- Ilmuwan Michael Maniates menyatakan bahwa gaya hidup ramah lingkungan oleh individu tidak cukup efektif mengatasi krisis iklim global.
- Fokus berlebihan pada konsumsi individu justru mengalihkan perhatian publik dari peran aktor besar serta sistem industri yang merusak.
- Masyarakat perlu beralih dari sekadar konsumen menjadi warga kolektif untuk mendorong perubahan sistemik serta kebijakan publik yang efektif.
Suara.com - Selama bertahun-tahun, publik didorong berkontribusi menyelamatkan lingkungan lewat pilihan gaya hidup—mulai dari membawa tas belanja sendiri, mengurangi plastik, hingga membeli produk ramah lingkungan. Namun, pendekatan ini dinilai tidak cukup untuk menjawab krisis iklim yang semakin kompleks.
Pandangan tersebut disampaikan oleh Michael Maniates, ilmuwan sosial lingkungan yang pernah menjadi profesor studi lingkungan di Yale-NUS University, Singapura, dan telah lama meneliti konsumsi hijau.
Dalam sebuah diskusi podcast, seperti dikutip dari Eco Busines ia menilai fokus berlebihan pada aksi individu justru bisa menyesatkan arah perubahan.
Menurut Maniates, narasi yang berkembang di ruang publik—terutama melalui iklan dan produk—mendorong anggapan bahwa tindakan kecil seperti membeli produk “hijau” dapat menghasilkan perubahan besar.
“Gagasan bahwa pilihan konsumsi individu bisa mendorong perubahan sistemik itu keliru,” ujarnya.
Ia menjelaskan, gaya hidup ramah lingkungan tidak sepenuhnya buruk. Praktik seperti konsumsi organik atau pengurangan limbah dapat membantu individu hidup lebih sadar dan sehat. Namun, dampaknya sangat terbatas jika dibandingkan dengan skala kerusakan lingkungan secara global.
Dalam bukunya The Living Green Myth, Maniates menilai pendekatan berbasis konsumsi justru mempersempit cara pandang publik terhadap isu lingkungan. Perubahan iklim, menurutnya, bukan sekadar persoalan perilaku individu, melainkan terkait erat dengan sistem besar seperti energi, industri, dan kebijakan publik.
“Ketika kita terlalu fokus pada konsumen, perhatian kita teralihkan dari aktor-aktor besar dan sistem yang sebenarnya menjadi penyebab utama kerusakan lingkungan,” jelasnya.
Ia menambahkan, sebagian besar dampak lingkungan dari suatu produk terjadi jauh sebelum sampai ke tangan konsumen. Rantai produksi dan distribusi menyumbang sekitar 90 hingga 95 persen dari jejak ekologis, sehingga perubahan di tingkat individu menjadi relatif kecil pengaruhnya.
Baca Juga: Kartini Masa Kini: Aksi Nyata Prilly Untuk Lingkungan Berkelanjutan
Meski demikian, Maniates tidak sepenuhnya menolak peran individu. Ia menegaskan bahwa tindakan individu tetap penting, tetapi dalam bentuk yang berbeda—yakni sebagai warga yang terlibat secara kolektif, bukan sekadar sebagai konsumen.
Ia juga mengkritik penggunaan istilah “kita” dalam isu lingkungan, yang kerap menyamarkan perbedaan tanggung jawab. Menurutnya, tidak semua pihak memiliki kontribusi dan kekuatan yang sama dalam menyebabkan maupun mengatasi krisis iklim.
Lebih jauh, Maniates menilai gaya hidup hijau justru bisa mengurangi partisipasi publik dalam aksi kolektif. Banyak orang merasa sudah “cukup berkontribusi” setelah membeli produk ramah lingkungan, sehingga enggan terlibat dalam upaya yang lebih luas seperti advokasi kebijakan atau gerakan sosial.
Sebagai contoh, ia menyinggung teknologi seperti kendaraan listrik yang sering dianggap solusi utama. Meski lebih baik dibanding kendaraan berbahan bakar fosil, teknologi ini tidak serta-merta mengubah sistem transportasi secara menyeluruh. “Kita butuh perubahan sistem, seperti transportasi publik yang efisien, bukan hanya mengganti jenis kendaraan,” katanya.
Di tengah meningkatnya konsumsi global, Maniates tetap menyimpan optimisme. Ia percaya perubahan tetap mungkin terjadi, asalkan masyarakat bergeser dari pola pikir sebagai konsumen menjadi warga yang aktif mendorong perubahan sistemik.
“Harapan itu bukan sesuatu yang datang begitu saja, tapi sesuatu yang kita lakukan bersama,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa masa depan lingkungan tidak hanya ditentukan oleh pilihan belanja, tetapi oleh sejauh mana masyarakat mampu bekerja sama, mendorong kebijakan, dan mengubah sistem yang ada.
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
- Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
- 5 Bedak Padat Mengandung SPF, Praktis untuk Touch Up Sekaligus Lindungi Kulit dari Matahari
- Mathew Baker Masih Dianggap Milik Australia meski Dipanggil Timnas Indonesia Senior
- Sinyal Penggulingan '98 Jilid 2' Menguat, Cuma PDIP dan Habib Rizieq yang Bisa Selamatkan Prabowo?
Pilihan
-
Kecelakaan di Tol Pekanbaru-Dumai, 3 Penumpang Ambulans Tewas Seketika
-
Perang Baru! Iran Hujani Israel dengan Rudal
-
Rupiah Tak Kunjung Kuat, Kinerja Perry dan Purbaya Jadi Sorotan
-
Investor Terus Timbun Dolar, Rupiah Keok ke Rp18.126
-
Purbaya Tegaskan Masih Jabat Menkeu dan Tidak Ada Pembahasan Reshuffle, Ini Buktinya
Terkini
-
Tetap Pakai Sunscreen di Dalam Ruangan: Penting atau Hanya Gimmick Marketing?
-
Syarat Daftar PPPK Kemensos 2026, untuk Formasi Guru Sekolah Rakyat
-
Lipstik Nude Apa yang Gak Bikin Wajah Pucat? Ini Tips Memilih Produk yang Tepat
-
4 Serum Mengandung Kolagen untuk Mengencangkan Wajah, Lengkap dengan Review Pengguna
-
Empat Dekade Dipantau Satelit, Hutan Mangrove Dunia Menunjukkan Tanda-Tanda Pemulihan
-
5 Sunscreen yang Aman untuk Ibu Hamil dan Menyusui, Kulit Glowing Bebas Flek Hitam
-
3 Bedak Loose Powder Tahan Lama Rekomendasi MUA, Makeup Awet Seharian
-
Berapa Harga Parfum Mykonos? Ini 4 Rekomendasi Produk Terbaiknya Menurut Review
-
Dibuka Hari Ini, Catat Jadwal Seleksi PPPK Sekolah Rakyat dan Gajinya
-
Cara Daftar PPPK Sekolah Rakyat Lewat SSCASN BKN 2026, Ini Syarat dan Dokumen yang Dibutuhkan