Lifestyle / Food & Travel
Selasa, 28 April 2026 | 12:58 WIB
ilustrasi kereta api (dok. Institut Teknologi Sepuluh November)
Baca 10 detik
  • Tragedi Bintaro tahun 1987 di Tangerang Selatan menelan 139 hingga 156 korban jiwa akibat tabrakan adu banteng dua kereta.
  • Kecelakaan terbaru terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026 yang mengakibatkan 14 orang meninggal dunia.
  • Peristiwa di Bekasi tersebut memicu trauma publik karena adanya kemiripan isu keselamatan perkeretaapian dengan tragedi masa lalu.

Suara.com - Tragedi Kereta Bintaro 1987 kembali menjadi sorotan publik setelah kecelakaan maut di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026. Kecekalaan Kereta Api Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line di Bekasi Timur menyisakan duka mendalam dan memicu gelombang kenangan kelam tentang salah satu kecelakaan kereta paling tragis dalam sejarah Indonesia.

Netizen di media sosial ramai membandingkan kedua peristiwa, menyoroti isu keselamatan perkeretaapian yang seolah belum tuntas.

Tragedi Bintaro atau yang dikenal sebagai Tabrakan Kereta Api Bintaro 1987 terjadi pada 19 Oktober 1987 di Pondok Betung, Bintaro, kini wilayah Tangerang Selatan yang berbatasan dengan Jakarta Selatan.

Pagi itu, dua kereta api berpapasan di jalur tunggal: KA 220 Patas Merak jurusan Tanah Abang–Merak dan KA 225 Lokal Rangkas jurusan Rangkasbitung–Jakarta Kota.

Akibat human error, kesalahan komunikasi, dan dugaan kegagalan sistem sinyal, kedua kereta bertabrakan dengan kecepatan tinggi dalam tabrakan adu banteng.

Benturan dahsyat itu menghancurkan lokomotif dan beberapa gerbong depan. Suara tabrakan terdengar hingga ratusan meter. Proses evakuasi berjalan sangat sulit karena gerbong-gerbong saling tindih dan rusak parah.

Korban jiwa mencapai 139–156 orang, dengan ratusan lainnya mengalami luka berat. Tragedi ini tercatat sebagai kecelakaan kereta api terburuk sepanjang sejarah perkeretaapian Indonesia. Total kerugian material saat itu mencapai Rp1,9 miliar.

Masinis Slamet Suradio dari KA 225 menjadi salah satu yang selamat, namun harus menanggung beban psikologis dan hukuman yang berat seumur hidup.

Peristiwa itu memaksa pemerintah dan PJKA (kini PT KAI) melakukan pembenahan besar-besaran sistem perkeretaapian, termasuk peningkatan sinyal, komunikasi, dan prosedur operasional. Namun, 39 tahun kemudian, duka serupa kembali muncul.

Baca Juga: Dirut KAI: Evakuasi KA Argo Bromo 100 Persen Rampung, KRL ke Cikarang Masih Dihentikan

Pada 27 April 2026 malam, kecelakaan di Bekasi Timur terjadi di KM 28+920. Kronologi diawali saat KRL Commuter Line menabrak sebuah taksi atau mobil yang mogok di perlintasan sebidang dekat stasiun.

KRL berhenti mendadak, dan sesaat kemudian ditabrak dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek yang melaju. Gerbong belakang KRL, atau gerbong wanita, ringsek parah.

Menurut update terbaru, kecelakaan ini menewaskan 14 orang dan melukai 84 orang lainnya. Puluhan korban dievakuasi dengan tandu, sementara proses pemotongan gerbong dilakukan untuk menyelamatkan yang masih terjepit.

Kecelakaan kereta Bekasi ini langsung memicu perbandingan dengan Tragedi Bintaro.

Banyak yang mengingatkan bahwa Indonesia pernah mengalami Tragedi Bintaro II pada 9 Desember 2013, ketika KRL Commuter Line Serpong–Tanah Abang menabrak truk tangki Pertamina di perlintasan Pondok Betung—hanya ratusan meter dari lokasi tragedi 1987.

Kala itu, sembilan orang tewas, termasuk masinis dan asisten masinis, serta gerbong wanita terbakar hebat.

Load More