-
Blokade militer Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran memicu ancaman kenaikan harga bensin dunia.
-
Perundingan damai di Islamabad gagal mencapai kesepakatan sehingga memicu eskalasi konflik maritim baru.
-
Mohammad Bagher Qalibaf memperingatkan warga Amerika Serikat mengenai lonjakan harga bahan bakar yang drastis.
Suara.com - Blokade total terhadap seluruh aktivitas maritim di pelabuhan Iran segera memicu ancaman krisis energi global.
Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM secara resmi memulai penutupan akses logistik laut tersebut Senin ini.
Dikutip dari Analodu, kebijakan drastis ini muncul sebagai respons atas kegagalan perundingan diplomatik yang berlangsung di Islamabad Pakistan.
Dampaknya diprediksi akan mengganggu stabilitas pasokan minyak dunia secara masif dalam waktu yang sangat singkat.
Harga bahan bakar di pasar internasional kini berada dalam bayang-bayang kenaikan harga yang sangat tajam.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf melontarkan peringatan keras kepada pemerintah Amerika Serikat terkait situasi tersebut.
Qalibaf menekankan bahwa masyarakat Amerika Serikat akan segera menghadapi kenyataan pahit mengenai biaya hidup yang tinggi.
Pernyataan ini muncul setelah delegasi kedua negara gagal mencapai kesepakatan damai pada pertemuan akhir pekan.
"Nikmati harga bensin saat ini. Dengan apa yang disebut 'blokade' itu, tak lama lagi Anda akan merindukan harga bensin menjadi 4-5 dolar AS," kata Qalibaf.
Baca Juga: Diancam Trump Bakal Dikirim ke Neraka, Iran Siapkan 'Pusaran Maut' di Selat Hormuz
Pihak Iran menilai langkah militer Amerika Serikat hanya akan menyulut api inflasi di negara mereka.
Ironi Harga Bahan Bakar Dunia
Qalibaf bahkan membagikan bukti visual mengenai kondisi harga bahan bakar di kawasan sekitar Gedung Putih.
Data tersebut menunjukkan angka penjualan bensin saat ini berkisar antara 4,10 dolar AS hingga 5,80 dolar AS per galon.
Angka tersebut setara dengan kisaran Rp70 ribu hingga Rp99 ribu jika dikonversi ke dalam mata uang Rupiah.
Pesan digital Qalibaf di platform X menjadi sinyalemen bahwa Iran siap menghadapi tekanan ekonomi dari barat.
Berita Terkait
Terpopuler
Pilihan
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
Terkini
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
-
Tito Karnavian Ungkap Fakta: Angka Kemiskinan di Papua Masih di Atas Rata-Rata Nasional
-
Dulu Dicurigai dan Tidak Dipercaya, Mengapa Pakistan Jadi 'Juru Damai' AS - Iran?
-
Mendes Yandri Susanto Bantah Isu Dana Desa Dipotong, Sebut Kopdes Merah Putih Perkuat Ekonomi Warga
-
Gara-gara Ceramahnya, GAMKI dan Pemuda Katolik Resmi Laporkan Jusuf Kalla ke Polda Metro Jaya
-
Panas! Militer Amerika Serikat Buru Kapal Pembayar Upeti Iran di Selat Hormuz
-
15.000 Paket Sembako dari Indonesia Tiba di Gaza, Baznas Pastikan Bantuan Tepat Sasaran
-
Mendagri Dukung Perpanjangan Dana Otsus Aceh dan Usulkan Kembali ke 2 Persen Akibat Dampak Bencana
-
Mensos Gus Ipul Pastikan Bansos Cair Minggu Ketiga April 2026, Dijamin Lebih Tepat Sasaran
-
Polemik Ceramah JK di UGM, GAMKI Ancam Lapor ke Polisi karena Dinilai Singgung Umat Kristen