Lifestyle / Komunitas
Selasa, 28 April 2026 | 16:45 WIB
Ilustrasi distribusi gas melon ke pengecer
Baca 10 detik
  • Konsumsi LPG nasional capai 8,6 juta ton, sebagian besar dipenuhi melalui keran impor.
  • Pemerintah siapkan CNG berbahan dasar gas alam lokal sebagai substitusi utama LPG impor.
  • Penggunaan gas domestik ini diyakini mampu wujudkan kemandirian energi di tengah ketidakpastian geopolitik.

Mulai dari jaringan perhotelan, restoran, hingga Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) rutin menggunakannya. Semua suplai dijamin aman tanpa campur tangan kuota barang impor.

"Tapi kalau untuk CNG, itu sebagian sudah dipakai. Untuk hotel, restoran, itu sudah dipakai."

"Sebagian SPBG sudah juga dipakai. Dan itu bahan bakunya tidak kita impor, semuanya dalam negeri."

"Nah ini yang coba kita, kita cari alternatif. Karena di era geopolitik yang tidak menentu, kita harus mencari formulasi untuk mencapai survival mode."

"Semua produksi yang ada di dalam negeri, itu yang kita prioritaskan," tandas Bahlil.

Masa Depan Ketahanan Energi

Strategi gas terkompresi ini melengkapi jurus andalan pemerintah dalam menyiasati ketidakpastian dunia. Kehadirannya berjalan beriringan dengan program optimalisasi sumur minyak bumi.

Langkah paralel lainnya mencakup pemanfaatan campuran B50 hingga penggunaan Dimetil Eter (DME). Semuanya bermuara pada satu tujuan pasti, yakni kedaulatan energi bagi seluruh rakyat Indonesia.

Baca Juga: Isu Reshuffle Sore Ini, Bahlil: Ya Nanti Kita Lihat

Load More