Suara.com - Kebutuhan kayu sengon (Falcataria moluccana) terus meningkat untuk berbagai keperluan, mulai dari industri kayu ringan, chip, furnitur, peti kemas, hingga sumpit. Namun, kebutuhan bahan baku untuk pasar dalam negeri saja disebut belum sepenuhnya terpenuhi, sementara permintaan ekspor turut menambah tekanan.
Peneliti Ahli Utama Pusat Rekayasa Genetika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Ir. Enny Sudarmonowati, mengatakan kebutuhan sengon untuk industri masih tinggi.
"Pengguna sengon ini banyak sekali. Kebutuhan bahan baku untuk industri, seperti light wood, chip, furniture ringan, peti kemas, bahkan chopstick, sangat tinggi. Untuk kebutuhan dalam negeri saja masih kurang, apalagi untuk ekspor," kata Enny.
Sengon dikenal sebagai tanaman kehutanan yang tumbuh cepat dan merupakan sumber daya genetik asli Indonesia dengan persebaran alami di Maluku.
Selain untuk bahan baku industri, tanaman ini dapat dimanfaatkan dalam penghutanan kembali karena kemampuannya mengikat nitrogen yang membantu meningkatkan kesuburan tanah.
Namun, peningkatan produksi sengon menghadapi tantangan perubahan iklim. Kekeringan akibat keterbatasan air maupun genangan di lahan dengan drainase buruk dapat menghambat pertumbuhan tanaman.
Karena itu, BRIN mengembangkan sengon yang mampu bertahan pada dua kondisi ekstrem tersebut.
"Saat ini kita dituntut untuk menghasilkan benih unggul yang tahan terhadap perubahan iklim. Karena itu, kami mengembangkan sengon yang tahan kekeringan maupun tahan genangan," ujar Enny.
Kemampuan tersebut diharapkan membuat sengon dapat dikembangkan di wilayah dengan kondisi lahan yang berbeda, termasuk lahan marginal yang mengalami keterbatasan air maupun kawasan yang rentan tergenang.
Mencari Sengon Unggul dari Berbagai Daerah
Untuk menemukan karakter tersebut, peneliti BRIN memanfaatkan sumber daya genetik sengon dari berbagai wilayah Indonesia. Benih dari sejumlah provenance atau asal-usul geografis kemudian ditanam dan diteliti untuk menemukan individu dengan karakter unggul.
Dalam pemuliaan tanaman kehutanan, individu dengan karakter terbaik disebut pohon plus.
Enny mengatakan pemilihan pohon plus untuk kebutuhan kayu mempertimbangkan sejumlah karakter, seperti bentuk batang, diameter, serta ketahanan terhadap hama dan penyakit.
"Karena ini untuk kayu, pohon plus itu yang batangnya lurus, batas bebas cabangnya tinggi, diameternya besar, serta memiliki ketahanan terhadap hama dan penyakit," katanya.
Penelitian juga tidak berhenti pada pengamatan apakah tanaman mampu bertahan dalam kondisi kekeringan atau genangan. BRIN menggunakan pendekatan bioteknologi untuk mempelajari mekanisme biologis yang mendukung kemampuan tersebut.
"Penelitian ini tidak hanya melihat apakah tanaman tahan kekeringan atau tahan genangan, tetapi juga didukung dengan data dan informasi biologis, termasuk ekspresi gen dan gen-gen yang berperan dalam mengatur ketahanan terhadap kekeringan," ujar Enny.
Pendekatan tersebut melengkapi pemuliaan tanaman secara konvensional yang membutuhkan waktu panjang untuk menemukan berbagai karakter unggul.
Dari Laboratorium ke Sumber Benih
Meski telah menemukan sengon dengan karakter yang diinginkan, hasil penelitian belum bisa langsung digunakan sebagai sumber benih dalam skala luas.
BRIN masih membutuhkan mitra yang memiliki kapasitas dalam perbenihan untuk memperbanyak tanaman unggul tersebut menjadi pohon indukan dan sumber benih.
"BRIN tidak bisa memperbanyak sendiri karena kami juga harus melanjutkan penelitian. Harapannya, hasil sengon unggul yang kami serahkan dapat diperbanyak menjadi pohon indukan dan selanjutnya menjadi sumber benih," kata Enny.
Pengembangan juga akan terus dipantau. Ketahanan terhadap kekeringan dan genangan bukan berarti seluruh karakter unggul tanaman telah diketahui.
"Yang sudah kami ketahui saat ini adalah tahan genangan dan tahan kekeringan, tetapi mungkin ada sifat unggul lainnya yang bisa ditemukan, seperti tahan penyakit, tahan hama, atau karakter kayu yang lebih baik," ujarnya.
Dengan demikian, pengembangan sengon tidak berhenti pada menemukan tanaman yang mampu bertahan dalam kondisi ekstrem. Hasil riset masih perlu melalui tahapan perbanyakan, pengembangan sumber benih, pemantauan, dan sertifikasi agar dapat dimanfaatkan lebih luas.
Penulis: Chairunisa