Lifestyle / Komunitas
Senin, 25 Mei 2026 | 11:02 WIB
Ilustrasi Sampah Plastik. (Dok. Greenpeace)

Suara.com - Kemasan saset telah lama menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia. Ukurannya yang kecil dan harganya yang terjangkau membuat berbagai produk rumah tangga, mulai dari sabun hingga sampo, lebih mudah diakses oleh masyarakat berpenghasilan rendah.

Namun, di balik kemudahan tersebut, saset juga menjadi salah satu penyumbang sampah plastik yang paling sulit ditangani.

Berbeda dengan botol atau kemasan plastik berukuran besar yang masih memiliki nilai ekonomi untuk didaur ulang, saset kerap berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).

Ukurannya yang kecil, ringan, dan mudah tercampur dengan sampah organik membuat kemasan ini sulit dipilah dan nyaris tidak memiliki nilai jual.

Kondisi tersebut mendorong Koordinator Refillin, Jofanny Ahmad, mencari cara untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap produk kemasan sekali pakai.

Terinspirasi dari konsep pedagang keliling yang mendatangi konsumen secara langsung, ia memodifikasi sepeda untuk menjajakan sabun curah dari rumah ke rumah di sejumlah wilayah di Jawa Timur.

“Aku keliling pakai sepeda sambil edukasi ke masyarakat. Aku punya metode yang namanya nyadu, yaitu nyeles sambil edukasi,” ujar Jofanny dalam diskusi di Raksa Local Fest 2026, Sabtu (23/5).

Melalui pendekatan tersebut, Jofanny tidak hanya menjual produk isi ulang, tetapi juga mengajak warga memahami dampak lingkungan dari penggunaan saset yang terus meningkat.

Mengubah Kebiasaan Konsumen

Baca Juga: Leony Vitria 'Kuliti' Borok Sampah Tangsel: Anggaran Miliaran, Hasilnya Nol Besar?

Menurut Jofanny, tantangan terbesar bukanlah menyediakan produk isi ulang, melainkan mengubah cara pandang masyarakat. Banyak warga menganggap produk curah lebih mahal karena dijual dalam wadah besar, meski secara harga per volume justru lebih ekonomis dibanding produk saset.

Untuk mengatasi hal itu, Refillin menyediakan takaran 200 mililiter yang disesuaikan dengan kemampuan belanja harian masyarakat desa.

Dari berbagai percakapan dengan warga, terutama ibu rumah tangga, Jofanny menemukan bahwa banyak konsumen tidak pernah membandingkan jumlah produk yang diperoleh dari saset dengan produk isi ulang pada harga yang sama.

“Ketika dibandingkan, mereka baru sadar ternyata isi saset sering kali lebih sedikit dibanding produk curah dengan harga yang setara,” katanya.

Ia juga menyoroti minimnya sistem pengelolaan sampah untuk kemasan saset. Tidak seperti botol plastik atau kardus yang masih dapat dijual ke bank sampah, sebagian besar saset tidak memiliki nilai ekonomi setelah digunakan.

“Kita enggak tahu bahayanya saset itu apa, terus enggak ada peringatan saset harus dibuang ke mana. Di TPS dan di bank sampah pun enggak ada nilainya,” ujar Jofanny.

Load More