Suara.com - Banyak orang menganggap berkebun sebagai aktivitas yang membutuhkan lahan luas dan waktu luang yang melimpah. Bagi pekerja perkotaan yang disibukkan rutinitas harian, merawat tanaman sering kali dianggap sebagai hobi yang sulit dijalani secara konsisten.
Anggapan tersebut coba dipatahkan oleh Sendalu Permaculture, sebuah kebun keluarga yang berada di Sukmajaya, Depok. Melalui praktik yang mereka jalankan sejak 2017, Sendalu menunjukkan bahwa gaya hidup berkelanjutan dapat dimulai dari langkah sederhana dan tidak harus menghabiskan banyak waktu.
Inisiator Sendalu Permaculture, Gibran Tragari, mengatakan bahwa pengelolaan kebun seluas sekitar 500 meter persegi yang ia lakukan sehari-hari hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit pada pagi hari dan 10 menit pada sore hari.
Menurutnya, jika skala kebun diperkecil menjadi pekarangan rumah atau area tanam berukuran sekitar 2x2 meter, waktu yang dibutuhkan bahkan bisa berkurang menjadi sekitar lima menit per hari.
“Kalau lahannya kecil, waktu yang dibutuhkan juga jauh lebih sedikit. Yang penting konsisten,” ujar Gibran.
Ia menilai banyak orang terlalu fokus pada hasil akhir berupa tanaman yang tumbuh subur, padahal langkah paling penting justru dimulai dari pengolahan media tanam. Tanah di kawasan perkotaan umumnya telah mengalami penurunan kualitas sehingga perlu diperbaiki terlebih dahulu sebelum digunakan untuk berkebun.
“Kalau mau mulai, tidak harus langsung menanam banyak tanaman. Bisa mulai dari belajar membuat kompos atau memperbaiki tanah dulu,” katanya.
Selain menjadi ruang belajar tentang pertanian berkelanjutan, Sendalu juga mengembangkan model usaha yang disesuaikan dengan keterbatasan lahan perkotaan. Alih-alih berfokus pada produksi sayuran segar dalam jumlah besar, mereka memilih mengembangkan bisnis bibit tanaman.
Berbagai bibit herbal seperti mint, basil, oregano, hingga daun jinten menjadi produk utama yang dijual. Menurut Gibran, model tersebut lebih realistis untuk dijalankan di lahan terbatas sekaligus memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Baca Juga: Riset Global: Menata Ulang Kota Bisa Jadi Senjata Efektif Lawan Krisis Iklim, Bagaimana Bisa?
“Kalau sayuran segar harus bermain di kuantitas. Kami memilih menjual bibit karena lahannya tidak perlu besar, tetapi tetap bisa menopang keberlanjutan kebun,” jelasnya.
Bagi Gibran, berkebun sejatinya tidak jauh berbeda dengan memasak. Keduanya membutuhkan proses belajar dan tidak harus langsung berhasil pada percobaan pertama.
“Tidak semua orang pertama kali masak langsung enak. Berkebun juga begitu. Kalau terus mencoba, lama-lama pasti bisa,” ujarnya.
Melalui kelas dan pelatihan yang rutin digelar pada akhir pekan, Sendalu berharap semakin banyak warga kota berani memulai berkebun dari langkah kecil. Sebab menurut mereka, tantangan terbesar bukanlah keterbatasan lahan atau waktu, melainkan kemauan untuk meluangkan beberapa menit setiap hari demi merawat kehidupan yang tumbuh di sekitar rumah.
Penulis: Vicka Rumanti
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
- 3 HP Murah dengan Kamera Underwater Rp2 Jutaan, Cocok Buat Foto dan Video dalam Air
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Megawati Berpesan Agar Anak Muda Jangan Jadi 'Bangbong'
-
Optimistis terhadap BBRI, JPMorgan Tingkatkan Rekomendasi Saham Jadi Overweight
-
JPMorgan Naikkan Rating BBRI ke Overweight, Soroti Kuatnya Fundamental
-
PSIM Yogyakarta Fokus Perkuat Lini Tengah, Datangkan Gelandang Polandia Adrian Purzycki
-
Taman Rekreasi Indonesia Bersiap Naik Level, Pelaku Industri dari Berbagai Negara Hadir di Jakarta
-
Jelang Muktamar NU Ke-35, Mohammad Nuh Jawab Isu Penyanderaan SK PCNU
-
Aston Villa Dikabarkan Jajaki Transfer Alejandro Garnacho dari Chelsea
-
Korban Ketiga Ledakan Rumah Mewah di Medan Ditemukan, Total 3 Tewas
-
Persiapan KUR Perumahan, Menteri PKP Sebut Kinerja BRI Tertinggi Dalam Penyaluran Program
-
PSIM Yogyakarta Pertahankan Empat Pemain Asing untuk Hadapi Musim 2026/2027