Suara.com - Gibran Tragari tidak pernah membayangkan dirinya akan menghabiskan waktu mengurus kebun. Ia tumbuh besar di kota, terbiasa dengan kehidupan yang praktis dan serba cepat.
Becek, lumpur, atau pekerjaan bertani bukanlah hal yang akrab dalam kesehariannya. Bahkan, ia mengaku dulu tidak terlalu menyukai sayuran.
Namun sebuah pengalaman sebagai relawan di Bumi Langit, Yogyakarta, mengubah cara pandangnya tentang hidup.
Di kawasan perbukitan Imogiri itu, Gibran tinggal di lingkungan yang jauh dari kenyamanan kota. Sinyal telepon sulit didapat, listrik kadang padam, dan sebagian besar kebutuhan hidup dipenuhi dari kebun sendiri.
Awalnya kondisi tersebut terasa asing. Namun perlahan ia menemukan sesuatu yang selama ini luput dari kehidupannya.
“Di sana saya sadar, sebenarnya untuk hidup kita butuh apa sih? Selama bisa makan dan minum, kebutuhan dasar sudah terpenuhi. Yang lain hanya tambahan,” kenangnya.
Pengalaman itu membuatnya mulai mempertanyakan pola hidup masyarakat perkotaan yang sangat bergantung pada sistem konsumsi modern.
Ia membayangkan bagaimana jika sebagian kebutuhan pangan bisa dipenuhi sendiri. Bukan untuk sepenuhnya lepas dari kota, melainkan agar memiliki hubungan yang lebih dekat dengan makanan dan lingkungan tempat hidupnya.
Dari Relawan Menjadi Pekebun
Baca Juga: Romy PDIP: Putusan MK Tegaskan Jakarta Masih Ibu Kota, Pembangunan IKN Harus Realistis dan Strategis
Sekembalinya ke Jakarta pada 2017, Gibran mulai membangun kebun kecil yang kemudian dikenal sebagai Sendalu Permaculture di Depok.
Perjalanannya tidak selalu mulus. Ia yang tidak memiliki latar belakang pertanian harus belajar dari awal, bergabung dengan komunitas Jakarta Berkebun, hingga bereksperimen langsung di lapangan.
Bersama istrinya yang juga memiliki ketertarikan pada isu pangan, Gibran perlahan mengembangkan Sendalu menjadi lebih dari sekadar kebun keluarga. Tempat itu kemudian menjadi ruang belajar, lokasi riset sederhana, pusat pembibitan, hingga tempat pelatihan bagi masyarakat yang ingin mengenal pertanian perkotaan.
Di tengah kehidupan urban yang serba cepat, Gibran melihat ada persoalan yang lebih besar daripada sekadar minimnya ruang hijau. Banyak orang ingin hidup lebih ramah lingkungan, tetapi merasa langkah tersebut terlalu rumit dan jauh dari kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, gambaran hidup berkelanjutan sering kali terlihat terlalu ideal sehingga membuat banyak orang enggan memulai.
Menjadi Jembatan bagi Warga Kota
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
- Lipstik Wardah yang Bagus Apa? Ini 4 Pilihan Paling Tahan Lama untuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
Terkini
-
Jaga Sumber Air dari Hulu hingga ke Hilir, AMDATARA Tanam 250 Mangrove di Pesisir Jateng
-
134 Karya Siswa Sekolah Rakyat Semarakkan Lomba Fotografi Awan Cerah 2026 di TIM
-
Jaksa Agung Rotasi Besar-besaran, Posisi Dirdik Jampidsus Hingga 8 Kajati Resmi Berganti
-
Review Jujur Drunken Molen: Humor Absurd yang Diam-Diam Menertawakan Hidup
-
Bos Whip Pink Ayah dan Anak Jadi Tersangka, Bareskrim Bongkar Bisnis Gas Tertawa Ilegal
-
Apakah Serum Viva Gold Bisa Menghilangkan Flek Hitam? Kenali Kandungan dan Manfaatnya
-
Wamensos Tekankan Pentingnya Pengelolaan Sarpras Sekolah Rakyat
-
Atap Stadion Pakansari Usai Diperbaiki, Kabupaten Bogor Siap Sambut Piala AFF 2026
-
Penampakan Desain Flyover Simpang Panam, Sarat Ornamen Khas Melayu
-
Berkas Perkara Taufik Hidayat Resmi Masuk Kejati Jabar