Lifestyle / Komunitas
Senin, 08 Juni 2026 | 11:27 WIB
Hutan mangrove (Pexels/Alex Gonzo)

Suara.com - Hutan mangrove selama ini dikenal sebagai benteng alami pesisir. Selain melindungi garis pantai dari abrasi, ekosistem ini juga berperan penting sebagai penyerap karbon dalam jumlah besar.

Setelah puluhan tahun terancam akibat deforestasi dan pembangunan kawasan pesisir, penelitian terbaru menunjukkan kabar yang cukup menggembirakan: mangrove dunia mulai pulih.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Science dan dilaporkan oleh Phys.org menemukan bahwa kehilangan hutan mangrove global selama empat dekade terakhir hampir sepenuhnya terimbangi oleh pertumbuhan kembali dan perluasan kawasan mangrove baru. Penelitian yang dilakukan tim dari Tulane University ini menggunakan data satelit selama 40 tahun untuk memantau perubahan tutupan mangrove di seluruh dunia.

Peneliti utama studi tersebut, Zhen Zhang, mengatakan temuan ini menunjukkan ketahanan mangrove yang kuat sekaligus potensinya sebagai solusi berbasis alam untuk menghadapi krisis iklim.

“Ini menyoroti ketahanan mereka yang kuat dan potensi mereka sebagai solusi berbasis alam yang ampuh untuk mitigasi iklim dan perlindungan pantai,” kata Zhang.

Kehilangan Mangrove Menyusut Drastis

Analisis menunjukkan luas mangrove global sempat berkurang sekitar 2.900 kilometer persegi antara dekade 1980-an hingga 2010. Namun, dalam 16 tahun terakhir, laju pertumbuhan mangrove mulai melampaui laju kehilangan.

Akibatnya, hingga 2023, kerugian bersih hutan mangrove global selama 40 tahun terakhir tinggal sekitar 1 persen dari total luasnya. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan berbagai perkiraan sebelumnya yang memprediksi kerusakan lebih besar.

Menurut para peneliti, perkembangan tersebut dapat menjadi salah satu kisah sukses konservasi yang langka di tengah berbagai tantangan lingkungan global.

Baca Juga: Antisipasi Ancaman Abrasi, Kolaborasi Platform Digital Dorong Pendanaan Hijau Berbasis ESG

Restorasi dan Alam Bekerja Bersama
Pemulihan mangrove terjadi karena kombinasi antara kebijakan konservasi, program restorasi, dan proses alami.

Di sejumlah wilayah, mangrove tumbuh kembali di bekas tambak atau kolam budidaya perikanan yang sudah tidak digunakan. Mangrove juga memperluas wilayahnya ke dataran lumpur baru yang terbentuk di kawasan pesisir dan delta sungai yang masih memiliki pasokan sedimen memadai.

Selain bertambah luas, kualitas hutan mangrove juga meningkat. Penelitian menemukan semakin banyak kawasan mangrove dengan kanopi rapat, yang menunjukkan kondisi vegetasi yang lebih sehat dibandingkan beberapa dekade lalu.

Pemanasan Global Memperluas Sebaran Mangrove

Salah satu temuan menarik dalam studi ini adalah perubahan sebaran mangrove akibat meningkatnya suhu global.

Di Delta Sungai Mississippi, Amerika Serikat, luas mangrove sempat menurun sejak 1980-an hingga akhir 1990-an. Namun setelah 2012, kawasan tersebut mengalami pertumbuhan signifikan. Kenaikan suhu memungkinkan mangrove yang umumnya tumbuh di wilayah tropis dan subtropis meluas ke daerah dengan lintang yang lebih tinggi, termasuk wilayah Louisiana.

Load More