Menembus Medan Flores, Menemukan Semangat Belajar Anak-anak di Pedalaman

Jum'at, 23 Oktober 2026 | 18:15 WIB
Menembus Medan Flores, Menemukan Semangat Belajar Anak-anak di Pedalaman (Dok. Istimewa)
BACA 10 DETIK
  • Irjen Jayadi mendatangi 16 sekolah di pedalaman Kabupaten Nagekeo bersama NYATA Foundation pada 21-27 September 2026.
  • Kunjungan tersebut dilakukan di tengah dampak gempa bumi untuk melihat langsung kondisi pendidikan anak-anak dan guru.
  • Hasil kunjungan menunjukkan bahwa keterbatasan fasilitas tidak menyurutkan potensi besar anak-anak pedalaman untuk terus berkembang.

Suara.com - Tidak semua perjalanan berakhir dengan foto dan cerita tentang tempat yang dikunjungi. Ada pula perjalanan yang justru meninggalkan pertanyaan dan membuat seseorang melihat persoalan dari sudut pandang berbeda.

Hal itulah yang dirasakan Irjen Jayadi setelah mengikuti perjalanan bersama NYATA Foundation ke Kabupaten Nagekeo, Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 21-27 September 2026.

Perjalanan tersebut menjadi kesempatan bagi Irjen Jayadi untuk melihat lebih dekat kehidupan anak-anak dan para guru di sejumlah sekolah yang berada di wilayah pedalaman. 

Bersama NYATA Foundation, ia ikut mengunjungi 11 sekolah yang selama ini telah mendapatkan pendampingan, sekaligus melihat lima sekolah lain yang berpotensi menjadi bagian dari program berikutnya.

Kunjungan itu dilakukan ketika sejumlah wilayah di Flores masih menghadapi dampak gempa dan gempa susulan. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan langkah Irjen Jayadi untuk tetap berangkat dan melihat sendiri bagaimana masyarakat menjalani aktivitas sehari-hari.

Sebagai seorang endurance runner yang terbiasa menghadapi perjalanan panjang dan medan berat, ia awalnya merasa cukup siap mengikuti perjalanan menuju sekolah-sekolah tersebut. Namun, pengalaman di lapangan justru memberinya perspektif baru.

“Ada satu momen ketika saya mencoba mengikuti rute dan ritme perjalanan mereka menuju sekolah. Sebagai endurance runner, saya terbiasa menghadapi medan yang menantang dan perjalanan panjang. Namun, perjalanan mereka benar-benar membuat saya tersadar; saya sendiri harus beberapa kali berhenti di perjalanan,” ujar Irjen Jayadi.

Menurutnya, perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa tantangan yang dihadapi anak-anak di daerah bukan sekadar persoalan jarak. Untuk sampai ke sekolah dan mendapatkan kesempatan belajar, sebagian dari mereka harus melewati kondisi yang tidak mudah.

Namun, keterbatasan itu tidak lantas membuat mereka kehilangan keinginan untuk berkembang. Justru di tengah berbagai tantangan tersebut, ada anak-anak dengan kemampuan dan minat yang beragam. 

Ada yang menunjukkan prestasi akademik, sementara lainnya memiliki potensi di bidang olahraga dan keterampilan lain.

Nicole Oeij Teng dan Pamela Berliana, selaku Co-Founders NYATA Foundation, melihat potensi tersebut sebagai sesuatu yang perlu mendapatkan ruang untuk berkembang.

“Kami menemukan begitu banyak anak dengan keterampilan dan potensi luar biasa, mulai dari bidang akademik hingga olahraga. Tantangannya adalah bagaimana mereka bisa mendapatkan akses dan ruang yang memadai untuk terus mengembangkan bakat-bakat tersebut,” ujar mereka.

Pengalaman tersebut juga memperlihatkan bahwa persoalan pendidikan tidak selalu bisa dilihat hanya dari angka atau data. Di balik keterbatasan fasilitas, akses yang belum memadai, serta jumlah tenaga pendidik yang masih terbatas, terdapat anak-anak yang memiliki keinginan untuk belajar dan membangun masa depan.

Dari Flores, percakapan mengenai pendidikan kemudian berkembang menjadi pembicaraan yang lebih luas tentang kolaborasi. 

Program bertajuk “From Flores With Purpose” menjadi bagian dari upaya membawa pengalaman dari perjalanan tersebut ke ruang yang lebih luas, sekaligus membuka peluang bagi lebih banyak pihak untuk terlibat.

Sebab, memberikan kesempatan kepada anak untuk berkembang tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, langkah pertama justru dimulai dari kemauan untuk datang, melihat lebih dekat, mendengarkan cerita mereka, lalu memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan.

Perjalanan ke Flores pun akhirnya bukan hanya tentang melihat keterbatasan. Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa di tempat-tempat yang mungkin jarang terlihat dari jauh, ada anak-anak dengan potensi besar yang sedang menunggu kesempatan untuk berkembang.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com