Suara.com - Di tengah masifnya deforestasi dan kerusakan lingkungan, seruan keagamaan untuk menjaga alam dinilai belum memiliki daya dorong yang kuat di ruang publik.
Fasilitator Nasional Interfaith Rainforest Initiative (IRI) Indonesia, Hening Parlan, menyebut suara dari rumah-rumah ibadah kerap terdengar, tetapi belum cukup “bising” untuk mendorong perubahan nyata.
IRI Indonesia juga menyoroti adanya paradoks di balik narasi moral tersebut. Di satu sisi, hutan kerap diposisikan sebagai entitas yang sakral dan harus dijaga.
Namun di sisi lain, tidak jarang institusi maupun oknum dalam organisasi keagamaan justru berada di posisi yang berseberangan dengan upaya pelestarian lingkungan. Situasi ini memperlihatkan adanya kesenjangan antara nilai yang diajarkan dan praktik yang terjadi di lapangan.
Gerakan Moral yang Kalah Cepat
Ketua LPLH & SDA Majelis Ulama Indonesia, Suhardin, memberikan analogi yang menohok saat membandingkan gerakan moral dengan mesin kekuasaan.
“Gerakan moral itu ya perlu sabar. Nabi Nuh saja 900 tahun hanya dapat pengikut satu kapal. Tapi kalau gerakan kekuasaan, satu surat edaran menteri saja, insya Allah selesai itu semuanya,” tuturnya.
Pernyataan ini menegaskan persoalan utama: agama memiliki potensi kekuatan moral yang besar, tetapi sering kalah cepat dan kalah kuat dibanding kebijakan yang didorong kepentingan ekonomi.
Dalam diskusi yang digelar pada Jumat (17/4/2026), IRI juga mengungkap bahwa secara organisasi, banyak institusi keagamaan sebenarnya telah menyatakan penolakan terhadap proyek-proyek yang merusak lingkungan. Namun di tingkat praktik, sebagian aktor di dalamnya justru terlibat dalam ekosistem bisnis tersebut.
Baca Juga: JK Pertimbangkan Lapor Balik Pelapor Kasus Dugaan Penistaan Agama: Mereka Memfitnah Saya!
Kontradiksi ini membuat gerakan moral kehilangan daya tekan. Ketika satu pihak berbicara tentang perlindungan hutan sebagai amanah, pihak lain dalam lingkaran yang sama bisa saja terlibat dalam aktivitas yang berkontribusi pada kerusakan. Akibatnya, pesan yang disampaikan menjadi tidak konsisten dan sulit membangun kepercayaan publik.
Suara dari Lapangan yang Tak Bisa Diabaikan
Situasi di Merauke menjadi contoh nyata kompleksitas tersebut. Di satu sisi, ada gereja yang secara tegas menolak Proyek Strategis Nasional (PSN) karena dinilai merusak ruang hidup masyarakat adat. Namun di sisi lain, terdapat juga kelompok yang justru mendukung proyek tersebut.
Pengalaman Johan Kristantara dari Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) menggambarkan kondisi di lapangan. Saat turun langsung ke Merauke, ia mendengar kesaksian warga yang terdampak.
“Mereka menceritakan bagaimana PSN ini benar-benar sudah merusak kehidupan, bukan hanya orang asli Papua, tapi juga alam, bahkan mata pencaharian mereka,” ujarnya.
Kesaksian tersebut mendorong 105 sinode anggota PGI untuk menyatakan sikap menolak PSN di Merauke.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
- Lipstik Wardah yang Bagus Apa? Ini 4 Pilihan Paling Tahan Lama untuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
Terkini
-
Babak Pertama Final AFF Women's Cup 2026: Timnas Putri Indonesia Unggul 1-0
-
BRI Dukung BKKBN Salurkan Bantuan Keluarga Berisiko Stunting di Kepulauan Talaud
-
Diskon Mako Bakery Khusus Nasabah BRI, Makan Enak Bayar Gak Sampai Rp20 Ribu!
-
Jonatan Christie Bersyukur Cepat Beradaptasi, Lolos ke Babak Kedua China Open 2026
-
Promo Terbaru BRI di Marugame Udon, Makan Kenyang Cuma Bayar Rp10 Ribu!
-
Serahkan Dugaan Korupsi MBG ke Penegak Hukum, Kepala BGN Baru Pilih Fokus Kerja
-
Seperti Apa Watak Weton Jumat Kliwon? Ini Sifat dan Keistimewaannya Menurut Primbon
-
Bukan Sekadar Angka, Ini Arti Penting Masuknya BRI di Jajaran Elite Perbankan Dunia
-
Soroti Kasus Febrie Adriansyah, Keluarga Terdakwa Korupsi Tuntut Kesetaraan di Depan Hukum
-
5 Sepatu Running Pria di Bawah Rp500 Ribu, Ada yang Cuma Rp100 Ribuan!