Lifestyle / Komunitas
Jum'at, 17 April 2026 | 13:52 WIB
Menkeu Purbaya Temui Investor Potensial di AS, Paparkan Kekuatan Ekonomi Indonesia (Kemenkeu)
Baca 10 detik
  • Menteri Keuangan Purbaya memaparkan strategi ekonomi Indonesia kepada investor besar seperti Goldman Sachs.
  • Berdiri sejak 1869, Goldman Sachs bertahan melewati berbagai krisis terparah dalam sejarah ekonomi.
  • Raksasa Wall Street ini sukses bertransformasi ke era digital melalui inovasi perbankan daring.

Penasihat Perusahaan Teknologi Raksasa

Sebagai bank investasi terkemuka, mereka sering menjadi dalang utama di balik aksi merger raksasa dunia. Layanan konsultasi keuangan mereka bahkan sangat dipercaya oleh korporasi level wahid sejagat raya.

Nama-nama besar seperti Apple dan Amazon diketahui rutin memakai jasa mereka sebagai penasihat keuangan andalan. Fakta ini membuktikan betapa vitalnya peran perbankan asal New York tersebut di kancah global.

Kehadiran mereka senantiasa menyediakan likuiditas tinggi sekaligus mengelola risiko investasi skala besar. Tak heran jika pelaku pasar modal dunia sering menganggap institusi ini sebagai pembentuk arah tren.

Manuver Adaptasi Era Digital

Meski berlabel institusi konvensional berusia ratusan tahun, entitas ini menolak untuk tertinggal zaman. Transformasi besar-besaran dilakukan guna menyambut era disrupsi teknologi digital masa kini.

Kini, raksasa finansial tersebut gencar mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) ke dalam sistem kerja mereka. Analitik data dan otomatisasi juga menjadi fondasi baru bagi perluasan strategi bisnis modern.

Langkah paling revolusioner terlihat dari peluncuran platform perbankan ritel daring bernama Marcus by Goldman Sachs. Inovasi cemerlang ini menawarkan layanan tabungan berbunga kompetitif hingga produk pinjaman pribadi yang praktis.

Kehadiran aplikasi Marcus menjadi bukti nyata ambisi perusahaan menjangkau konsumen dari kelas ritel. Mereka membuktikan diri mampu merajai ranah perbankan digital tanpa harus repot membangun banyak cabang fisik.

Baca Juga: Purbaya Tolak Bantuan IMF, Yakin Dana SAL Rp 420 T Milik Pemerintah Masih Cukup

Load More