- GEF SGP Indonesia resmi memulai Fase Operasional 8 untuk memberdayakan masyarakat akar rumput dalam pelestarian lingkungan dan perubahan iklim.
- Program ini berfokus mendukung inisiatif lokal masyarakat pesisir, masyarakat adat, serta pemuda untuk menjaga keberlanjutan ekosistem di seluruh Indonesia.
- Koordinator Nasional Sidi Rana Menggala menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan dampak konservasi nyata bagi masa depan global.
Suara.com - Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia resmi bersiap memasuki Fase Operasional 8 atau Operational Phase 8. Langkah baru ini membawa komitmen yang semakin kokoh guna memberdayakan masyarakat akar rumput sebagai garda terdepan dalam menjaga kelestarian lingkungan dan menghadapi tantangan perubahan iklim global.
Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia, Sidi Rana Menggala, menegaskan perubahan lingkungan yang nyata selalu berakar dari tingkat paling lokal. Menurut ilmuwan dari Ghent University tersebut, gerakan yang dimotori masyarakat di daerah adalah kunci dari keberhasilan konservasi global.
"Setiap transformasi lingkungan yang bermakna dimulai dari manusia—komunitas yang memilih untuk bertindak, berinovasi, dan melindungi bentang alam yang mereka sebut sebagai rumah," ujar Sidi Rana Menggala, Minggu (14/6/2026).
Selama mengawal program ini, Sidi menyaksikan sendiri bagaimana berbagai inisiatif mandiri di berbagai pelosok nusantara mampu memberikan kontribusi besar. Inisiatifnya pun beragam, mulai dari perlindungan laut hingga pelestarian hutan adat.
"Saya mendapat kehormatan untuk menyaksikan secara langsung bagaimana inisiatif lokal menciptakan dampak yang berkelanjutan bagi konservasi keanekaragaman hayati, ketahanan iklim, mata pencaharian berkelanjutan, dan restorasi ekosistem di seluruh Indonesia."
Sidi mencontohkan berbagai aksi nyata yang telah berjalan di lapangan. Ada masyarakat pesisir yang bahu-membahu melindungi ekosistem laut. Ada pula masyarakat adat yang konsisten menjaga hutan. Tak jarang pula, generasi muda yang melahirkan berbagai inovasi ramah lingkungan. Keberagaman penggerak ini membuktikan solusi terbaik sering kali lahir dari mereka yang berinteraksi langsung dengan alamnya.
"Dari masyarakat pesisir yang melindungi ekosistem laut, Masyarakat Adat yang menjaga hutan, hingga inovasi yang dipimpin oleh pemuda dalam mendorong keberlanjutan, upaya-upaya ini mengingatkan kita bahwa solusi yang paling kuat sering kali muncul dari akar rumput," jelas Sidi.
Memasuki Fase Operasional 8, GEF SGP Indonesia dipastikan akan terus memperluas jangkauan dukungan, mempererat kolaborasi lintas sektor, serta mendorong lahirnya ide-ide segar dari komunitas lokal untuk membangun ketangguhan ekosistem dan ekonomi secara beriringan.
"Saat kita memasuki Fase Operasional 8, kami tetap berkomitmen untuk memberdayakan komunitas lokal, memperkuat kemitraan, dan mendukung solusi inovatif yang membangun masa depan yang lebih berkelanjutan dan tangguh."
Lebih lanjut, Sidi menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada seluruh pihak yang selama ini terlibat aktif dalam jaringan program GEF SGP Indonesia. Kerja sama antara masyarakat, pemerintah, donor, dan lembaga sipil menjadi fondasi utama kokohnya gerakan keberlanjutan ini.
"Saya bersyukur dapat bekerja bersama organisasi masyarakat yang berdedikasi, mitra masyarakat sipil, lembaga pemerintah, donor, dan praktisi pembangunan yang terus membuktikan bahwa aksi kolektif dapat menciptakan perubahan yang luar biasa," tutur dia.
Di akhir pernyataannya, ia mengingatkan bahwa jalan menuju masa depan yang hijau tidak bisa ditempuh sendirian oleh satu organisasi atau lembaga tertentu. Diperlukan kerja bersama yang konsisten dari seluruh elemen masyarakat.
"Masa depan keberlanjutan tidak dibangun oleh satu lembaga saja; melainkan dibangun oleh komunitas-komunitas yang bekerja bersama. Mari kita terus mengubah solusi lokal menjadi dampak global," pungkas Sidi Rana Menggala.
Berita Terkait
-
Festival Raksha Loka, Buktikan Solusi Komunitas Sebagai Kunci Hadapi Krisis Iklim Global
-
Jaga Wilayah Kelola Adat, UNDP Gandeng GEF-SGP Buka Proposal Hibah ICCA-GSI Phase 2
-
Perempuan Sabu Raijua, Penjaga Tradisi dan Motor Ekonomi Gula Semut
-
Elegi Gula Semut, Asa Baru Ekonomi Hijau di Jantung Sabu Raijua
-
Lontar dan Filosofi Kecukupan, Memahami Orang Sabu Lewat Sebatang Pohon
Terpopuler
- Bawa Kasus Penebangan Pohon ke Jalur Hukum, Farhan Siap Lapor Gubernur Jabar dan KLH
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Harta Kekayaan Iptu Setya Budi Dias, Oknum KPK Pemeras Bupati Pemalang
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- 5 Sepatu Kasual Nyaman untuk Jalan Kaki di Kota, Ringan dan Empuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Bypass Jantung Kini Tak Perlu Belah Tulang Dada, Teknik Minimal Invasif Percepat Pemulihan
-
Polisi Ungkap Plot Twist Kasus Jesslyn Wijaya, Dugaan Penculikan Terpatahkan
-
IHSG Diproyeksi Menguat Besok, Ini Saham yang Bisa Dipantau
-
Produk RI Makin Dilirik Asing, UMKM Perak Lokal Tembus Tiga Negara
-
Lowongan 94 Nakes di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru, Rekrutmen Dibuka Agustus
-
BNI Wujudkan Mimpi Pasangan Miliki Rumah Pertama Setelah 14 Tahun Menikah
-
Kevin Hardino dan Rachel Kesyah Aurellia Terpilih Jadi Bujang Gadis Palembang 2026
-
BNI Perkuat Akses Hunian Masyarakat Lewat Akad Massal 62.710 KPR Rumah Subsidi
-
Leo/Daniel Jadikan Gelar Juara Taipei Open 2026 Sebagai Kado Ultah
-
Anak Petani Banyumas Raih Predikat Lulusan Terbaik IPDN, Presiden Sematkan Tanda Pangkat