Lifestyle / Komunitas
Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00 WIB
Sampah Organik di Kota Depok Masih Menumpuk, Bisakah Maggot Menjadi Solusi? (Dok. Istimewa)
Baca 10 detik
  • Garudafood meresmikan fasilitas Rumah Maggot di Depok Jaya pada pekan ini untuk mengolah limbah dapur.
  • Program sejak 2024 di tujuh kelurahan ini telah mengelola seratus ton sampah dan menghasilkan sembilan ton maggot.
  • Pengolahan sampah organik rumah tangga ini berhasil mengurangi emisi karbon serta memberdayakan ekonomi masyarakat setempat.

Suara.com - Sampah organik masih menjadi salah satu penyumbang terbesar timbunan sampah rumah tangga di Indonesia. Ketika tidak dipilah dan diolah sejak dari sumbernya, sisa makanan dan limbah dapur akan berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA), menghasilkan emisi gas rumah kaca sekaligus mempercepat penuhya kapasitas tempat pembuangan sampah.

Di Kota Depok, salah satu pendekatan yang mulai dikembangkan untuk mengurangi persoalan tersebut adalah pengolahan sampah organik menggunakan larva lalat Black Soldier Fly (BSF) atau maggot. Salah satunya melalui Program Kampung Wirausaha Maggot yang dijalankan Garudafood sejak 2024.

Pekan ini, perusahaan tersebut meresmikan Rumah Maggot di Kelurahan Depok Jaya, Kecamatan Pancoran Mas. Fasilitas serupa sebelumnya telah dibangun di Kelurahan Jatijajar dan Sukmajaya sebagai bagian dari pengembangan pengelolaan sampah organik berbasis komunitas.

Hingga Juni 2026, program ini tercatat telah mengelola lebih dari 100 ton sampah organik rumah tangga. Dari jumlah tersebut dihasilkan sekitar 9,7 ton maggot BSF dan diperkirakan berkontribusi mengurangi emisi hingga sekitar 325 ton setara karbon dioksida (COe).

Ilustrasi Maggot (flickr.com/Conall)

Head of Corporate Communication and External Relations Garudafood, Dian Astriana, mengatakan program tersebut dirancang tidak hanya untuk mengurangi sampah organik, tetapi juga mendorong pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan yang memiliki nilai ekonomi.

Salah satu penerima manfaat, Hadijah, yang memimpin kelompok budidaya maggot di Depok Jaya, mengatakan kelompoknya memulai kegiatan dengan belajar dari kelompok lain yang lebih dulu menjalankan program serupa.

"Panen perdana kami menghasilkan sekitar 20 kilogram maggot. Yang paling terasa adalah sekarang warga mulai terbiasa membawa sampah organiknya ke sini, bukan lagi membuangnya begitu saja," katanya.

Rumah maggot menjadi tempat pengolahan sampah organik sekaligus budidaya lalat BSF. Larva maggot mengonsumsi sisa makanan rumah tangga, sementara lalat dewasa berkembang biak di ruang khusus sehingga siklus budidaya dapat berlangsung secara mandiri tanpa bergantung pada bibit dari luar.

Sejak dimulai pada 2024, program tersebut telah menjangkau tujuh kelurahan di Kota Depok, yakni Jatijajar, Sukmajaya, Depok Jaya, Limo, Meruyung, Tanah Baru, dan Jatimulya, dengan melibatkan lebih dari 60 kepala keluarga.

Baca Juga: Melihat Tempat Pengolahan Sampah Organik di Jakarta Timur

Selain membantu mengurangi volume sampah yang dikirim ke TPA, hasil budidaya maggot dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan dan unggas, sedangkan sisa penguraiannya diolah menjadi pupuk organik. Mereka menyatakan program ini akan terus diperluas sebagai bagian dari upaya mendorong pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat dan ekonomi sirkular.

Load More