujarnya.

Baca Juga: Sempat Rusak Diterjang Banjir, Wisata di Lombok Timur Dibuka dengan Wajah Baru!

Upaya ini juga sejalan dengan capaian perusahaan yang kembali meraih penghargaan PROPER Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup. Penghargaan tersebut diberikan atas kinerja pengelolaan lingkungan yang melampaui standar kepatuhan, termasuk melalui berbagai program yang menyentuh langsung masyarakat.

Meski demikian, tantangan pelestarian lingkungan tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Edu-Ekowisata Lembur Mangrove Patikang menunjukkan bahwa kolaborasi antara masyarakat, sektor swasta, dan pemangku kepentingan lain dapat menjadi jalan tengah—menghubungkan kepentingan ekologis dengan kebutuhan ekonomi.

Pada akhirnya, inisiatif ini menghadirkan harapan bahwa kawasan pesisir tidak hanya bisa dipulihkan, tetapi juga menjadi sumber kehidupan yang berkelanjutan. Dari mangrove yang dijaga bersama, tumbuh peluang baru—bagi lingkungan, sekaligus bagi masyarakat yang hidup di sekitarnya.

Load More