Lifestyle / Komunitas
Selasa, 02 Juni 2026 | 15:30 WIB
Peserta mencacah sampah organik yang diolah menjadi ekoenzim dalam sesi pelatihan yang diadakan ITDC di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Senin (1/6/2026). ANTARA/HO-ITDC Nusa Dua
Baca 10 detik
  • ITDC mengadakan pelatihan pengolahan sampah organik menjadi ekoenzim bagi warga serta pedagang di Kelurahan Benoa, Nusa Dua.
  • Sebanyak 30 peserta mempelajari teknik fermentasi limbah rumah tangga untuk dijadikan pupuk alami dan pembersih ramah lingkungan.
  • Program ini bertujuan mengurangi volume sampah dari sumbernya serta mendukung keberlanjutan lingkungan di kawasan destinasi wisata Bali.

Suara.com - Persoalan sampah masih menjadi salah satu tantangan terbesar di Bali. Di tengah tingginya aktivitas pariwisata dan pertumbuhan penduduk, volume sampah terus meningkat, sementara kapasitas pengelolaannya masih menghadapi berbagai keterbatasan.

Sampah organik yang mendominasi timbulan sampah rumah tangga pun sering kali belum dimanfaatkan secara optimal dan berakhir di tempat pembuangan akhir.

Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga berpotensi memengaruhi kualitas destinasi wisata yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat Bali.

Untuk menjawab tantangan tersebut, PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (ITDC) menggelar pelatihan pengolahan sampah organik menjadi ekoenzim bagi warga Kelurahan Benoa dan pedagang di kawasan Nusa Dua.

Sebanyak 30 peserta mengikuti pelatihan yang mengajarkan cara mengolah limbah organik rumah tangga menjadi ekoenzim, cairan hasil fermentasi yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk alami maupun pembersih ramah lingkungan.

Vice President Commercial and Relation ITDC The Nusa Dua, Made Purnama Damayanti, mengatakan pengelolaan sampah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah atau pengelola kawasan wisata, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat.

"Kami berharap peserta tidak hanya memperoleh pemahaman baru, tetapi juga terdorong untuk menerapkan praktik ini secara konsisten dan membagikannya di lingkungan masing-masing," kata Damayanti seperti dikutip dari ANTARA, baru-baru ini. 

Melalui pelatihan tersebut, peserta belajar langsung mulai dari proses memilah dan mencacah sampah organik hingga mengolahnya menjadi ekoenzim. Program ini juga dilanjutkan dengan pendampingan selama dua bulan untuk memastikan praktik pengolahan sampah dapat diterapkan secara mandiri.

Menurut ITDC, pendekatan berbasis komunitas menjadi salah satu cara untuk mengurangi timbulan sampah dari sumbernya sekaligus membangun budaya pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan.

Baca Juga: Melihat Tempat Pengolahan Sampah Organik di Jakarta Timur

Di tengah upaya Bali menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pariwisata dan kelestarian lingkungan, pengolahan sampah organik skala rumah tangga seperti ini dinilai dapat menjadi langkah kecil yang berkontribusi pada solusi yang lebih besar. Dengan semakin banyak warga yang mampu mengolah sampahnya sendiri, tekanan terhadap sistem pengelolaan sampah di kawasan wisata diharapkan dapat berkurang.

Load More