Lifestyle / Komunitas
Senin, 20 Juli 2026 | 16:10 WIB
Mengebut saat berkendara bikin tambah boros dan memperparah pemanasan global. (dok. Unsplash/CHUTTERSNAP)

Nevada menjadi salah satu wilayah dengan tingkat pelanggaran kecepatan yang tinggi. Pengemudi di wilayah tersebut tercatat sering berkendara melebihi batas yang ditentukan.

Sementara itu, Florida, Georgia, dan North Carolina menunjukkan pola berbeda. Pengemudi di wilayah tersebut cenderung berkendara dengan kecepatan tinggi, meski jumlah pelanggaran resmi tidak selalu sebanding.

Sebaliknya, Montana, Wyoming, Idaho, dan South Dakota menunjukkan tingkat pelanggaran yang lebih rendah dengan kebiasaan berkendara yang relatif lebih sesuai aturan.

Perubahan Kecil dengan Dampak Besar

Kebijakan pembatasan kecepatan sebenarnya telah lama diterapkan sebagai bagian dari upaya menghemat energi. Pada 1970-an, Amerika Serikat menetapkan batas kecepatan nasional sebesar 55 mph melalui Undang-Undang Konservasi Energi Jalan Raya Darurat saat menghadapi krisis energi.

Kebijakan tersebut diperkirakan mampu menghemat sekitar 7,2 juta galon bensin atau setara US$26 juta setiap hari ketika masyarakat mengubah pola berkendara menjadi lebih efisien.

Meski begitu, para peneliti mengingatkan bahwa berkendara lebih lambat bukan satu-satunya solusi untuk mengurangi konsumsi energi. Studi tersebut masih terbatas karena menggunakan pemodelan dengan kondisi jalan ideal. Dalam kondisi nyata, terlalu banyak kendaraan yang bergerak lambat juga dapat menyebabkan kemacetan dan menurunkan efisiensi lalu lintas.

Ilmuwan Peneliti Madya Teknik Mesin Universitas Michigan, Rob Middleton, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, mengatakan penghematan bahan bakar dari kebiasaan mengemudi lebih lambat memang terlihat besar secara angka, tetapi masih menjadi bagian kecil dari total konsumsi bahan bakar harian.

“Angkanya memang besar, tetapi hanya sebagian kecil,” ujarnya.

Baca Juga: Ketimpangan Jejak Karbon: Emisi Orang Kaya di Balik Kampanye Go Green

Menurut Middleton, perubahan perilaku berkendara merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan tanpa membutuhkan biaya tambahan.

“Ini seperti hadiah cuma-cuma karena sebenarnya tidak membutuhkan biaya apa pun bagi siapa pun untuk melakukannya,” katanya.

Di tengah transisi menuju kendaraan listrik yang masih berlangsung, kendaraan berbahan bakar fosil diperkirakan masih akan digunakan dalam waktu panjang. Karena itu, perubahan kebiasaan berkendara menjadi salah satu cara yang dapat dilakukan saat ini untuk mengurangi konsumsi energi dan emisi kendaraan.

“Selama pasar kendaraan listrik belum besar, kita masih membutuhkan bahan bakar dan kendaraan bermesin pembakaran untuk waktu yang lama,” ujar Middleton, dikutip dari Phys.org, Senin (20/7).

Penulis: Chairunisa

Load More