“Jadi ini yang ngebuat aku sedih banget, dan aku di situ bingung karena aku masih enggak tahu apa yang mau aku lakuin,” katanya.
Perasaan tersebut kemudian berubah menjadi dorongan untuk mencari peran yang bisa ia ambil.
Menemukan Peran Lewat Edukasi
Sejak 2021, Mudi mulai lebih serius menekuni isu konservasi, terutama perdagangan satwa liar. Ia bergabung dengan sejumlah organisasi nonpemerintah dan lembaga lingkungan.
Namun, bukan penelitian lapangan yang akhirnya membuatnya bertahan.
Ia menemukan bahwa hal yang paling ia nikmati justru berbicara dengan orang lain.
“Ternyata aku menyukai edukasi. Aku menyukai anak-anak. Aku menyukai jalan-jalannya. Jadi aku memutuskan pekerjaan yang sekarang, yaitu membuat konten edukasi di media sosial,” ujarnya.
Hari ini, Mudi bekerja sebagai content creator di penerbit buku anak sekaligus aktif menjadi edukator konservasi di berbagai sekolah alam dan program lingkungan.
Di media sosial, ia menggunakan bahasa yang ringan untuk mengenalkan satwa, konservasi, dan kebiasaan sederhana yang lebih ramah lingkungan.
Baca Juga: Bukan Pembersihan Biasa! Butuh 6 Bulan untuk Bikin Tugu Monas Kembali Kinclong
Mengajak Orang Datang ke Alam dengan Cara yang Berbeda
Di luar itu, Mudi juga menyebut dirinya sebagai eco-traveler—cara bepergian yang menurutnya tidak hanya menikmati alam, tetapi juga menghormatinya.
“Aku lebih menekankan ke eco-traveler. Jadi kita bisa jalan-jalan tapi tetap bertanggung jawab untuk lingkungan, bawa botol minum, tempat makan sendiri, dan meminimalisir karbon yang dihasilkan,” tuturnya.
Bagi Mudi, konservasi tidak selalu dimulai dari penelitian besar atau ekspedisi jauh.
Kadang, ia dimulai dari rasa ingin tahu. Dari mengenal satwa yang hidup di sekitar. Dari belajar tidak meninggalkan sampah saat berkunjung ke alam.
Bukan Sekadar Menikmati, tetapi Menjaga
Karena pada akhirnya, yang ingin ia dorong bukan sekadar membuat orang datang ke alam—tetapi membuat mereka belajar menghormatinya.
“Aku pengen masyarakat itu saat main ke alam enggak cuma buat hiburan aja, tapi mereka coba lebih menghormati alam, lebih belajar tentang alam. Yang paling penting adalah mereka ikut menjaga dan mengambil peran terhadap konservasi di Indonesia,” katanya.
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Beda Cushion Wardah Colorfit Hijau dan Krem: Intip Harga, Kandungan, dan Manfaatnya
- 5 HP Android dengan Kualitas Setara iPhone 13 Pro dan iPhone 13 Pro Max
Pilihan
-
Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
-
Namanya Terseret Isu Dugaan Korupsi BGN, Yahya Golkar: Semua Anggota Komisi IX DPR Tak Terlibat!
-
Perhatian! Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250/Liter
-
Susunan Pemain Timnas Indonesia vs Mozambik di FIFA Matchday Malam Ini
-
Menkes Budi Gunadi Sadikin Susul Chatib Basri dan Luhut ke Istana
Terkini
-
Jakarta Baru Punya 5,31 Persen Ruang Terbuka Hijau: Mengapa Warga Turun Tangan Kawal Taman Kota?
-
4 Parfum Evangeline Best Seller di Shopee, Wanginya Bikin Susah Pindah ke Parfum Lain
-
5 Rekomendasi Sunscreen SPF 30 untuk Dipakai Indoor, Ringan dan Harga Terjangkau
-
3 Lipstik Viva Cosmetics Paling Laris di Shopee Menurut Ulasan dan Harganya
-
4 Sepatu Lari Super Trainer Pesaing Adidas Adizero Evo SL, Terbaik Buat Jarak Jauh
-
Saat Pakaian Lama Punya Hidup Baru: Inspirasi Fashion Berkelanjutan dari Uniqlo
-
Membaca Jakarta dari Ruang Hijau: Catatan Sehari Bersama Ayo ke Taman
-
Banyak Ibu Mengalaminya, Ini Kisah Bangkit dari Kerontokan Rambut Pascapersalinan
-
Daftar Harga BBM BP Hari Ini di Jabodetabek dan Jawa Timur, BP Ultimate Tembus Rp17.240
-
Weton Tulang Wangi Apa Saja? Ini Alasan Dilarang Keluar di Malam 1 Suro