Lifestyle / Komunitas
Jum'at, 24 Juli 2026 | 11:55 WIB
Pohon pepaya di Tani Kota Sejati-58 Kebagusan yang terserang virus sehingga pertumbuhannya terhambat (dok.Pribadi/Chairun Nisa)

Suara.com - Berkebun di tengah kota ternyata tidak sesederhana menanam benih lalu menunggu panen. Bagi anggota Tani Kota Sejati-58 Kebagusan, setiap tanaman melewati proses yang panjang. Terlebih, kebun ini berdiri di atas lahan yang dulunya menjadi tempat pembuangan sampah liar.

Andhi, penggerak Tani Kota Sejati-58 Kebagusan, menunjuk ke arah kebun yang kini dipenuhi tanaman sayur, pohon buah, dan kolam ikan. Sulit membayangkan, lahan yang tampak hijau itu pernah dipenuhi sampah rumah tangga.

Menurutnya, pekerjaan pertama yang mereka lakukan bukan menanam, melainkan memulihkan tanah.

"Kondisi tanahnya waktu itu parah banget. Musim panas kering pecah-pecah, kalau musim hujan lengket seperti lumpur," katanya.

Tanah yang bertahun-tahun menjadi tempat pembuangan sampah kehilangan kemampuannya menyerap air dan menyimpan unsur hara. Dampaknya baru mereka rasakan ketika mulai bercocok tanam.

Panen pertama tidak berjalan sesuai harapan. Tanaman tumbuh, tetapi kualitasnya belum optimal.

Dari situ, mereka mulai memahami bahwa memulihkan lahan membutuhkan waktu. Tanah dibenahi sedikit demi sedikit agar kembali layak menjadi media tanam.

Proses itu pun menyimpan kejutan. Saat menggali tanah untuk membuat kolam ikan, mereka masih menemukan barang-barang rumah tangga yang terkubur cukup dalam.

"Waktu bikin kolam, Pak Ali menemukan kasur Palembang. Padahal tanahnya sudah digali sekitar 50 sentimeter," ujar Andhi.

Baca Juga: Bansos Macet & Urban Farming Mati Suri, DPRD DKI Jakarta: Sistem Distribusi Pangan Harus Dirombak

Temuan tersebut menunjukkan bahwa sisa-sisa sampah masih tersimpan di bawah permukaan tanah meski telah bertahun-tahun tertimbun.

Belajar dari Panen yang Gagal

Setelah kondisi tanah mulai membaik, tantangan berikutnya datang dari hama. Andhi bercerita, mereka pernah menanam timun suri. Ketika buah mulai membesar, mereka sengaja menunda panen satu atau dua hari agar matang sempurna.

Namun, keesokan paginya hasil panen itu sudah lebih dulu dimakan tikus.

"Waktu itu kami pikir tinggal tunggu satu dua hari lagi. Besok paginya sudah dimakan tikus," katanya.

Pengalaman itu membuat mereka kembali mencari cara agar tanaman lebih terlindungi. Kegagalan panen menjadi bagian dari proses belajar mengelola kebun.

Load More