Lifestyle / Komunitas
Senin, 20 April 2026 | 11:19 WIB
ilustrasi hutan di Indonesia (Pixabay/bertvthul)

Keputusan ini menjadi penegasan bahwa lembaga keagamaan dapat mengambil posisi tegas ketika berangkat dari realitas lapangan, bukan sekadar wacana.

Di tengah dinamika ini, muncul pertanyaan mendasar: di mana posisi agama? Para tokoh lintas iman dalam forum tersebut sepakat, persoalannya bukan pada ajaran agama, melainkan pada praktik para pemeluknya.

Kritik pun datang dari peserta diskusi yang mempertanyakan minimnya narasi lingkungan yang konsisten dari para pemuka agama, serta lemahnya sikap kolektif lintas iman dalam menghadapi isu-isu besar.

Kondisi ini menjadi refleksi keras. Kampanye “No Forest, No Future” yang diusung IRI mengingatkan bahwa gerakan moral tidak bisa lagi berjalan sendiri dalam senyap.

Ilustrasi hutan tropis (Freepik/freepik)

Diperlukan keberanian untuk bersuara lebih lantang dan konsisten, serta memastikan nilai yang diajarkan sejalan dengan praktik di lapangan.

IRI menegaskan bahwa sudah saatnya rumah ibadah memiliki sikap yang lebih tegas dan kolektif. Melindungi hutan bukan sekadar pilihan, tetapi bagian dari tanggung jawab moral yang tidak bisa dikompromikan oleh kepentingan ekonomi maupun kekuasaan.

Penulis: Vicka Rumanti

Load More