Lifestyle / Komunitas
Senin, 25 Mei 2026 | 11:41 WIB
ilustrasi hari Tasyrik (Freepik)
Baca 10 detik
  • Hari Tasyrik jatuh pada 11, 12, dan 13 Dzulhijjah setelah Idul Adha.

  • Umat Muslim dilarang berpuasa dan diwajibkan menikmati hidangan serta memperbanyak zikir.

  • Nama Tasyrik berasal dari tradisi kuno umat Islam menjemur daging kurban.

Suara.com - Perayaan Idul Adha tidak hanya berhenti di tanggal 10 Dzulhijjah saja.

Dalam Islam, terdapat tiga hari istimewa setelah Idul Adha yang disebut sebagai Hari Tasyrik.

Pada hari-hari ini, umat Muslim dilarang berpuasa dan justru dianjurkan untuk berpesta makan dan minum sebagai bentuk syukur.

Lantas, apa sebenarnya makna Hari Tasyrik dan amalan apa saja yang bisa dilakukan? Simak ulasan selengkapnya berikut ini.

Mengenal Apa Itu Hari Tasyrik

Dilansir dari laman MUI, Hari Tasyrik jatuh pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah dalam kalender Hijriah.

Hari-hari ini merupakan kelanjutan dari kemeriahan Idul Adha.

Ilustrasi makan daging kurban. (Unsplash/Eduardo D)

Bagi jamaah yang tengah menunaikan ibadah haji, Hari Tasyrik adalah waktu di mana mereka berada di Mina untuk melakukan prosesi lempar jumrah.

Bagi umat Muslim secara umum, Hari Tasyrik adalah momen penuh kenikmatan. Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk memperbanyak zikir dan menikmati hidangan, sehingga hukum berpuasa pada hari ini adalah haram.

Baca Juga: Moisturizer Apa yang Bagus untuk Wajah Kusam? Ini 5 Rekomendasi Produk di Indomaret

Asal-usul Nama Hari Tasyrik

Kata "Tasyrik" atau "Tasyriq" berasal dari bahasa Arab syarraqa yang berarti "matahari terbit" atau "menjemur sesuatu".

Berdasarkan penjelasan Syekh Ibnu Manzur dalam Lisan al-Arab, ada dua alasan utama penamaan ini:

1. Menjemur Daging (Dendeng)

Dahulu, sebelum ada teknologi pendingin seperti kulkas, umat Islam menyimpan daging kurban yang melimpah dengan cara dijemur di bawah terik matahari hingga menjadi dendeng.

Hal ini dilakukan agar daging bisa awet dalam jangka panjang.

Load More