Lifestyle / Komunitas
Selasa, 02 Juni 2026 | 07:11 WIB
Foto Garuda Pancasila. [BPIP.go.id]
Baca 10 detik
  • Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjadi sorotan setelah poster Hari Lahir Pancasila yang diunggahnya viral di media sosial.
  • Warganet menilai gambar Garuda Pancasila pada poster tersebut memiliki jumlah bulu sayap yang tidak sesuai.
  • Polemik ini memicu rasa penasaran publik mengenai jumlah bulu Garuda Pancasila yang benar serta makna di baliknya.

Kontroversi bermula ketika warganet menemukan adanya perbedaan jumlah bulu pada bagian sayap hingga ekor Garuda yang ditampilkan dalam poster tersebut.

Kesalahan tersebut kemudian memicu kritik luas karena jumlah bulu Garuda Pancasila memiliki makna filosofis yang berkaitan dengan tanggal Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, yakni 17 Agustus 1945.

Di mana dalam aturan resmi, masing-masing sayap memiliki 17 helai bulu, ekor 8 helai, pangkal ekor 19 helai, dan leher 45 helai bulu.

Merespons polemik yang berkembang, BRIN melalui akun resminya menyampaikan permohonan maaf atas kesalahan dalam tayangan konten Hari Lahir Pancasila tersebut.

Lembaga itu juga mengakui peristiwa tersebut menjadi pelajaran agar lebih teliti, cermat, dan berhati-hati dalam proses pembuatan maupun penyebaran konten di masa mendatang.

"BRIN Indonesia menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan dalam tayangan konten peringatan Hari Lahir Pancasila yang telah kami bagikan," tulis BRIN dalam akun X resmi.

"Hal ini menjadi pelajaran bagi kami untuk lebih teliti, cermat, dan berhati-hati dalam proses pembuatan serta penyebaran konten di masa mendatang," lanjutnya, dilansir pada Selasa, 2 Juni 2026.

Sebagai bentuk tanggung jawab, BRIN langsung menghapus unggahan yang bermasalah dan menggantinya dengan versi yang telah diperbaiki.

BRIN juga menyampaikan terima kasih atas masukan serta perhatian masyarakat yang ikut mengawasi penggunaan simbol negara dalam ruang publik.

Baca Juga: Hari Lahir Pancasila, Bobby Nasution Tegaskan Pancasila Jadi Jawaban Tantangan Global

Load More