- Hustle culture membuat orang merasa harus terus bekerja tanpa henti.
- Dampaknya bisa memicu stres, burnout, hingga gangguan kesehatan.
- Kunci hidup sehat adalah seimbang antara kerja dan istirahat.
Suara.com - Istilah hustle culture belakangan ini semakin sering terdengar, terutama di kalangan anak muda hingga pekerja kreatif.
Secara sederhana, hustle culture menggambarkan pola pikir yang menganggap kesuksesan hanya bisa diraih dengan bekerja tanpa henti.
Dalam sudut pandang ini, istirahat kerap dipandang sebagai tanda kurang ambisi, bahkan dianggap bentuk kemalasan.
Tanpa disadari, banyak orang akhirnya terjebak dalam ritme tersebut. Mereka terus memaksa diri untuk produktif setiap waktu, seolah tidak boleh berhenti.
Padahal, dampaknya tidak hanya terasa pada kelelahan fisik, tetapi juga tekanan mental yang terus menumpuk. Pikiran dipaksa selalu aktif tanpa ruang untuk pulih.
Faktanya, produktivitas yang sehat bukan tentang bekerja sepanjang waktu, melainkan tentang menjaga keseimbangan antara kerja, istirahat, dan kehidupan pribadi.
Apa Maksud Hustle Culture?
Menyadur dari Forbes, hustle culture adalah gaya hidup di mana seseorang merasa bahwa mereka harus bekerja setiap saat dan mendedikasikan seluruh waktunya untuk mengejar karier atau kesuksesan profesional.
Budaya ini menciptakan tekanan kolektif bahwa jika kita tidak sedang bekerja keras, berarti kita sedang membuang waktu yang berharga.
Baca Juga: Kurang Tidur Bukan Lencana Kehormatan, Inilah Racun Hustle Culture yang Merusak Hidup Saya
Budaya ini sering kali "agungkan" lewat media sosial melalui kutipan motivasi yang ekstrem. Akibatnya, batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan menjadi kabur.
Orang-orang mulai mengukur harga diri mereka hanya berdasarkan seberapa banyak daftar tugas yang berhasil mereka selesaikan dalam sehari.
Ciri-Ciri Kamu Terjebak Hustle Culture
Agar lebih waspada, coba cek apakah kamu merasakan hal-hal berikut ini.
1. Merasa Cemas Saat Tidak Sibuk
Ada perasaan gelisah atau "kurang" jika tidak memegang laptop atau memikirkan proyek sampingan (side hustle).
Berita Terkait
-
Kurang Tidur Bukan Lencana Kehormatan, Inilah Racun Hustle Culture yang Merusak Hidup Saya
-
Hustle Culture vs Slow Living: Haruskah Kita Merasa Bersalah Saat Istirahat?
-
Kota yang Bising, Pikiran yang Lelah: Apa Kabar Kesehatan Mental Anak Muda?
-
Seni Mindful Living: Cara Menata Hidup Agar Berkualitas di Era Digital
Terpopuler
- 5 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Kulit Wajah di Indomaret dan Harganya
- Oki Setiana Dewi Jadi Kunci Kasus Pelecehan Syekh Ahmad Al Misry Terbongkar Lagi, Ini Perannya
- 7 Sabun Cuci Muka dengan Kolagen untuk Kencangkan Wajah, Bikin Kulit Kenyal dan Glowing
- 6 HP Realme Kamera Bagus dan RAM Besar, Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan
- Cushion Apa yang Tahan 12 Jam Tanpa Luntur? Ini 4 Pilihan Terbaiknya
Pilihan
-
DPR Minta Ombudsman RI Segera Konsolidasi Internal Usai Ketua Jadi Tersangka Korupsi Nikel
-
Siti Nurhaliza Alami Kecelakaan Beruntun di Jalan Tol
-
Timnas Indonesia U-17 Diganyang Malaysia, Kurniawan Ungkap Borok Kekalahan
-
Beban Ganda Wanita Saat WFH: Terjebak Laptop dan Pekerjaan Rumah Tangga
-
Hore! Jogja Berlakukan Perpanjangan STNK Tanpa KTP Asli, Calo PajakMakin Terhimpit
Terkini
-
Dari Buku ke Panggung: Serunya Jelajah Yogyakarta Menuju Sarga Festival 2026
-
Semua Jurusan Bisa Daftar, Ini Posisi yang Dibuka untuk Kampung Nelayan Merah Putih
-
20 Link Twibbon Hari Kartini 2026 Gratis Unduh untuk Meriahkan Semangat Emansipasi
-
Transforming Spaces with Canvas Prints: A Complete Guide
-
Waspada Bahaya Hustle Culture: Hobi Overwork Terbukti Picu Penyakit Jantung di Usia Muda
-
Apa Itu Greenwashing: Mengapa Ini Marak dan Menyesatkan?
-
Cara Daftar Manajer Koperasi Desa Merah Putih 2026 Via HP, Tinggal 8 Hari Lagi!
-
Cuaca Panas Pakai Parfum Apa? Ini 7 Rekomendasi yang Aromanya Segar dan Tidak Menyengat
-
Produksi Rumput Laut Naik, Kenapa Nilainya Masih Rendah?
-
5 Kipas Angin Dinding Terbaik Usir Gerah Tanpa Bikin Tagihan Listrik Bengkak, Dijamin Dingin