Bisnis / Makro
Kamis, 16 April 2026 | 19:11 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat menemui investor Amerika Serikat pada Senin (13/4/2026) waktu setempat. [Dok. Kemenkeu]
Baca 10 detik
  • Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan defisit APBN 2026 menurun menjadi 2,8 persen terhadap produk domestik bruto nasional.
  • Lembaga S&P Global memberikan respons positif terhadap perbaikan ekonomi Indonesia serta mempertahankan peringkat kredit level investment grade.
  • S&P Global dijadwalkan mengunjungi Indonesia pada Juni 2026 untuk mengevaluasi strategi fiskal serta kondisi perekonomian nasional secara menyeluruh.

Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memprediksi kalau defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2026 akan turun dari 2,92 persen menjadi 2,8 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Hal ini diungkapkan Menkeu Purbaya usai menemui lembaga pemeringkat S&P Global saat melakukan kunjungan kerja di Amerika Serikat.

"(Defisit) 2,9 (persen) pada waktu kita laporan awal, tapi di LKPP (Laporan Keuangan Pemerintah Pusat) nanti kira-kira akan turun ke 2,8 persen," katanya dalam keterangan video, dikutip Kamis (16/4/2026).

Purbaya mengklaim S&P menyambut positif usai mendapatkan laporan tersebut. Ia juga menyimpulkan lembaga itu melihat ada perbaikan ekonomi di triwulan keempat 2025 dibanding kuartal sebelumnya.

"Dan indikator awal sekarang sepertinya mereka melihat juga melihat, semua aktivitas ekonomi sudah membaik," tambahnya.

Hal inilah yang dianggap Purbaya kalau Indonesia mendapatkan peringkat kredit di level investment grade, BBB dengan outlook stabil dari S&P.

Namun S&P juga memberikan masukan ke Purbaya terkait rasio pembayaran bunga terhadap pendapatan yang berada di atas 15 persen.

"Saya bilang, kita akan monitoring terus, kita akan monitor terus, dan pastikan keadaan ekonomi tetap baik dan fiskal akan kita jaga, tidak memburuk revisi pembayaran tambahan," umbar dia.

Lebih lanjut Purbaya membocorkan kalau S&P akan datang ke Indonesia pada Juni 2026 untuk menilai strategi fiskal Pemerintah.

"Kalau message dari mereka clear, dan mereka Juni nanti akan datang lagi ke indonesia untuk mendiskusikan, menilai kondisi perekonomian secara keseluruhan. Jadi mereka pandangannya amat positif terhadap Republik Indonesia," jelasnya.

Load More