Lifestyle / Food & Travel
Jum'at, 29 Mei 2026 | 12:00 WIB
Close-up ubur-ubur yang dikelilingi sampah laut, termasuk mikroplastik (Pexels/Nadejda Bostanova)

Bagian dari “Krisis Planet Rangkap Tiga”

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa polusi plastik tidak hanya menjadi persoalan sampah, tetapi juga berkaitan dengan perubahan iklim dan penurunan keanekaragaman hayati.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut kondisi ini sebagai “krisis planet rangkap tiga”, yakni krisis iklim, polusi lingkungan, dan hilangnya keanekaragaman hayati yang terjadi secara bersamaan.

Verones menjelaskan penelitian mereka mencakup tiga fokus utama terkait dampak plastik terhadap lingkungan.

“Kami mempelajari bagaimana plastik memengaruhi keanekaragaman hayati, misalnya ketika hewan terjerat atau menelan plastik. Kami juga menyelidiki bagaimana plastik memengaruhi penyebaran spesies invasif yang menempel pada plastik dan terbawa ke berbagai wilayah dunia,” ujarnya.

“Area ketiga berfokus pada bagaimana plastik memengaruhi jasa ekosistem, seperti penyerapan karbon,” lanjut Verones.

Temuan ini menambah daftar dampak panjang polusi plastik terhadap lingkungan global. Tidak hanya mencemari laut dan membahayakan satwa, mikroplastik kini juga dinilai berpotensi mengganggu kemampuan alami Bumi dalam menahan laju krisis iklim.

Penulis: Vicka Rumanti

Baca Juga: Carbon Trading Dinilai Jadi Senjata Baru Tekan Emisi di Indonesia

Load More