Suara.com - Di tengah meningkatnya konflik Timur Tengah, pasar energi global mengalami fluktuasi signifikan. Dampaknya terasa langsung pada kenaikan biaya hidup yang kian meluas. Dalam situasi ini, muncul pertanyaan: bagaimana cara membangun ketahanan, tidak hanya di level kebijakan, tetapi juga di tingkat komunitas?
Salah satu model yang mulai banyak diperhatikan adalah komunitas intensional—yaitu komunitas yang sengaja dibentuk oleh sekelompok orang untuk hidup bersama dengan sistem berbagi sumber daya. Praktiknya bisa berupa cohousing (perumahan bersama) hingga koperasi perumahan, di mana lahan, energi, dan kebutuhan sehari-hari dikelola secara kolektif.
Mitigasi Dampak pada Sektor Energi
Gangguan rantai pasokan minyak dan gas global berdampak langsung pada harga bahan bakar. Efeknya merambat ke sektor transportasi, pangan, hingga biaya pemanas rumah, terutama di negara seperti Inggris.
Namun, sejumlah komunitas intensional tercatat memiliki tingkat kerentanan yang lebih rendah terhadap guncangan ini. Hal ini terjadi karena mereka mengembangkan sistem energi yang lebih mandiri.
Di Bridport Cohousing, Dorset, misalnya, warga menggunakan sistem pemanas bersama dan memanfaatkan tenaga surya. Sementara di Pulau Eigg, Skotlandia, seluruh kebutuhan listrik dipasok dari sistem energi milik komunitas yang mengandalkan angin, air, dan matahari.
Meski tidak sepenuhnya lepas dari tekanan pasar global, sistem ini terbukti mampu menekan biaya dan mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Mengelola Biaya Hidup
Kenaikan harga energi juga berdampak pada biaya pangan dan perumahan. Komunitas intensional merespons tekanan ini dengan cara berbagi beban melalui pengelolaan sumber daya bersama.
Baca Juga: Ketua DPR Iran Mohammad Bagher Qalibaf: Nikmati Harga Bensin Saat Ini
Praktiknya meliputi pembelian bahan pangan dalam jumlah besar, pertanian kolektif, hingga sistem hunian kooperatif. Pendekatan ini tidak menghilangkan biaya, tetapi membantu mendistribusikan beban finansial secara lebih merata.
Ketahanan Sosial
Studi tahun 2023 terhadap 18 komunitas intensional di Inggris dan Wales menunjukkan bahwa komunitas ini memiliki ketahanan sosial yang lebih kuat di tengah krisis.
Interaksi rutin, pengambilan keputusan bersama, dan budaya saling membantu menjadi faktor penting. Di salah satu komunitas hunian lansia perempuan di dekat London, misalnya, anggota komunitas mengelola klub daring dan berbagi hasil panen dari kebun bersama sebagai bentuk dukungan sosial.
Kemandirian Pangan
Gangguan jalur pasokan energi global, seperti potensi penutupan Selat Hormuz, berdampak pada produksi dan distribusi pangan. Untuk mengantisipasi hal ini, banyak komunitas intensional mulai memproduksi pangan sendiri.
Komunitas Redfield di Buckinghamshire Utara menjadi salah satu contoh. Mereka mengelola lahan seluas 17 hektar untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan pangan, sekaligus beternak dan mengembangkan praktik permakultur.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
Pilihan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
Terkini
-
Surya Paloh Titip Masa Depan Indonesia ke Anak Muda: Tak Bisa Lagi Berharap pada Generasi Tua
-
Sempat Kabur ke Depok, Begal Driver Lalamove di Gunung Masigit Akhirnya Diringkus Polisi
-
Polresta Solo Amankan Dua Pemuda Bawa Clurit di Jebres, Ini Kronologinya
-
Pofesi HR Kini Tak Hanya Urus Administrasi, Tapi Juga Menuju Mitra Strategis Bisnis
-
Waketum PSSI Ratu Tisha Kenalkan Liga Universitas Coca-Cola di Forum PBB
-
Liburan ke Bali Sambil Nonton Festival Musik, Ini Deretan Destinasi Seru di Bali Selatan
-
Prananda Paloh Resmi Pimpin Garda Pemuda NasDem, Surya Paloh Beri Pesan Menyentuh
-
Mengapa Banyak Proyek AI di Perusahaan Indonesia Mandek? Ternyata Bukan Salah Teknologinya
-
Keluar dari 'Zona Tidak Aman', Sarwendah Pilih Tinggalkan Rumah Gono-gini Ruben Onsu
-
Sambut Minat Besar Investor, PLN Siapkan Kontrak Jangka Panjang untuk Akselerasi Proyek PSEL