Lifestyle / Komunitas
Rabu, 29 April 2026 | 18:17 WIB
Daycare Little Aresha disegel polisi. [Suara.com/Hiskia]
Baca 10 detik
  • Ketua IDAI, Dr. Piprim Basarah, mendesak standarisasi daycare nasional dan penyediaan CCTV demi keamanan anak dari tindak kekerasan.
  • Orangtua diimbau lebih selektif memilih tempat penitipan anak dan tidak hanya tergiur dengan penawaran harga yang murah.
  • Orangtua harus peka terhadap perubahan perilaku, emosi, atau fisik anak sebagai tanda peringatan adanya trauma akibat kekerasan.

Suara.com - Belajar dari peristiwa kekerasan pada anak di daycare Little Aresha Yogyakarta, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan orangtua untuk lebih selektif memiliki daycare. Salah satunya pastikan adanya fasilitas CCTV real time yang bisa diakses orangtua.

Pesan ini disampaikan Ketua IDAI Dr.dr.Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K) yang menilai pentingnya standarisasi daycare di Indonesia. Standarisasi ini nantinya harus dalam pengawasan pakar.

"Agar semua daycare itu punya standarisasi yang betul diawasi oleh pakar. Dan orangtua juga bisa selalu akses apa yang terjadi pada anaknya. CCTV itu sangat penting," ujar Dr. Piprim dalam diskusi daring, Rabu (29/4/2026).

Standarisasi ini nantinya bisa menjadi patokan agar para orangtua mengutamakan keamanan dan kenyamanan buah hati saat jauh dari keluarga.

Sehingga orangtua tidak mudah termakan promosi dengan harga murah yang ditawarkan pengelola daycare.

"Tapi intinya ini tidak boleh serulang terjadi lagi. Tidak boleh terjadi lagi. Sudah cukup terakhir di Jogja dan Aceh ini. Tidak boleh lagi ada kekerasan pada anak," papar Dr. Piprim.

Kondisi Daycare Little Aresha yang dicoret-coret orang tak dikenal, Selasa (28/4/2026). (Suarajogja.id/Putu Ayu Palupi)

Selain memastikan adanya fasilitas CCTV yang bisa dipantau secara real time, orangtua juga diminta tidak lengah dalam membaca perubahan perilaku anak.

Apalagi menurut Dr.Piprim tanda-tanda kekerasan pada anak sering kali tidak selalu terlihat secara kasat mata, melainkan muncul melalui perubahan emosi dan respons anak sehari-hari.

Ia menjelaskan, anak yang mengalami kekerasan, baik fisik maupun psikis, umumnya menunjukkan reaksi penolakan ketika akan kembali ke lingkungan yang membuatnya tidak nyaman, termasuk daycare.

Baca Juga: Tak Hanya Kekerasan Anak, LPSK Endus Dugaan Penipuan hingga Malapraktik di Daycare Little Aresha

Reaksi ini bisa berupa tangisan berlebihan, ketakutan tanpa sebab yang jelas, hingga perubahan sikap yang drastis.

"Nah, buat orang tua juga memang perlu lebih aware tanda-tanda kekerasan yang bisa dialami oleh anaknya. Jadi selalu dicek, kekerasan fisik maupun kekerasan psikis. Kalau anaknya ada trauma, belum apa-apa sudah drama kalau dibawa ke daycare-nya," jelasnya.

Menurutnya, respons seperti ketakutan atau penolakan tidak boleh dianggap sebagai hal sepele. Orangtua perlu melihatnya sebagai sinyal atau alarm bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Terlebih jika perubahan tersebut terjadi secara konsisten dan tidak seperti biasanya.

Dalam beberapa kasus, anak mungkin belum mampu mengungkapkan apa yang dialaminya secara verbal.

Oleh karena itu, pendekatan emosional dari orangtua menjadi kunci penting untuk memahami kondisi anak.

Orangtua diharapkan dapat membangun komunikasi yang hangat dan aman agar anak merasa nyaman untuk bercerita.

Load More