Timbal, misalnya, dikenal sebagai logam berat yang dapat mempengaruhi perkembangan saraf dan kognitif anak. Paparan terus-menerus, meski dalam dosis rendah, dapat berdampak pada kemampuan belajar dan perkembangan otak.
Sementara itu, bahan seperti paraben yang sering digunakan sebagai pengawet dikaitkan dengan gangguan sistem endokrin atau hormon.
Tak hanya itu, pewarna sintetis dalam lipstik juga dapat memicu reaksi alergi pada kulit sensitif. Ada pula kandungan triclosan, bahan antibakteri yang dalam beberapa penelitian dikaitkan dengan gangguan hormon dan potensi resistensi antibiotik.
Penggunaan lipstik pada anak juga dapat menyebabkan kondisi yang disebut dermatitis kontak, yaitu peradangan pada kulit akibat paparan zat tertentu.
Gejalanya meliputi bibir kering, pecah-pecah, kemerahan, hingga rasa perih. Jika terus dibiarkan, kondisi ini bisa membuat anak merasa tidak nyaman dan bahkan menimbulkan infeksi sekunder.
Lebih jauh lagi, paparan bahan kimia dari produk yang tidak sesuai usia secara terus-menerus dapat membawa dampak jangka panjang.
Beberapa ahli mengaitkannya dengan risiko gangguan perkembangan, masalah hormonal, hingga peningkatan kemungkinan penyakit kronis di masa depan.
Meski efeknya tidak selalu langsung terlihat, risiko ini tetap perlu dipertimbangkan secara serius.
Argumen bahwa "produk mahal pasti aman" juga perlu diluruskan. Harga tidak selalu menjamin keamanan, terutama jika produk tersebut memang tidak dirancang untuk anak-anak.
Baca Juga: 5 Lipstik Lokal untuk Makeup Bold, Warna Intens Elegan dan Tahan Seharian
Kosmetik dewasa tetap memiliki standar formulasi yang berbeda, terlepas dari seberapa tinggi kualitas atau harganya.
Karena itu, jika anak menunjukkan ketertarikan untuk menggunakan lipstik, orang tua sebaiknya tidak langsung melarang, tetapi mengarahkannya ke pilihan yang lebih aman.
Saat ini sudah tersedia produk kosmetik khusus anak yang diformulasikan dengan bahan lebih lembut dan minim resiko.
Pilihlah produk dengan label "hypoallergenic" atau "non-toxic", serta pastikan telah terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Alternatif lainnya adalah menggunakan produk berbahan alami, seperti beeswax (lilin lebah), minyak nabati, dan pewarna alami yang cenderung lebih aman untuk kulit sensitif.
Meski demikian, pengawasan tetap diperlukan agar anak tidak berlebihan dalam menggunakannya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Sabun Cuci Muka dengan Kolagen untuk Kencangkan Wajah, Bikin Kulit Kenyal dan Glowing
- Tak Perlu Mahal! Ini 3 Mobil Bekas Keluarga yang Keren dan Nyaman
- Dapat Status Pegawai BUMN, Apa Saja Tugas Manajer Koperasi Merah Putih?
- 5 HP Xiaomi yang Awet Dipakai Bertahun-tahun, Performa Tetap Mantap
- Oki Setiana Dewi Jadi Kunci Kasus Pelecehan Syekh Ahmad Al Misry Terbongkar Lagi, Ini Perannya
Pilihan
-
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, IRGC: Amerika Serikat Perompak!
-
Selat Hormuz Kembali Ditutup? Iran Dituding Tembak Kapal Tanker di Dekat Oman
-
BREAKING NEWS! Iran Resmi Buka Blokade Selat Hormuz Sepenuhnya
-
Kisah di Balik Korban Helikopter Sekadau, Perjalanan Terakhir yang Tak Pernah Sampai
-
DPR Minta Ombudsman RI Segera Konsolidasi Internal Usai Ketua Jadi Tersangka Korupsi Nikel
Terkini
-
7 Bedak Compact Powder Anti Luntur Bikin Glowing Seharian, Cocok Buat Kegiatan Outdoor
-
5 Rekomendasi Setrika Hemat Listrik yang Bikin Pakaian Licin Sempurna
-
7 Mesin Cuci Otomatis yang Awet, Baju Kering Bisa Langsung Pakai Tanpa Dijemur
-
4 Sepatu Adidas Low Cut untuk Si Betis Besar, Termurah di Toko Resmi
-
Cari Lipstik untuk Anak? Ini 5 Pilihan yang Aman dan Nyaman Dipakai
-
Apakah Sunscreen SPF 30 Bagus? Ini Kata Dokter Kulit dan 5 Rekomendasi Produknya
-
5 Rekomendasi Lotion dengan Kolagen agar Kulit Tetap Kencang dan Terawat
-
Berapa Harga Tiket Coachella 2026? Ini Daftar Harga Lengkapnya
-
3 Rekomendasi Hotel di Bandung dengan Predikat Bintang 5!
-
Essence dan Toner Apakah Sama? Ini 4 Rekomendasi yang Ringan Mengandung Kolagen