Lifestyle / Female
Minggu, 19 April 2026 | 13:31 WIB
Aksi Jule Viral, Ini Bahaya Memakaikan Lipstik Dewasa pada Anak. (X@zeaidenn)

Timbal, misalnya, dikenal sebagai logam berat yang dapat mempengaruhi perkembangan saraf dan kognitif anak. Paparan terus-menerus, meski dalam dosis rendah, dapat berdampak pada kemampuan belajar dan perkembangan otak.

Sementara itu, bahan seperti paraben yang sering digunakan sebagai pengawet dikaitkan dengan gangguan sistem endokrin atau hormon.

Tak hanya itu, pewarna sintetis dalam lipstik juga dapat memicu reaksi alergi pada kulit sensitif. Ada pula kandungan triclosan, bahan antibakteri yang dalam beberapa penelitian dikaitkan dengan gangguan hormon dan potensi resistensi antibiotik.

Penggunaan lipstik pada anak juga dapat menyebabkan kondisi yang disebut dermatitis kontak, yaitu peradangan pada kulit akibat paparan zat tertentu.

Gejalanya meliputi bibir kering, pecah-pecah, kemerahan, hingga rasa perih. Jika terus dibiarkan, kondisi ini bisa membuat anak merasa tidak nyaman dan bahkan menimbulkan infeksi sekunder.

Lebih jauh lagi, paparan bahan kimia dari produk yang tidak sesuai usia secara terus-menerus dapat membawa dampak jangka panjang.

Beberapa ahli mengaitkannya dengan risiko gangguan perkembangan, masalah hormonal, hingga peningkatan kemungkinan penyakit kronis di masa depan.

Meski efeknya tidak selalu langsung terlihat, risiko ini tetap perlu dipertimbangkan secara serius.

Argumen bahwa "produk mahal pasti aman" juga perlu diluruskan. Harga tidak selalu menjamin keamanan, terutama jika produk tersebut memang tidak dirancang untuk anak-anak.

Baca Juga: 5 Lipstik Lokal untuk Makeup Bold, Warna Intens Elegan dan Tahan Seharian

Kosmetik dewasa tetap memiliki standar formulasi yang berbeda, terlepas dari seberapa tinggi kualitas atau harganya.

Karena itu, jika anak menunjukkan ketertarikan untuk menggunakan lipstik, orang tua sebaiknya tidak langsung melarang, tetapi mengarahkannya ke pilihan yang lebih aman.

Saat ini sudah tersedia produk kosmetik khusus anak yang diformulasikan dengan bahan lebih lembut dan minim resiko.

Pilihlah produk dengan label "hypoallergenic" atau "non-toxic", serta pastikan telah terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Alternatif lainnya adalah menggunakan produk berbahan alami, seperti beeswax (lilin lebah), minyak nabati, dan pewarna alami yang cenderung lebih aman untuk kulit sensitif.

Meski demikian, pengawasan tetap diperlukan agar anak tidak berlebihan dalam menggunakannya.

Load More